PALEMBANG,HS – Momen tahun baru Imlek di Pulau Kemarau, Sumatera Selatan, dimanfaatkan oleh Aswari Riva’i untuk menyapa dan berbaur dengan masyarakat Konghucu. Menurut Aswari Riva’i yang merupakan calon Gubernur Sumsel periode 2018-2023 keberagaman ini menjadi warna dalam kehidupan yang harus dijaga bersama-sama.

Rutinitas tahunan yang dilakukan warga keturunan di Pulau Kemarau Palembang merupakan budaya masyarakat Konghucu sejak puluhan tahun silam. Meski lumrah terjadi, tapi perayaan Cap Go Meh di delta berjarak 6 kilometer dari Kota Palembang itu tetap menarik perhatian.

Aswari Riva’i berjalan santai mengelilingi pulau kemarau yang dipadati ribuan masyarakat yang berkunjung di pulau ini pada malam cap go meh 2018 yang dilakukan Rabu, (28/02/2018) semalam. Aswari menyapa warga dengan sumringah disambut antusias masyarakat yang ada.

Warga juga tak segan untuk berfoto bersama calon gubernur Sumatera Selatan tersebut tanpa kecanggungan. Aswari berharap, hal ini terus dijaga kelestariannya karena menjadi warna dan daya tarik bagi wisatawan.

“Kita disini untuk menyapa warga yang sedang merayakan cap go meh di Pulau Kemarau. Perbedaan jangan dijadikan penghalang bagi kita, jadikan ini bentuk keberagaman suku. Kita rangkul semua agar tetap terjaga dan harmonis antar suku dan budayanya,” ucap Aswari Riva’i.

Sekadar diketahui, Pulau yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Kota Palembang. Hal ini menjadi tempat berdirinya vihara Cina, Klenteng Hok Tjing Rio yang dibangun tahun 1962 yakni suatu tempat untuk berdoa yang diyakini oleh warga Konghucu.

Disini juga terdapat pohon cinta yang diyakini sebagai pohon jodoh. Jika ada pasangan yang berkunjung ke Pulau Kemarau hubungannya diyakini akan awet sampai akhir hayat.