PALEMBANG, HS – Pasca mengikuti wisuda Akbar di Griya Agung, ribuan santri penghafal Al-Quran mendapat kenangan kaos berwana kuning. Logonya, Asian Games 2018 Jakarta-Palembang.

Ternyata, kaos “kampanye” Asian Games Palembang 2018, kemudian menjadi “seragam dadakan” bagi tim musik penggugah sahur santri Rumah Tahfidz Rahmat.

Tanpa diperintah, mereka merasa nyaman mengenakan kaos itu. Tak ayal, ada saja santri yang berseloroh dengan kaos itu. “Kito foto bersama dengan kaos ini, kito kirim ke Pak Gubenur, supaya mereka tahu dengan kito,” ujar santri sekenanya.

Hingga pekan pertama Bulan Ramadhan, kaos itu dipakai. Sesekali ganti, dan besok dipakai lagi. Santri-santri Rumah Tahfidz Rahmat Palembang hingga kemarin malam (21/05/2018) masih rutin membangunkan sahur ke sejumlah komplek sekitar Poligon lama dan Buana Gardenia.

Mereka cukup menggunakan alat seadanya ; ember, tong bekas cat, sendok, tutup drum plastik, kayu dan alat lain yang sama sekali tidak layak disebut alat musik.

Sejumlah alat itu kemudian didaulat sebagai alat musik perkusi sehingga alunan dan ritme bunyi yang timbul tetap enak di dengar, meski kesannya monoton. Alunan musiknya hanya mengalir begitu saja tanpa ada pola yang jelas, apalagi partitur sebagaimana kelompok band yang terlatih. Semuanya berjalan secara natural.

Sejumlah santri penghafal Al-quran yang kini ikut dalam tim penggugah sahur; Umar Al Hafidz, Ahmad Tajudin, RM Rafiudin, Akbar Al Fatoni, M Ilham dan Azriel Adi Wangsa dan Agung Gumelang. Sementara, Uwais Al Qorni, yang hari ketiga sempat ikut, kini tak lagi bergabung, alasannnya tidak kuat berjalan jauh.

Tim ini terbentuk spontan sejak awal Ramadhan. Satu hari sebelum Ramadhan, para santri sudah cas-cis-cus menggagas membangunkan sahur keliling. Namun, ujaran mereka agak reda ketika Imron Supriyadi, Pimpinan Rumah Tahfidz Rahmat sempat  melarang.

“Di kompleks ini jangan bikin ulah, nanti warga marah. Nggak usah neko neko. Tidak semua orang senang. Sebab di sini tidak terbiasa ada remaja yang membagunkan sahur,” ujar Imron setengah mencegah santri.

Tapi, apa boleh dikata, semangat santri tak terbendung. Tak urung, mereka akhirnya terjun juga saat waktu menunjukkan 02.30 WIB. “Ustadz, izin kami mau keliling mbagunkan sahur,” ujar salah satu santri mohon restu pada Imron. Tak ada yang bisa dikata kali itu, Imron hanya mengiyakan. Santripun berangkat keliling komplek hingga pekan pertama Ramadhan.

Dai balik jendela rumah, ada saja warga yang kemudian mengintip para santri. “Ado yang ngintip kami Ustadz. Dio tejinguk dari balik hoden lihati kami,” ujar Ilham. Bahkan di hari pertama ada satuan keamanan komplek yang sempat merekam dengan HP. “Ado yang rekam kami. Mereka  satpam di komplek inilah,” ujar Umar, yang dituakan dalam tim ini.

Sampai pekan ini, rute keliling membangunkan sahur tak jelas. Mereka berjalan sesuaio kehendaka hati mereka. Kadang berubah-rubah, meskipun masih di area komplek Poligon Lama dan Buana Gardenia Palembang.

Ketika pukul 04.00 WIB, biasanya santri-santri ini sudah kembali ke Pondok Rumah Tahfidz Rahmat Palembang dan melaukna ritual santap sahur. Besok pagi, mereka akan kembali keliling hingga akhir Ramadhan. (rel)