PALEMBANG,HS – Meski belum memasuki musim kemarau, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan menetapkan status siaga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) lebih awal di tahun 2019 ini. Penetapan status siaga karhutla ini dimulai pada Maret mendatang, bertepatan dengan puncak musim hujan.
Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan BPBD Sumsel, Ansori mengatakan berdasarkan prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau baru akan terjadi pada akhir Mei mendatang. Sedangkan, Maret masih puncak hujan. Meski begitu, beberapa instansi mengusulkan agar penetapan siaga karhutla ini dilakukan secepat mungkin pada Maret mendatang. 
“Penetapan cepat ini tujuannya agar dapat segera melakukan konsolidasi pencegahan lebih awal,” katanya, Selasa (26/2/2019).
Menurutnya, pola pencegahan yang dilakukan tahun ini lebih mengutamakan sosialisasi dan mengeluarkan maklumat. Selain itu, juga akan melakukan patroli melalui udara untuk memantau titik panas. Jika nantinya terjadi karhutla, sistem penanganannya akan tetap menggunakan pola yang sama, tergantung dari situasi lapangan. 
“Untuk daerah rawan karhutla itu masih seperti lama yakni di Muba, OKI, OI, Banyuasin dan beberapa daerah lainnya,” tutupnya.
Koordinator BMKG Sumsel, Nugo mengatakan, berdasarkan prediksi curah hujan mulai menurun pada April, Mei hingga pertengahan Juni. Meskipun begitu, siaga karhutla sudah dapat ditetapkan sebelum Mei. Sehingga, pembentukan posko-posko di daerah rawan karhutla bisa segera terlaksana. “Kondisi kemarau di Sumsel tergolong normal sama seperti tahun sebelumnya,” katanya. 
Ia mengaku yang perlu diwaspadai yakni pada April. Dimana, curah hujan cukup menurun sehingga berpotensi akan dimanfaatkan oknum tertentu untuk melakukan pembakaran lahan. “Untuk puncak kemarau kami prediksi terjadi pada Agustus hingga Oktober mendatang,” katanya.