Majelis Hakim memvonis Hatta (60), intel KW dengan hukuman penjara selama 1 tahun 9 bulan.

Majelis Hakim memvonis Hatta (60), intel KW dengan hukuman penjara selama 1 tahun 9 bulan.

OKI, HS – M Hatta (60), warga Lorok Pakjo, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang tertunduk ketika Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kayuagung, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan menjatuhkan vonis 1 tahun 9 bulan penjara terhadap terdakwa.

Vonis yang dijatuhkan tersebut lebih rendah dibandingkan tuntutan jaksa yakni 3,5 tahun penjara. Atas putusan tersebut, terdakwa langsung menyatakan menerima.

“Dengan memperhatikan dan menimbang semua fakta yang terungkap di persidangan, majelis hakim berpendapat, terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan memiliki dan menguasi senjata api jenis FN berikut amunisinya tanpa izin pihak yang berwajib,” kata Ketua Majelis Hakim, Bambang Joko Winarno didampingi Anggota Majelis Hakim, RA Asri Ningrum, H Jeily Saputra, dan disaksikan JPU, Sholahudin dan Kuasa Hukum, Yuniatri SH, Selasa (18/10).

Menurut hakim, terdakwa tidak mengajukan saksi yang meringankan. Adapun hal yang memberatkan terdakwa bahwa perbuatan terdakwa telah meresahkan masyarakat. Sementara hal meringankan, selama ini terdakwa belum pernah dihukum dan bersikap sopan di pengadilan.

“Perbuatan terdakwa diatur dalam pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Darurat Nomor 12/1951 tentang kepemilikan, menyimpan, dan menguasai senpi ilegal. Untuk itu, majelis hakim menjatuhkan hukuman pidana penjara selama 1 tahun 9 bulan,” kata hakim.

Atas putusan tersebut, JPU, Sholahudin menyatakan masih pikir-pikir.”Kami masih pikir-pikir dulu,” kata Sholahudin.

Diketahui, terdakwa ditangkap jajaran Polsek Inderalaya Utara pada 24 April 2016 sekitar pukul 22.00WIB. Penangkapan terdakwa atas laporan masyarakat yang resah dengan ulah terdakwa menembakkan senjata ke udara.

Saat diperiksa di polsek, terdakwa mengaku sebagai anggota Badan Intelijen Negara (BIN) dengan menunjukkan kartu BIN dan kartu izin kepemilikan senjata api peluru tajam. Namun ketika berkoordinasi dengan BIN wilayah OKI-OI, ternyata nama terdakwa tidak terdaftar sebagai anggota BIN.

Terdakwa mengaku kalau senpi itu didapat dari Tatang dan Budino yang mengaku sebagai anggota BIN basis TNI di Jakarta dengan menyerahkan uang Rp50 juta. (TOM)