sekolah alam

Palembang – Kini semakin banyak pelajar yang belajar di Sekolah Alam Indonesia Cabang Palembang. Selain peserta didik bisa bereksplorasi, bereksperimen, dan berekspresi, siswa juga diajarkan bertanggungjawab dan sikap peduli.

Belasan anak-anak tampak gesit menuruni tangga lantai Sekolah Alam Indonesia Cabang Palembang beralamat di Jalan Putri Kembang Dadar. Suara canda pun meningkahi langkah mereka menuju lapangan sepak bola yang letaknya tak jauh dari ruangan belajar.

“Sekolah Alam Indonesia ini merupakan sekolah dengan konsep pendidikan yang berbasis pada keuniversalan alam semesta. Dasar dari konsep sekolah adalah Alquran dan hadist, mengacu pada tujuan manusia diciptakan,” demikian kata Adi Setiawan yang kini dipercaya menjadi tenaga pengajar di Sekolah Alam Indonesia Cabang Palembang.

Adi yang asli berasal dari Bengkulu itu menambahkan, berdasarkan Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga memutuskan memberikan izin PAUD Alam Siguntang sebagai pendidikan kelompok bermain.

“Kita (Sekolah Alam) ini lahir tahun 2011, mulanya ada tiga penggagas di sekolah alam ini, sebelum sekolah berdiri, mereka keliling di Ibukota Jakarta ketemulah dengan Sekolah Alam Indonesia yang ada Diganjur, akhirnya mereka sepakat mendirikan sekolah alam di Kota Palembang. Konsep yang kita sajikan bersifat komunitas,” dijelaskan Adi.

Pelajar di Sekolah Alam Indonesia Cabang Palembang ini awalnya berjumlah 22 orang, namun seiring waktu berjalan jumlah anak-anak kian bertambah. Hingga saat ini, pihak sekolah sudah tiga kali meluluskan anak-anak didiknya.

“Alhamdulillah sekarang sudah lebih dari 22 siswa yang belajar di sini,” cetus Adi.

Apa saja syarat masuk ke Sekolah Alam? Jawab Adi, ada beberapa tahapan yang harus dilakukan para orang tua siswa, antara lain setiap orang tua diwajibkan membeli formulir pendaftaran yang dilengkapi dengan akta kelahiran anaknya.

“Nanti yang diwawancarai adalah orang tua siswa,” ujarnya singkat.

Setelah diterima di Sekolah Alam, kata Adi, siswa-siswi akan diberikan kurikulum pembelajaran Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga serta semacam kurikulum 2006. Bedanya dengan sekolah reguler?

“Kita berbasis alam, kita ada bidang studi sendiri yang khusus mencintai dunia alam, bahkan kita ada kegiatan berkemah, di mana anak-anak diajari kemandirian hidupnya sendiri dan kemandirian dalam hutan,” tutur Adi.

Di samping itu, Sekolah Alam juga ada auting besar yaitu anak-anak mendapat pembelajaran langsung ke museum-museum di Gedung Juang Jakarta. Tujuannya agar para anak-anak  bisa melihat langsung bagiamana perjuangan pejuang masa lalu.

“Ongkos berkunjung ke Gedung Juang itu bukan dari orang tua siswa, namun didapat dari hasil tabungan siswa. Karena di Sekolah Alam ini ada  Market Day atau Hari Pasar, setiap anak diharuskan berjualan apa saja di pasar tersebut, uang hasil berjualan ditabung untuk biaya kunjungan ke museum,” Adi menjelaskan.

dr

Di Sini Budaya Konsep Antre

Seluruh anak didik di Sekolah Alam Cabang Palembang diajarkan  budaya antre, baik antre di ruangan belajar maupun saat beribadah. Budaya antre ini bertujuan untuk melatih kesabaran setiap peserta didik.

“Contohnya, anak-anak TK kita ajarkan antre masuk kelas dan baris-berbaris sehingga ketika mereka naik kelas budaya antre bisa diwujudkan. Anak-anak juga kita ajarkan ke anak-anak dengan sikap keteladanan, seorang guru harus bisa jadi teladan bagi anak-anaknya, kalau guru mengajarkan anak-anak tentang dilarang merokok, si guru juga tidak boleh merokok,” disampaikan Adi.

Bagaimana kualifikasi guru yang mengajar di Sekolah Alam? Kata Adi, tenaga guru yang ada di Sekolah Alam berasal dari berbagai kualifikasi pendidikan, antara lain dari jurusan Keguran, Hukum, dan Kesehatan. Bahkan, setiap awal tahun seluruh guru menggelar Rapat Kerja yang didampingi langsung dari Tim Guru Sekolah Alam Indonesia.

“Di Raker tersebut, guru yang ada mendapatkan kemampuan mengajar di sekolah alam dan pembahasan program pembelajaran selama 6 bulan ke depan. Fungsi guru di sini adalah fasilitator, peran andil orang tua siswa tetap diperlukan untuk memajukan Sekolah Alam,” katanya.

Komunikasi yang dibangun di Sekolah Alama Indonesia Cabang Palembang ini bermula dari ruangan kelas, setiap kelas 1 sampai 6 akan mengirimkan perwakilan 10 orang siswa untuk dipilih menjadi Ketua Dewan Kelas.

“”Setelah terpilih, maka tenaga guru langsung melaporkan kegiatannya kepada Dewan Kelas,” katanya.

Lantas, output lulusan Sekolah Alam? Ungkap Adi, daya saing dan adaptasi lulusan siswa di tengah masyarakat cukup baik. Hebatnya lagi, sebagian anak-anak yang menuntut ilmu di Sekolah Alam ada yang berkuliah di Arab Saudi, Turki, Sudan, dan beberapa negara lainnya.

“Jelas modal pondasi bagi lulusan itu adalah akhlak dan kepemimpinan. Mereka dengan mudahnya beradaptasi dengan orang-orang luar,” tutupnya. (*)

Teks                  : Candra Wahyudi

Redaktur          : Rs Djafar