Tampak peserta didik SMPN 3 Palembang menikmati jam istirahat di lapangan basket sekolah

Tampak peserta didik SMPN 3 Palembang menikmati jam istirahat di lapangan basket sekolah

PALEMBANG, HS –  Sedikitnya 50 siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 3 Palembang tampak begitu antusias mengikuti latihan ekstrakurikuler (Ekskul) panahan. Ekskul panahan di SMP N 3 ini bekerjasama dengan Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Kota Palembang.

Kepala SMP N 3 Palembang Drs Ansyori kepada HALUAN SUMATERA, Senin (19/9) menyebutkan, ekskul panahan ini baru berusia satu tahun, namun animo siswa-siswi cukup tinggi sehingga SMPN 3 Palembang konsisten untuk mengadakan pemusatan latihan dengan sarana dan prasarana yang terbatas.

Spenta Archery Club Palembang adalah yang ekskul panahan SMPN 3 Palembang. Klub ini pun merupakan klub Pembina Olahraga di sekolah tingkat SMP di Sumatera Selatan asuhan Persatuan Panahan Indonesia (Perpani) Sumsel.

“Walaupun terhitung baru sejak didirikan Desember 2015 lalu, Ekskul ini dipersiapkan guna mengikuti PON Remaja II di Semarang Jawa Tengah pada 2017 mendatang,” kata Ansyori.

Lanjutnya, Eskul panahan ini diharapkan bisa menjadi alternatif lain bagi siswa-siswi di SMPN 3 Palembang.

“Ya, tujuannya adalah untuk memunculkan insan olahraga dari cabang panahan di  tingkat sekolah. Dan, yang pasti kami menerima peserta ekskul panahan ini dari sekolah lain,” Ansyori menyebutkan seraya berkata ada beberapa mahasiswa yang turu berlatih di SMPN 3 Palembang.

Ika yang masih duduk di kelas 9 SMPN 3 Palembang salah satu atlet panahan yang tergabung di Ekskul Panah

Ika yang masih duduk di kelas 9 SMPN 3 Palembang salah satu atlet panahan yang tergabung di Ekskul Panah

Kata Ansyori, untuk memaksimalkan ekskul panahan, SMPN 3 Palembang bekerjasama dengan KONI Kota Palembang. Gelaran latihan satu minggu sebanyak empat kali yaitu di hari Selasa, Kamis, Sabtu, dan Minggu.

“Untuk saat ini, kita baru memiliki lima buah busur panah. Justru yang kita butuhkan sebanyak 15 unit dengan harga per setnya Rp 5 jutaan,” cetus Ansyori.

Minimnya fasilitas di cabang panahan bukan berarti tak ada solusi. Nah, agar peserta ekskul panahan ini bisa optimal, pihak SMPN 3 Palembang membuatkan busur serupa paralon dan bambu.

“Tentunya siswa dan pelatih merakit sendiri busur dan anak panahnya dengan biaya dari pribadi saya sendiri,” ucapnya.

 

Inilah gerbang SMPN 3 Palembang bila dilihat dari depan sekolah

Inilah gerbang SMPN 3 Palembang bila dilihat dari depan sekolah

M Nuris, yang kini dipercaya menjadi pelatih ekskul cabang panahan di SMPN 3 Palembang sekaligus Wakil Sekum Perpani Palembang mengemukakan, bagi latihan pemula atau yang baru saja bergabung akan dilatih fisiknya terlebih dahulu lalu posisi berdiri dan cara memegang busur yang benar.

“Awalnya, yang kita latih teknik dasarnya seperti posisi berdiri, cara memegang handle busur, cara menarik tali dan teknik rilis anak panah,” Nuris berujar.

Sebut Nuris, untuk pemula berlatih teknik dasar memakan waktu sampai tiga bulan dengan jarak 10 – 15 meter. Bagi yang sudah mahir, digunakan standar pertandingan yaitu 30 meter. Busur yang pakai itu standar yang dipakai atlet Indonesia yaitu  busur standar bow dengan jarak panah 30 – 50 meter. (ERS)