PALEMBANG,HS – Dinas Perdagangan Provinsi Sumatera Selatan akan terus memantau Distributor agar tidak bertindak curang menjelang bulan suci Ramadan dan Idul Fitri,

“Ya, Jangan terjadi lonjakan harga sembako yang drastis, utamanya di hari besar keagamaan,”ujar Kepala Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel, Agus Yudiantoro saat ditemui di ruang kerjanya, kamis (30/3).

Ia menambahkan, Untuk itu pihaknya meminta distributor menambah stok, itu kan bisa distributor bisa mengukur sendiri stoknya berapa, bagaimana permintaan di pasar Sehingga, kedepan distributor menjadi peran penting dalam nenentukan harga di pasar.

“Distributor harus mengetahui detail kondisi ketersediaan di pasar, kalau kurang stoknya ditambah, distributornya jangan nakal,”katanya.

Harapannya, tak terjadi lagi, dan kembali berulang lonjakan harga yang membuat susah masyarakat.

“Jangan jadi kebiasaan kenaikan harga biasa jelang hari besar alasannya, tak boleh lagi itu. Jelang lebaran jangan naik,”ulas dia.

Ia menambahkan, kedepannya bagaimana harus menghindari jangan ada lonjakan harga sembako, itu program kita kedepan, ini perintah dari pak gubernur. Bahkan, akui Agus, ada ancaman untuk perizinan distributor dicabut.

Sanksi tegas tersebut, diinginkan agar distributor berperan aktif dalam mengatasi lonjakan harga dipasar.

“Menteri perdagangan saat ini sangat keras, kalau ada nakal maka izin distributor akan dicabut. Karena penilaian itu ada di dinas perdagangan provinsi Sumsel,”ulasnya.

Salah satu yang dipantau oleh dinas perdagangan provinsi Sumsel, jelang hari besar keagamanan yakni fluktuasi hargha daging sapi. Saat ini, akui Agus, daging sapi di harga Rp 120 ribu per kilogram, belum ada lonjakan di pasar.

Pantauan Dinas Perdagangan Provinsi Sumsel, sejumlah sembako mengalami penurunan harga saat ini. Seperti, beras asalan dari Rp 9.000 per kilogram menjadi Rp 8.750 per kilogram, lalu minyak goreng Bimoli dari Rp 13.500 per kilogram menjadi Rp 13.000 per kilogram.

Ada juga cabai merah besar dari Rp 36.500 per kilogram menjadi Rp 13.000 per kilogram, cabai rawit hijau dari Rp 53.350 per kilogram menjadi Rp 46.700 per kilogram serta bawang merah dari Rp 42.000 per kilogram menjadi Rp 39.500 per kilogram.

Selain ada beberapa sembako mengalami penurunan harga, ada juga yang mengalami kenaikan harga, meski tipis. Yakni, minyak gorenf curah tanpa merek dari Rp 11.700 per kilogram menjadi Rp 11.900 per kilogram dan bawang putih dari Rp 37.300 per kilogram menjadi Rop 38.300 per kikogram.

Kenaikan harga tersebut, akui Agus, terjadi karena hukum dagang, banyak yang membeli namun stoknya sedikit sehingga harga barang menjadi naik. “Untuk bawang putih, karena pasokannya saat ini agak berkurang,”ujar dia.

Terlepas dari fluktuasi harga tersebut, dinas perdagangan memastikan stok atau ketahanan pangan untuk Sumsel diyakini masih aman. Seperti, kata dia, untuk beras ketahanan pangannya hingga 3 bulan kedepan.

Selain beras, kata di, minyak goreng dan gula juga surplus karena memang pabriknya ada disini.

“Untuk cabai, bawang itu stoknya memang per hari (dikirim ke pasar,red), namun stoknya masih aman,” jelasnya (MDN)