PALEMBANG,HS – Angka kemiskinan di Sumsel masih dibawah angka nasional yang telah ditetapkan pemerintah pusat. Demikian diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, Yos Rusdiansyah,Senin (6/2),
Dikatakannya, saat ini angka rata-rata nasional yakni sebesar 10 persen sedangkan untuk angka kemiskinan di Sumsel  pada tahun 2016 yakni sebesar 13,54 sampai dengan November lalu. Artinya, dari total jumlah penduduk sekitar 8,3 juta, orang miskin di Sumsel yakni sampai dengan September sekitar 1 juta orang.
“Ini berdasarkan data yang berhasil kami himpun sampai dengan September dan November, sedangkan untuk Desember masih tengah di data,” katanya.
Dijelaskannya, kemiskinan ini diukur berdasarkan beberapa komponen seperti pengeluaran per orang per bulannya, makanan  serta komponen non makanan. Untuk komponen pengeluaran sendiri, Yos menjelaskan, batas pengeluaran per orang per bulannya yakni sebesar Rp 361 ribu. Artinya, jika pengeluaran tersebut kurang dari batas maka terkategori miskin, begitu pun sebaliknya, jika diatas batas maka bukan terkategori miskin.
“Jika suatu keluarga maka satu orang itu pengeluarannya baik makan, minum dan lain sebagainya itu di bawah batas pengeluaran yang telah ditetapkan maka keluarga ini terkategori miskin,” paparnya.
Selain itu, sambung Yos, untuk komponen kalori sendiri, batas yang telah ditetapkan yakni sebesar 2100 kalori. Artinya, jika makanan yang dikonsumsi per orang itu bawah 2100 kalori maka ini termasuk ke dalam kemiskinan. Sedangkan untuk komponen non makanan sendiri itu dinilai dari seperti pengeluaran untuk berobat dan lain sebagainya.
“Dari faktor ini lah maka kami dapat menetapkan jumlah kemiskinan yang ada di Sumsel,” tegasnya.
Disinggung apakah angka kemiskinan mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dirinya mengakui secara tidak langsung memang bersinergi. Hal ini dikarenakan, jika IPM suatu daerah baik maka angka kemiskinan pun akan berkurang. Mengingat faktor yang mempengaruhi IPM tersebut yakni pendidikan dan lain sebagainya.
“Jika pendidikannya bagus maka lebih besar kesempatan untuk meraih kerja yang baik sehingga dapat keluar dari angka kemiskinan,” tandasnya. (MDN)