Aini mendapat perawatan di RSUD Talang Ubi bersama Nenek Samsiah.

Aini mendapat perawatan di RSUD Talang Ubi bersama Nenek Samsiah.

PALI, HS – Nuraini, warga gang Pelita Kelurahan Talang Ubi Timur Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI terpaksa tak bisa menikmati manisnya masa remaja akibat mengalami keterbelakangan mental. Sehingga pihak keluarganya pun mengurung gadis yang baru berusia 14 tahun itu.

Sudah bertahun-tahun perempuan yang kerap disapa Aini itu hidup terkurung di sebuah pondok yang jauh dari kata layak tanpa mengenakan sehelai baju pun.

Keterbelakangan yang dialami Aini, bukan tidak tanpa asal, melainkan akibat kemiskinan yang membelenggu keluarganya. Diperparah lagi, ibu kandungnya meninggal dunia saat dia berusia 1,5 tahun.

Keterangan itu didapat dari nenek Aini bernama Samsiah (60) yang kesehariannya bekerja sebagai pemulung.

Nenek yang mengaku mempunyai lima anak itu menceritakan penyebab Aini menjadi seperti ini.

Menurut Samsiah, sejak ibu Aini meninggal, dirinya diserahkan ayah Aini untuk merawatnya, saat itulah Aini hidup bersama Samsiah. Ketika Aini masih kecil, sering mengalami kejang-kejang, namun akibat ketiadaan biaya, Aini dibiarkan dengan hanya diobati alakadarnya hingga saat ini Aini tidak bisa berjalan bahkan juga tidak bisa bicara.

Awal Aini dikurung, Samsiah menceritakan bahwa cucunya tersebut tidak bisa bergaul dengan teman sebayanya, karena sering memukul dan menggigit teman-temannya. Samsiah juga merasa tidak enak dengan tetangga-tetangganya akibat Aini tidak mau memakai baju serta sering buang air sembarangan.

Dari situlah alasan Samsiah mengurung Aini di sebuah pondok belakang rumahnya agar Aini tidak mengganggu orang sekitar, juga karena Samsiah tidak sanggup mengawasi cucunya terus menerus karena dirinya harus mencari makan dengan cara mengumpulkan barang bekas.

Setelah hampir empat tahun Aini terkurung, tidak sengaja ada rombongan dari Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga (PUBM) PALI mengecek pembangunan jalan di daerah tersebut, Senin siang (21/11) dan melihat Aini berada disebuah pondok yang berukuran kurang lebih 3 meter X 3 meter. Kemudian rombongan PUBM tersebut menghubungi Lurah setempat dan langsung membawanya ke RSUD Talang Ubi.

“Ayahnya saat ini bekerja jadi kuli bangunan di Kecamatan Tanah Abang, dan hampir empat bulan belum pulang-pulang. Aini tinggal di pondok sendirian dan enggan memakai baju, serta kalau dimandikan pasti kejang-kejang, jadi Aini jarang dimandikan,” ucap Samsiah ketika dijumpai di ruang rawat inap RSUD Talang Ubi, Senin malam (21/11).

Samsiah mengaku Aini sama sekali tidak mau memakai baju, kalau pun diberi baju, pasti dibuang atau disobek-sobek.

“Bukan tidak dirawat, hanya Aini itu tidak mau makai baju dan kalau kena air langsung kejang. Kalau makan, rutin aku beri, meskipun penghasilan aku hanya dari memulung. Kesulitan aku adalah tidak ada biaya untuk mengobati cucu aku, kalau diobati mungkin saja bisa sembuh,” sambungnya.

Pernah ada bantuan dari Camat Talang Ubi, lanjut Samsiah, tetapi hanya pemberian makanan dan pakaian, kalau untuk berobat baru kali ini Aini ada yang ngajak masuk rumah sakit.

“Aku tidak pungkiri bantuan sesekali datang, tapi hanya makanan dan pakaian, serta pernah mantan Camat beri kami uang, kemudian aku buatkan pondok untuk Aini. Dan tadi ada pak Camat baru datang menengok Aini,beliau berjanji akan mengobati cucu aku ini,mudah-mudahan saja pak Camat itu benar-benar mau mengobati,” katanya penuh harap.

Sementara itu, salah satu perawat yang menangani Aini mengatakan bahwa dirinya tidak bisa memastikan keterbelakangan Aini bisa sembuh.

“Saya tidak bisa memastikan Aini bisa sembuh normal, karena sudah terlambat penanganannya. Tapi untuk lebih jelasnya tunggu dokter spesialis yang datang besok pagi,” jelas perawat yang tidak bersedia ditulis namanya itu. (MAN)