PALEMBANG,HS – Bermula dari hobby mengoleksi piringan hitam, kini Rangga mencoba berbisnis piringan hitam atau vinyl sepertinya tak lekang zaman. Apalagi usaha jenis ini tetap ada meski zaman telah berganti rupa. Populer di era 60an piringan hitam seakan populer kembali ditengah kemajuan teknologi.
Berawal dari dirinya mengejar strata satu di Universitas terbesar di Yogjakarta yakni Gajah Mada pada tahun 2015 lalu. Pada saat itu di salah satu di Kota yang terkenal dengan Gudeg  itu mengadakan kegiatan seni.
“Kegiatan seni tersebut, banyak memamerkan puluhan piringan hitam di pajang, namun saya belum tahu, apa itu piringan hitam?,” Kata rangga pria berbadan besar saat diwawancarai di tokonya yang terletak di belakang griya agung Palembang Sabtu (1/12/2018).
Walaupun belum tahu, perlahan-lahan dirinya mencari informasi tentang piringan hitam, namanya juga hobi, awal belum tahu dengan mencari tahu menjadi hobi. Itu yang membuat Efrizal sekarang menjadikan kaset hitam yang mulai muncul di tahun 1948
menjadi hobinya.
“Lalu mulai mencari piringan hitam saya cari mulai dari solo, Semarang, Klaten, Jogja, bandung, hingga Jakarta,” ungkapnya.
Saat laki-laki yang lahir di Palembang pulang ke kampung halamannya tepatnya di Tahun 2017, tak membuat dirinya berhenti untuk mencari piringan hitam meski tidak banyak yang menjual seperti di Jawa.
“Kalau di pulau Jawa banyak yang menjual, apalagi ada komunitasnya disana, kalau di Palembang sedikit yang menyimpan atau hobi dengan piring hitam,” jelasnya.
Walaupun Palembang bukan panggungnya untuk piringan hitam, dirinya pun tetap berkeinginan untuk menularkan hobinya kepada masyarakat Kota yang terkenal Pempeknya.
Dengan membuka Kamar Remang Record Store, yakni tokoh yang menjual berbagai macam piringan hitam serta alat musiknya Turntable.
“Akhirnya tertarik kenapa tidak menularkan hobi ini ke orang-orang. Mulailah menjual dengan membuka tokoh dan juga secara online,” katanya.
Berbagai koleksi yang ia miliki ada sekitar 400 hingga 500 piringan hitam yang dirinya jual. Mulai dari yang paling lama keluaran tahun 1940 dan juga yang terbaru untuk tahun 2018.
“Itu koleksi yang saya dapatkan saat keliling pulau Jawa mencari piringan hitam, ada lagu barat tak ketinggalan lagu Indonesia juga ada disini,” jelasnya.
Untuk harga piringan hitam dirinya menjual dengan harga 75.000 ribu sampai 2 juta. Harga tersebut sesuai dengan ukuran dari 7 inci hingga ukuran 12 inci.
Dengan dirinya membuka tokoh tersebut, diharapkannya sebagai ajang membuka pintu kembali untuk masyarakat agar dapat mengkoleksi rilisan fisik piringan hitam.
“Selain itu saya harap rilisan fisik tetap hidup dan tak lekang dimakan zaman,” tutupnya
Nama: Rangga Erfizal
Usaha: Kamar Remang Record Store
Alamat toko : Jalan Kapten A. Anwar Arsyad, Demang Lebar Daun Palembang Indonesia
Tempat/tgl lahir: Palembang 15 Mei 1994
Pendidikan: Strata 1 Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada.