Peserta lomba vokal solo Muhammad Aditya Majid coba menampilkan lagu daerah Palembang Cindo Nian

PALEMBANG, HS – Ragam peragaan nan menawan dipertontonkan anak-anak Ilir Timur 1 dan Kemuning. Inilah sebuah persembahan menuju babak semi final Gebyar De’ Kape Ekspresi.

Selama 10 menit Muhammad Aditya Majid menggetarkan panggung. Mengenakan topi Pet, Adit—biasa ia disapa, nampak begitu menghayati lirik lagu yang berjudul ‘Palembang Elok’. Ekspresi serta intonasinya pun benar-benar terjaga. Mungkin Adit ingin menyuguhkan betapa hebatnya negeri Palembang yang bukan hanya kaya dengan keelokkan rakyatnya, tapi buah hati Nefriyeni itu seolah mendendangkan kembali kodrat Palembang yang madani, aman, dan sejahtera.

Aha. Tembang yang dipertontonkan Adit tak terasa membosankan.  Siswa kelas 7 SMP Negeri 10 Palembang, itu sukses menghanyutkan emosi hadirin yang kian kemari.

“Aku mulai nyanyi dari kelas 3 SD. Kalau obsesi aku dari kecik memang jadi penyanyi,” kata Adit, yang sedikit lincah.

Kali ini, jejak lomba vokal Gebyar De’ Kape Ekspresi rupanya tak sampai di situ. Richard, yang kala itu membawakan lagu daerah berjudul ‘Dirut’ juga mengundang decak kagum penonton. Pria bertubuh gempal yang kini duduk di kelas 9 SMP Xaverius 1 ini juga ingin mengisahkan kesedihan seorang ayah dalam melakoni kehidupan.

Dengan mengenakan baju bermotif kotak-kotak, Ricard tak canggung di atas panggung. “Saya hanya persiapan dua hari, lho. He…he..he,” sambung putra dari pasangan Yuliana dan Fandi itu.

Walau sedikit berbeda ‘aliran’, Adit dan Richard pun sepertinya mafhum. Dua vokalis solo itu seakan menunjukkan ‘kelas’nya di pentas Gebyar De’ Kape Ekspresi yang dilangsungkan di halaman kantor Camat Ilir Timur I Jalan Mayor Santoso pada Sabtu, 4 Februari 2017.

Lewat momen ini, Dewan Kesenian Palembang (DKP) yang menggagas lahirnya De’ Kape Ekspresi berkomitmen  untuk ‘mengawinkan’ sekaligus membuktikan bahwa kesenian daerah Palembang bisa menyatukan nilai keberagaman.

“Kita ingin mempersembahkan seni dan budaya yang indah di kota ini. Lihatlah, banyak sekali  bakat seni yang terpendam di generasi muda kita. Mereka sebetulnya butuh wadah yang bisa menyalurkan potensi tersebut. Itu yang ingin kita wujudkan di Gebyar De’ Kape Ekspresi ini,” ungkap Vebri Al Lintai, Ketua DKP.

Generasi pelajar di Ilir Timur I ini terlihat begitu menikmati bait-bait lagu

Gebyar seni tidak semata vokal solo. Namun, lanjut Vebri, DKP bersiap menuliskan kembali ekspresi bagi semua kalangan masyarakat. Termasuk lomba mewarnai, menggambar, melukis, tari kreasi nusantara, memasak, kreasi boneka kokuru, ataupun baca puisi.

Dan, Vebri pun teringat sepotong sajak Rendra ‘Orang-orang harus dibangunkan, Kesaksian harus diberikan agar kehidupan bisa terjaga’.

“Lama sekali kita lupa dengan warisan sanggar-sangar seni yang dahulunya pernah ada untuk anak cucu kita. Karena itu, sekarang saatnya membangkitkan sanggar seni tersebut. Tentu dari sinilah (Gebyar De’ Kape Ekspresi) kami memulainya,” disampaikan Vebri.

Vebri Al Lintani sesungguhnya tak sendirian. Menurut Budianto Sekretaris Camat Ilir Timur I Palembang, kegiatan Gebyar De’ Kape Ekspresi adalah upaya merekam serta memadukan bagaimana seni-seni dan budaya tradisionil yang ada di kota Palembang.

Antusias pun diperlihatkan oleh anak-anak peserta lomba mewarnai

“Saya kira DKP sudah mengkolaborasi kesenian dan kebudayaan hingga menjadi sebuah tontonan yang menarik. Saya pun betul-betul menikmatinya,” cetusnya.

Budianto mengakui, kegiatan pentas seni yang dikemas ke dalam Gebyar De’ Kape Ekspresi itu baru pertamakalinya diselenggarakan di kantor Camat Ilir Timur I. Sehingga baik camat maupun unsur-unsur kecamatan menghargai terobosan yang dilakukan oleh DKP.

“Insyaallah selain olahraga, kami juga menfokuskan kesenian dan budaya di kecamatan Ilir Timur I ini. Apalagi, kita punya gedung serbaguna yang bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Budianto, Sekcam Ilir Timur I

Senada dengan Budianto, Lukman Hakim, Ketua RT 38, Kelurahan Sungai Pangeran, Ilir Timur I menyebutkan, aktivitas lomba berkesenian sangat dirindukan oleh anak-anak, remaja, pelajar, ataupun para orang dewasa.

“Kita harus akui, kegiatan lomba seni ini bagus sekali. Tetapi, juga dipertimbangkan kesiapan para peserta yang mau berlomba. Saran saya ya kalau bisa informasi lombanya perlu disosialisasikan lagi, karena belum tentu seluruh warga mengetahui kapan jadual lombanya,” Lukman mengatakan.

Tepat pukul 13.00 WIB, daya pikat Gebyar De’ Kape Ekspresi semakin menjadi-jadi. Semangat penonton tampak jelas di sekitar panggung aksi vokal solo. Ada yang menyeruak dari bangku penonton sambil memekikkan peserta kesayangan mereka. Sebagian terbahak-bahak sambil menikmati aksi kehebohan aksi peserta lomba. Lagi-lagi kota Palembang memang cindo nian….!

Maha Wanita Kepala Seksi Kessos Ilir Timur I

Sebelum acara ‘puncak’ penutupan lomba Gebyar De’ Kape Ekspresi, Maha Wanita Kepala Seksi Kessos Ilir Timur I menyampaikan rasa bangga dan terimakasihnya karena dipercaya oleh DKP menggelar perlombaan.

“Pak Camat tadi berpesan, Beliau minta maaf tak bisa hadir ke sini sebab ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Namun, sekali lagi kalau bukan DKP, kami Ibu-ibu PKK barangkali entah kapan mau datang ke sini. Juga terimakasih saya ucapkan untuk sponsorship, event organizer and production, dan peserta lomba,” kata Maha Wanita, yang hadir mengenakan baju motif ungu berpadu celana hitam.

Ibu-ibu pemenang lomba memasak foto bersama dengan Isnayanti dan Vebri Al Lintani dari pihak DKP

Keputusan juri pun sudah bulat. Bagi nama-nama pemenang lomba yang diikuti warga kecamatan Ilir Timur I dan Kemuning dipersilakan mengikuti babak semi final di halaman Dewan Kesenian Palembang, Rabu 8 Maret 2017.

Nantinya, mereka akan dipertemukan dengan pemenang lomba yang berasal dari perwakilan kecamatan Ilir Barat I, Bukit Kecil, Ilir Barat II, dan Gandus. Siapapun pemenangnya berhak masuk ke babak final Gebyar De’ Kape Ekspresi. (rinaldi syahril/yussudarson)