Beberapa penari tari Gending Sriwijaya saat menyambut tamu di satu acara di kota Palembang

  • Gagas Tarian Sambut Identitas Palembang Darussalam

PALEMBANG, HS – Para seniman tari dan budayawan berpendapat mustahil seorang kepala Dinas Kebudayaan sanggup memusnahkan tarian Gending Sriwijaya yang sakral akan warisan nilai-nilai leluhur.

Menyikapi pemberitaan yang dibuat di salah satu media online Sumsel  Senin 16 Maret 2017 yang berjudul “Palembang Akan Musnahkan Tari Gending Sriwijaya”, Dewan Kesenian Palembang merasa terpanggil mempertemuan antara para seniman dan budayawan  asal kota Palembang duduk satu meja dengan kepala Dinas Kebudayaan kota Palembang tanggal 8 Maret dan 13 Maret 2017 di halaman kantor DKP. Tujuannya tak lain membahas lebih jauh tentang isu memusnahkan tari Gending Sriwijaya.

“Betul, selaku ketua Dewan Kesenian Palembang, saya terlibat penuh dalam diskusi tari sambut baru tentang Palembang Darussalam. Waktu pertemuan pertama yang dihadiri Cek Mas (pengamat tari), Kusni Karana, Kemas Anwar Beck,  M Amin (mewakili Dinas Pariwisata kota Palembang), Soleh Umar menyatakan sikap setuju membuat tari sambut baru yang mengangkat identitas Palembang Darussalam,” lanjut Vebri.

Sambung Vebri, ada beberapa momentum yang diharapkan dari rapat itu. Antara lain meminta saran dan pendapat seniman dan budayawan atas ide pembuatan tari sambut yang dilontarkan oleh Ir Sudirman Teguh selaku kepala Dinas Kebudayaan kota Palembang. Di pertemuan kedua dihadiri Yai Beck, Anna Kumari  (pembuat tari Tepak Keraton, penari Gending Sriwijaya tahun 1960-1970 an, Yudi Syarofie (budayawan), Ely Rudi, dan Sartono.

“Yudi Syarofie bahkan berpendapat jika sudah ada tari sambut berbasis Palembang Darussalam, maka perlu dibicarakan posisi tari sambut yang ada seperti tari Gending Sriwijaya, tari tanggai dan tari Tepak Keraton. Sehingga nantinya tari-tari sambut yang ada dapat digunakan sesuai dengan situasi dan kondisinya. Sebelumnya, di masa gubernur Sumsel Asnawi Mangku Alam tari Gending Siriwijaya menjadi tari sambut yang utama guna menyambut tamu agung,” Vebri berkisah.

Kemudian di pertemuan yang kedua dibicarakan juga tentang motto Palembang Darussalam. Meski di kabupaten dan kota lain sudah ada mottonya seperti di Lahat ada Seganti Setungguan. Di Musibanyuasin ada Serasan Sekate, di PALI ada Serepat Serasan, di Banyuasin ada Setudung Sedulang.

Kan di Palembang belum ada motto seperti itu. Nah, lahirlah gagasan Yai Beck yang mengusulkan tari ‘Berembak Berembuk’, tetapi Yudi menyarankan ‘Selingkup Seidangan’ dan saya mengusulkan ‘Adat di Pangku Syariat Dijunjung’,” tutupnya.

Temu seniman dan budayawaan selanjutnya yang dihadiri Kusni Karana (seniman tari), Yai Beck (seniman tari), Ely Rudi (seniman tari, penari Gending Sriwijaya era 1960-an), dan Sartono, S.Pd. MSi (sarjana seni, dosen seni budaya). Juga para seniman tari junior seperti Nurdin M.Si, Erick, Imansyah, Tia (alumni ISI Yogyakarta).

“Masing-masing seniman dan budayawan sepakat menyatakan sangat mendukung adanya satu bentuk tari sambut yang mengangkat identitas Palembang Darussalam,” tutur Vebri.

Bantahan demi bantahan berita yang berjudul “Palembang Akan Musnahkan Tari Gending Sriwijaya” di salah satu media online , itu juga dikemukakan para seniman dan budayawan asal kota Palembang.

“Saya hadir di pertemuan  tanggal 8 Maret 2017 lalu. Waktu itu kepala Dinas Kebudayaan kota Palembang meminta saran pendapat terkait ide membentuk tari sambut baru yang bernuansa Palembang Darussalam. Alasannya? Kota Palembang memang belum ada tari sambut baru, tapi bukan berarti harus mengganti tari Gending Sriwijaya, apalagi memusnahkan. Nah, jika ada kata-kata itu, pasti kami dulu yang memprotesnya,” ucap Kusni Karana, seniman tari.

Kusni sangat berkeyakinan tidak akan mungkin ada wacana memusnahkan tari Gending Sriwijaya, sebab berkesenian itu sendiri sifatnya universal.

“Tak akan bisa tari Gending Sriwijaya dimusnahkan oleh manusia,” ungkap pencipta tari Sebimbing Sekundang, tari sambut Ogan Komering Ulu Induk tersebut.

Penolakan kalimat ‘memusnahkan’ di tari Gending Sriwijaya pun disampaikan Kemas Anwar Beck atau akrap disapa Yai Beck.

“Dari dua kali pertemuan yang saya ikuti, tidak ada pembahasan mau memusnahkan tari Gending Sriwijaya. Pak Sudirman pun tidak mengatakan mau memusnahkan tarian itu.  Tari Gending Sriwijaya sudah baku sebagai tari sambut Sumatera Selatan. Begitu pula dengan tari Tanggai dan tari Tepak Keraton,” kata Yai Beck sambil mengenang.

Menurut Yai Beck, di zaman gubernur Sumsel Asnawi Mangku Alam ada semacam instruksi tari Gending Sriwijaya digunakan untuk menyambut orang-orang tetamu dari satu negara. Sedangkan tari Tanggai dipersembahkan menyambut tamu umum dengan jumlah pemain yang bisa disesuaikan.

“Jadi, posisi tari Gending Sriwijaya ini sudah baku sebagai tarian paling tinggi posisinya,” cetus Yai Beck.

Cerita Yai Beck, bahwa dalam diskusi bersama kepala Dinas Kebudayaan kota Palembang itu intinya ingin menambah tari sambut baru ataupun tari-tarian khusus seperti di daerah kabupaten dan kota lain yang ada di Sumatera Selatan.

Alhasil, munculah ide melahirkan jenis tari sambut yang direncanakan adalah tari Sambut Palembang Darussalam.

“Saya sendiri menciptakan tari Mapak, tari sambut Empat Lawang ketika dimekarkan dari kabupaten Lahat,” kenangnya.

Gayung lalu bersambut. Sartono MSi, peneliti tari Tanggai yang juga Dosen Seni Budaya di Universitas PGRI mendukung lahirnya sebuah tari sambut yang bernuansa Palembang Darussalam sebagai bentuk pengayaan nilai-nilai budaya di ranah Palembang.

“Seingat saya di pertemuan dengan Pak Sudirman Teguh, tidak ada kata-kata memusnahkan tari Gending Sriwijaya. Karena, Sriwijaya dan Palembang Darussalam adalah latar belakang sejarah dan budaya yang identik dengan Palembang. Tidak akan mungkin memusnahkan salah satunya,” dikemukakan Sartono.

Ely Rudi, penari tari Gending Sriwijaya era 1960 – 1970  menilai tari Gending Sriwijaya adalah serupa tari yang istimewa dan sakral.

“Karena itu saya miris sekali melihat tari Gending Sriwijaya ditampilkan sembarangan. Saya membuat tari Tanggai dengan lagu pengiring berjudul Enam Saudara dan sekarang jadi tradisi di resepsi pernikahan sebagai tari sambut masyarakat umum,” ujarnya.

Dia mendukung penuh sekiranya kepala Dinas Kebudayaan kota Palembang berkeinginan membuat tari sambut baru yang berbasis Palembang Darussalam, itu bagus sekali.

“Artinya apa? Bakal ada satu tari sambut yang melengkapi warna kebudayaan di kota Palembang,” ujar Ely. (REY/TIM REDAKSI)