karhutlah
PALEMBANG, HALUAN SUMATERA –   Badan Restorasi Gambut (BRG) Indonesia menggelar kegiatan sosialisasi mengenai program restorasi gambut serta melakukan penandatanganan nota kesepahaman kerjasama restorasi gambut dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan antar tim restorasi gambut provinsi Sumatera Selatan.

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Gubernur Sumsel, H. Alex Noerdin juga dihadiri Sekretaris BRG, Hartono Prawira Atmaja,Pangdam Kodam II Sriwijaya, Mayor Jenderal TNI Sudirman, Bupati Banyuasin, Yan Anton Ferdian dan Ogan Ilir, Ilyas Panji Alam serta perwakilan kabupaten Musi Banyuasin, OKI, Muara Enim dan Musi Rawas.

Pangdam Kodam II/Sriwijaya, Mayor Jenderal TNI Sudirman menyampaikan apresiasinya atas terwujudnya MoU tersebut dan kepercayaan pemerintah serta masyarakat kepada pangdam II Sriwijaya.

“Penandatanganan MoU ini sangat penting untuk memahami peran kedua pihak agar pelaksanaan restorasi lahan gambut tidak menyimpang,” ucapnya.

Ditambahkanya, Sumsel merupakan provinsi yang sering mengalami kebakaran hutan dan lahan ketika memasuki musim kemarau. “Lahan gambut yang rawan terbakar saat kemarau yakni kabupaten OKI , Muba, Banyuasin dan Musi Rawas,” ungkapnya.

Sudirman mengatakan tidak hanya badan restorasi gambut, pemerintah dan TNI saja dalam mengatasi karhutla tetapi juga butuh dukungan dari semua pihak. “Kita semua terlibat dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan ini,” ajaknya.

Ditegaskan Sudirman, Kodam II Sriwijaya siap mendukung baik secara personil maupun materil dan pelaksanaan restorasi gambut.

“Semoga kerjasama ini dapat berjalan dengan lancar dan positif bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris BRG Indonesia, Hartono Prawira Atmaja mengatakan untuk tahun 2016 lebih difokuskan pada kegiatan sosialisasi. “Restorasi gambut itu perlu perencanaan, tidak bisa sembarang kecuali quick respon seperti pembuatan kanal blocking. Jadi 2017 baru mulai direstorasi,” ungkap Hartono usai pembukaan sosialisasi restorasi gambut di hotel Aryaduta, Selasa (9/8).

Menurutnya, lahan gambut yang ada saat ini memang kondisinya sudah dimanfaatkan sehingga terjadi pengeringan. “Ini yang nantinya akan kita lakukan bersama-sama dengan pemangku daerah sehingga kemungkinan terjadinya kebakaran bisa kita kurangi,” ujarnya.

Dari dua juta hektar lahan gambut yang ditugaskan oleh Presiden Joko Widodo, dikatakan Hartono, diantaranya 1,2 juta hektar dikelola di bawah konsensi baik itu hutan kawasan industri maupun perkebunan sawit.

Dijelaskan Hartono, untuk melakukan restorasi pada lahan gambut pertama akan dilakukan indentifikasi beberapa kawasan yang rawan terbakar. “Kemarin sudah terjadi pengeringan dan nanti 2017 akan kita lakukan kanal blocking agar terjadi pembasahan pada kawasan tersebut. Kemudian langkah kedua akan kita lakukan antisipasi dengan menggunakan agent bio organisme,” jelasnya.

Ditambakannya, pada 2017 anggaran yang disiapkan oleh pemerintah pusat untuk restorasi gambut sebesar 1,2 triliun. “Restorasi ini lebih diprioritaskan di Sumsel, Riau dan Kalimantan tengah,” katanya.

Sementara itu, Alex Noerdin menyampaikan rasa bangganya terhadap tim restorasi gambut Sumsel yang telah bekerja dan berjibaku tanpa lelah untuk mengatasi karhutla.

“Saat ini cuaca panas sudah kita rasakan, kemarin sudah mencapai 42 derajat celcius,” katanya.

Untuk menyikapi perubahan iklim, sambung Alex Noerdin, Sumsel mendapatkan bantuan langsung paling tidak dari tiga negara dan sering diundang dalam forum internasional untuk memberikan penjelasan mengenai persoalan karhutla. (and)