untuk web

PALEMBANG, HALUAN SUMATERA –  .Kelompok paham radikalisme dan terorisme saat ini mulai menyasar para kalangan anak-anak dan terpelajar. Paham ini merasuki kalangan muda lantaran adanya kesalahan dalam pemikiran dan pemahaman tentang -nilainilai ideologi keagamaan.

Sekretaris Forum koordinasi pencegahan terorisme (FKPT) Provinsi Sumatera Selatan Feriansyah saat kegiatan dialog pelibatan Dai pada program Islam Damai Untuk Pencegahan Paham Radikal dan Terorisme di Provinsi Sumatera Selatan di Gedung Grand Atyasa. Kamis (18/8).

Feri menambahkan, untuk saat ini banyak para remaja sebagai target utama dari paham radikalisme dan terorisme, terlebih mahasiswa yang berada di lingkungan Perguruan Tinggi Negeri atau umum yang secara ideologis labil.

“Data hasil penelitian kita pada 2014 menunjukkan memang terjadi peningkatan paham radikal ini di 3 Perguruan Tinggi Negeri di Sumsel,” katanya.

Ujar Feri, peningkatan ini sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, karena di Sumsel sebenarnya hampir tidak terjadi gerakan sporadis yang mengarah pada aksi terorisme. Meski hal tersebut tetap harus diwaspadai, karena terjadi pergeseran pola pemikiran dan pemahaman dalam tindakan beragama dan aplikasinya pada ideologi pemikiran.

“Baru sebatas pemikiran saja. Dan alhamdulillah di Sumsel ini aman. Tapi kita tetap melakukan pencegahan karena itulah tugas kami,” ucapnya.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigadir Jenderal Polisi Drs Hamidin menyampaikan, bahwa kelompok radikalisme dan terorisme selalu menjadi ancaman untuk Indonesia, karena Indonesia menyimpan sejarah kelam pertumbuhan kelompok-kelompok berhaluan keras, seperti DI, NII dan kemudian JI. Khusus untuk JI (Jamaah Islamiyah), kelompok ini memiliki afiliasi dengan Al Qaedah.

“Ancaman terorisme muncul dalam wajah ISIS, kelompok yang mendaku diri sebagai pemegang Islam yang sesungguhnya itu melakukan berbagai cara termasuk bujuk rayu dan propaganda agar masyarakat mau bergabung dan kemudian melakukan aksi kekerasan,” ungkap Hamidin.

Adapun persoalan ekonomi dan kesenjangan sosial kerap menjadi alasan utama bagi sebagian orang untuk bergabung dengan kelompok terorisme seperti ISIS. Mereka mengira bahwa ISIS benar-benar akan mencukupi kebutuhan hidup mereka seperti yang dijanjikan,

“Di saat mereka sampai di Irak dan Suriah, kehidupan mereka nyatanya malah semakin sengsara,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan terorisme dan Islam sering kali dikait-kaitkan. Padahal, tidak ada hubungan sama sekali antara Islam dan terorisme.

“Kita semua juga tidak rela kalau Islam selalu dikait-kaitkan dengan terorisme, apalagi saya sendiri adalah muslim. Tetapi terorisme yang terjadi saat ini memang selalu menggunakan simbol-simbol Islam, tujuannya agar masyarakat mengira bahwa terorisme adalah bagian dari ajaran Islam. Dan ini yang harus kita lawan bersama,” ia mengatakan.

Sementara itu, Profesor Syahrin Harahap MA kepada HALUAN SUMATERA menyebutkan, tidak mengherankan jika sejarah mencatat sekian banyak perbuatan baik yang dilakukan atau melakukannya atas nama agama.

“Sayangnya sejarah kelam kemanusian juga banyak terjadi karena alasan keagamaan. Tengoklah pembunuhan, perang, penistaan, kemanusiaan atau sejumlah prilaku buruk sering dikaitkan secara langsung dengan agama. Dengan dalih membela atau mempertahankan kemurnian ddari keyakinan agamanya,” tutur Syahrin.

Ia mengatakan, melihat realitas yang ada, penafsiran atas teks-teks keagamaan telah memengaruhi secara kuat cara berpikir dan bertindak masyarakat. Alasanya sederhana. Bahwas pemahaman yang lahir dari penafsiran itu, merupakan indkes pentinfg tentang cara berpikir.

“Selanjutnya menjadi entry point yang melahirkan tindakan, benturan keyakinan dan berimbas pada tindakan menjadi tidak terelakkan,” katanya. (DJA)