213PALEMBANG,HS – Datangnya bencana memang kerap kali tidak bisa diprediksi dalam setiap daerah. Hal inilah yang membuat semua kalangan baik itu masyarakat, instansi pemerintah dan hingga lingkungan pendidikan harus memiliki keahlian dan kemampuan dalam meminimalisir dampak bencana tersebut.

Seperti yang dilakukan oleh Badan Sars Nasional (Basarnas) bersama STISIPOL Candradimuka membuat pelatihan gabungan SARS se Sumsel. Sebanyak 100 peserta yang terdiri dari kalangan mahasiswa pencita alam (MAPALA) dan siswa sekolah mendapatkan materi mengenai penangan bencana alam, rabu (9/11).

Ketua STISIPOL Candradimuka Dr. Hj. Lishapsari Prihatini, M.Si menguraikan dengan pelatihan SARS bagi MAPALA se Sumsel diharapkan mampu dijadikan wadah dalam menghasilkan tenaga relawan yang sigap becana. Apalagi menurutnya, bentuk pelatihan Sars seperti sangatlah jarang, sehingga diharapkan dapat dimanfaatkan dengan betul olah setiap peserta.

“ Mungkin ini yang pertama di Sumsel untuk tingkat perguruan tinggi kita bangga bisa menjadi yang pertama menyelengarakannya. Semoga pelatihan yang didapat dapat memberikan manfaat besar bagi peserta kedepannya,”tukasnya.
Sementara itu, Tidak bisa dipungkiri, potensi masalah bencana alam di provinsi Sumsel masih tetap menghantui beberapa kabupaten/kota. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah relawan aktif yang bisa mengantisipasi hal tersebut,” ujar Kepala bidang operasional Basarna Sumsel, Inarwan.

Beberapa daerah seperti Oku selatan, Pagar Alam, Lahat dan daerah lainnya memiliki potensi bencana alam seperti masalah banjir bandang dan tanah longsor. Rawannya bencana di tiap tempat inilah mengharuskan masyarakat khususnya mahasiswa harus memiliki kemampuan bidang SAR.

“ Peran relawan seperti kalangan Mahasiswa sangat dibutuhkan dalam mengatasi masalah bencana alam yang ada. Diharapkan dengan berpartisipasi mereka nantinya dapat membantu mengurangi dampak bencana,” jelasnya.

Salah satu bentuk materi yang diberikan, meliputi penangan pertama atau medical first responses (MFR), dimana para peserta akan diajarkan bagaimana tata cara penangannya. Mulai dari adanya luka patah tulang, ataupun keadaan orang tenggelam karena bencana, bisa diberikan penangan diawal sebelum dibawah kerumah sakit.

“ Materi lainnya menyangkut cuaca, seperti bagaimana penyelamatan dipermukaan air dan pertolongannya. Seperti dengan memberikan teknik to and care (bagaimana mendekat dan merangkul) korban bencana alam,” jelasnya.

Pihaknya pun menargetkan, apabila terjadi bencana, mereka yang telah mengikuti kegiatan ini dijamin sudah siap untuk turun langsung mengatasi masalah yang ada. “ Diharapkan dengan pelatihan ini, para peserta dapat memberikan kontribusi positif kedepannya, terutama saat mengatasi permasalahan bencana alam di berbagai daerah di Sumsel.

“Kebutuhan akan relawan seperti mereka inilah sangat kita perlukan di dalam mengatasi bencana tiap daerah, ,”pungkasnya (Hsn).