PALEMBANG,HS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah Provinsi Sumatera Selatan sudah memasuki musim hujan. Sehingga potensi hujan dan angin lebat akan tetap ada
Kepala Seksi Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi SMB II, Bambang Beny Setiaji mengatakan, bahwa hujan yang terjadi di sebagian besar wilayah Sumsel pada malam hingga dini hari tadi merupakan curah hujan dengan intensitas sangat lebat yakni lebih dari 100 mm.
“Adanya aktifitas siklon tropis gaja mengakibatkan angin baratan yang masuk ke wilayah Sumsel yang sarat uap air dari Samudera Hindia yang kemudian membentuk MCS (Mesoscale Convective System). MCS ini perlu diwaspadai,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (13/11/2018)
Ia menjelaskan MCS yakni sistem konfektif skala menengah di mana ditandai dengan awan hujan (cumulonimbus) yang berbaris memanjang hingga mencapai panjang 200 km dengan karakteristik hujan lebat disertai angin kencang dalam waktu singkat, kemudian diikuti hujan yang relatif lama dan umumnya terjadi pada malam hari.
“Sedangkan untuk wilayah Prabumulih dan Muara Enim tidak mengalami hujan lebat seperti Palembang, dikarenakan hanya dilewati awan-awan hujan yang masih dalam proses pembentukkan MCS,” katanya.
Sementara itu terkait peringatan dini cuaca Sumsel pada tanggal 13 November 2018 yaitu berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir/kilat dan angin kencang sesaat pada pukul 13.00 di wilayah OKI (Cengal, Tulung Selapan) dan sekitarnya. Dan dapat meluas ke sebagian wilayah OKU Timur dan OKU Selatan dan sekitarnya. Kondisi ini diperkirakan masih akan berlangsung hingga pukul 15.00.
Sementara itu Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Ansor saat dikonfirmasi mengatakan, terkait adanya banjir di wilayah Palembang maka BPBD Sumsel menghimbau agar masyarat waspada terhadap binatang berbisa dan aliran listrik.
“Kami menghimbau kepada masyarat agar hati-hati terhadap saluran listrik. Karena saat banjir bisa berbahaya. Lalu yang perlu diwaspadai juga binatang berbisa,” ujarnya
Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa yang terjadi di Palembang ini bukan banjir melainkan genangan. Hal ini terlihat lantaran daerah-daerah dataran tinggi juga ada genangan air. Kalau memang banjir itu harusnya dimulai dari dataran rendah, sedangkan ini dataran renda ada yang tidak banjir sedangkan dataran tinggi ada yang banjir.
“Artinya genangan air ini terjadi lantaran tersumbatanya aliran air yang ada di beberapa wilaya di Palembang. Untuk itu kami menghimbau agar sampah-sampah yang ada dibersihkan agar aliran airnya lancar,” ungkapnya.
Sementara itu terkait siaga banjir, menurutnya hal ini belum diberlakukan. Sampai saat ini belum ada koordinasi terkait siaga banjir. Namun meskipun begitu BPBD siap jika memang diperlukan.
Masing-masing Kabupaten/Kota telah siap dengan sarana peralatan, logistik dan personil sesuai dengan ancaman masing-masing daerah. Untuk peralatan yang telah dipersiapkan yang umum saya seperti perahu karet dan alat pelampung. Sedangkan logistik seperti makanan siap saji.
“Pembagian nya 80 persen disebar ke Kabupaten/Kota dan 20 Persen di Provinsi. Jika ada daerah yang butuh peralatan dan logistik lebih maka diambil yang dari Provinsi.
Sedangkan untuk alat berat kita tidak menyediakan. Namun bisa menggunakan di dinas PU masing-masing Kabupaten/Kota jika diperlukan,” jelasnya.
Sedangkan terkait wilayah rawan banjir yaitu daerah bagian Timur Sumsel seperti OKI, MUBA, Banyuasin, OI dan Palembang yang merupakan dataran rendah. Sedangkan banjir bandang dan tanah longsor rawan terjadi di wilayah Barat Sumsel seperti Pagaralam, Lahat, Empat Lawang, OKU Selatan.
“Terkait gempa di Wilayah Sumsel tidak terlalu rawan, karena daerahnya tidak berada pada lempengan. Namun untuk imbasnya bisa saja terjadi seperti di OKU Selatan, Muara Enim dan Pagaralam. Lantaran gunung api ada di Pagaralam karena ada gunung api Dempo yang masih aktif,” tutupnya.