PALEMBANG, HS – Dialog interaktif Kebhinekaan dan Kebangsaan bertemakan “Bangkit Bersatu Menjaga Kebhinekaan dan Keutuhan NKRI Berdasarkan Pancasila untuk Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat Indonesia“ yang digelar oleh Pemuda NKRI di aula gedung DPRD Sumsel berlangsung sukses.

Berbagai masukan dari narasumber yang hadir seperti Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Sumsel, H MC Baryadi, anggota DPR RI asal Sumsel, Siska Marleni dan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Prof dr Amin Suyitno diberikan kepada para peserta dialog.

Dalam kesempatan tersebut Baryadi menyampaikan, berbagai kesulitan kini tengah dihadapi oleh bangsa kita. Pertama tentang APBN. Dulu jaman Soeharto APBN itu 80% nya dari migas, sisanya dari non migas.

“Nah ada Presiden yang satu ini malah 80% dari pajak, sedangkan isi perut bumi Indonesia sudah milik asing. Karena Indonesia sudah tidak memiliki kekayaan secara maksimal lagi. Negara kita kaya tapi rakyatnya miskin. Kalau Korea, negaranya miskin rakyatnya kaya. Ini perbandingannya,” terang mantan Mantan Manajer Sriwijaya FC (SFC) ini, Rabu (24/05).

Baryadi mengungkapkan, berkaca dari kesulitan tersebut, memang untuk saat ini, boleh saja prihatin. Tapi rasa keprihatinan itu kalau hanya dalam hitungan satu atau dua bulan.

“Kalau sudah setahun itu sudah sengsara. Jadi, cara untuk tidak sengsara, harus bisa membiayai kehidupan sendiri. Itu dimulai dari menanam tanaman untuk diri sendiri. Kalau itu bisa dilaksanakan semua, saya yakin Indonesia tak kesulitan akan pangan,” ungkapnya.

Nah, mengapa masyarakat harus menjaga keutuhan NKRI, ia menjelaskan, karena yang melakukan SARA itu sebenarnya bukan rakyat. “Bukan juga yang melakukan demo. Tapi, aktor-aktor politik yang berkuasa itulah, yang selama ini menciptakan SARA, yang menciptakan masalah. Seharusnya, mereka-mereka itulah yang harus mendengarkan,” jelas dia.

Jadi, tambah Baryadi, Pemuda NKRI Sumsel saat ini harus menjalankan tiga hal, yakni jangan lepas dari kepercayaan/agama, apapun agamanya. “Kemudian  jalankan budaya, dan jalankan olahraga,” tutupnya.

Di tempat yang sama, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Prof dr Amin Suyitno menuturkan, mengutip apa yang telah diungkapkan Gus Dur, bahwa tidak penting apapun agama atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, maka orang tidak akan menanyakan apa agamamu.

“Dari ungkapan itu, ya memang kita butuh perbedaan. Cowok butuh cewek, pemuda butuh orang tua dan sebagainya, agar saling membutuhkan. Inilah hikmah mengapa realitasnya NKRI indah dengan banyak perbedaan,” pungkasnya.

Sementara itu, anggota DPD RI, Siska Marleni yang menyempatkan hadir mengatakan jika hingga saat ini dan sampai kapanpun kita bersama masih harus tetap menjaga keutuhan NKRI ini.” Dalam bentuk dan kondisi apapun itu kita akan selalu disibukkan untuk menjaga bangsa ini dan ini masih menjadi konsen kita.

Kegiatan seperti ini merupakan hal positif dalam menyampaikan menjaga NKRI ini,” ujar dia.

Sedangkan Ketua Pelaksana acara, Ahmad Marzuki yang juga didampingi oleh para OKP yang terdapat dalam tubuh Pemuda NKRI mengatakan jika acara ini juga merupakan bukti jika para pemuda yang ada di Sumsel ini masih tetap solid.” Ini tentang kebersamaan kami para pemuda lintas Agama yang masih solid,” tutup dia.

Dalam acara itu sendiri dihadiri oleh puluhan organisasi mulai dari organisasi mahasiswa, PMII, GMKI, IPPNU, Pemuda Katholik, Pemuda Hindu, Pemuda Kristen, HPP Muratara, Pemuda Tionghoa dan masih banyak lagi yang lainnya. (MDN)