PALEMBANG,HS – Berdasarkan data dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) hotspot atau titik panas terpantau di Sumsel pada Kamis, 14 September mencapai 42 titik. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan Rabu, 13 September 2017 dimana hanya terpantau 15 titik.

Pelaksana tugas (Plt) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Iriansyah mengakui hal tersebut. Namun, jumlah ini terkadang fluktuatif, kadang berkurang dan kadang juga bertambah. 41 titik ini yakni berada di Kabupaten Empat Lawang satu titik, Kabupaten Musi Banyuasin satu titik, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) satu titik, Kabupaten Lahat dua titik, Kabupaten Musi Rawas Utara empat titik, Kabupaten Banyuasin lima titik, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan enam titik, Kabupaten Muara Enim tujuh titik, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) tujuh titik, Kabupaten Ogan Ilir (OI) delapan titik.

“Ini adalah titik hotspot dimana belum tentu titik api karena harus dipastikan dahulu ke lokasi,” katanya.

Dalam upaya pemadaman sendiri pihaknya menurunkan empat helikopter untuk melakukan waterboombing, ke empat helikopter tersebut dirasakan masih kurang. Meskipun begitu pihaknya terus memaksimalkan helikopter yang ada dahulu sembari menunggu bantuan helikopter tambahan dari Badan Nasional Penanggulanan Bencana (BNPB).

“Kami belum tahu berapa banyak nantinya bantuan tambahan ini karena saat ini setiap daerah di Indonesia juga kekurangan helikopter jadi bukan hanya di Sumsel saja,” ujarnya.

Ia mengaku belum mengetahui berapa luas lahan yang terbakar saat ini karena pihaknya hanya fokus untuk melakukan pemadaman saja. Meskipun begitu, pihaknya berharap masyarakat jangan ada yang membuka lahan dengan cara membakar. “Jangan lah membakar karena bukan hanya kami yang susah tetapi juga bisa berdampak pada kabut asap dan kesehatan masyarakat,” harapnya.

Seperti diketahui Karhutla kembali terjadi di Sumsel. Bahkan, salah satu Kabupaten Muara Enim tepatnya di daerah Muara Belida, Karhutla tak kunjung padam sejak Rabu kemarin, 13 September 2017. Hal ini dikarenakan kondisi lahan gambut didaerah tersebut. (MDN)