PALEMBANG,HS – Kendati sudah memasuki masa panen, namun Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik Divisi Regional (Perum Bulog)  Sumatera Selatan dan Bangka Belitung kesulitan menyerap beras petani di Bumi Sriwijaya.
Minimnya penyerapan beras dari petani lokal lantaran harga jual beras dari petani saat ini cukup tinggi, sehingga pihak bulog kesulitan untuk melakukan penyerapan. Padahal diketahui Sumsel merupakan salah satu daerah lumbung pangan nasional.
Kepala Perum Bulog Divre Sumsel Babel, M Yusuf Salahuddin mengatakan saat ini stok beras di gudang Bulog Sumsel saat ini ada sebanyak 27.500 ton beras. Namun stok tersebut bukan serapan beras anyar melainkan persediaan sejak tahun lalu.
“Sebagian stok ini merupakan kiriman dari Jawa Timur. Sebagian lagi pengadaan dari petani lokal di 2018 lalu. Stok yang ada bukan berasal dari pengadaan lokal,” ujarnya, Rabu (6/3/2019)
Yusuf mengungkapkan,  tahun ini penyerapan beras petani lokal masih sangat minim. Yakni baru 180 ton.  Masih minimnya penyerapan ini lantaran harga jual beras oleh petani mahal atau diatas Harga Pokok Pemerintah (HPP) yang ditetapkan pemerintah. HPP sendiri Rp7.300, dimana untuk harga fleksibilitasnya hanya Rp 8.030.
Menurutnya, saat ini harga yang dipakai petani untuk menjual beras rata-rata diatas Rp 8.300 untuk beras asalan atau beras yang belum berkualitas medium atau premium.
“Kami tidak bisa membeli beras di petani jika harganya tinggi. Sejauh ini saja pengadaan kita dibeli dengan harga komersial atau harga kesepakatan dengan petani,” tegas Yusuf.
Yusuf menambahkan, Bulog Pusat  memang mengalokasikan dana pembelian beras senilai Rp10 trilun. Meski Bulog Sumsel bisa membeli beras dari petani dengan anggaran tak terbatas, namun tetap harus komitmen melakukan penyerapan dengan harga sesuai aturan.
“Bulog pusat sudah mengintruksikan agar kita melakukan penyerapan beras. Namun memang kendala saat ini harga jual dari petani cukup tinggi. Mau tidak mau kita pakai harga komersial,” katanya.
Sementara mengenai stok, kondisi gudang Bulog Sumsel belum dapat dikatakan penuh. Hal itu lantaran stok hanya ada sekitar 27.300 ton atau mampu memenuhi kebutuhan beras masyarakat sekitar 7 bulan kedepan.