Ilustrasi.

Ilustrasi.

OKI, HS – Masyarakat Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dihebohkan dengan beredarnya video mesum yang salah satu pelakunya masih mengenakan seragam sebuah SMA Negeri di Kota Kayuagung.

Tersebarnya video ini mendapat tanggapan dari berbagai pihak, termasuk dari Bupati OKI, H Iskandar SE. Bupati OKIketika dibincangi terkait beredarnya video mesum yang disinyalir dilakukan oleh oknum pelajar di OKI mengatakan, bahwa dirinya tidak serta merta percaya dengan hal tersebut.

Menurutnya, harus dicari dulu kebenarannya apakah pemeran dalam video tersebut benar pelajar di OKI atau mungkin video tersebut adalah editan. “Maklum zaman sekarang sudah sangat canggih bisa jadi itu hanya editan makanya harus dicari dulu kebenarannya,”kata Bupati.

Iskandar menegaskan, kalau memang ternyata video tersebut benar, itu harus ditindak sesuai aturan yang berlaku. “Ya kalau memang benar adanya akan ditindak sesuai aturan yang berlaku tapi saya akan pastikan dulu dan memanggil pihak terkait,” ujarnya.

Sementara, Abdiyanto H Fikrim anggota DPRD OKI menyayangkan atas beredarnya video tersebut. Politisi PDI Perjuangan ini menyebut kejadian tersebut sangat memalukan apalagi pemeran dalam video tersebut disinyalir adalah seorang pelajar di salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten OKI.

“Sebetulnya hal semacam ini tidak perlu terjadi jika mereka mempunyai nilai-nilai moral yang mumpuni,” katanya saat dibincangi di Gedung kesenian Kayuagung, Kamis (17/11).

Menurut Abdiyanto, kejadian tersebut merupakan bentuk kegagalan pada sebuah lembaga pendidikan. Dimana tidak mampu mendidik moral yang baik terhadap siswa siswinya. “Lembaga pendidikan tidak hanya memberikan materi pada siswanya, tapi harus  mampu tanamkan nilai moral,”jelasnya.

Katanya, sekali lagi dunia pendidikan kita tercoreng kita berharap kedepan, pemerintah dalam hal ini eksekutif, legislative dan juga tenaga pendidik harus duduk bersama dan mencari formula yang tepat agar hal semacam ini tidak terulang kembali.

“Kita harus duduk bersama dan mencari formula yang tepat apa yang harus dilakukan apakah harus ditambah pendidikan agamanya atau mungkin yang lainnya agar kejadian ini tidak terulang,” ungkap Abdiyanto. (TOM)