Menkes Nila Djufita F Moeloek

JAKARTA, HS – Dua hari lalu, Selasa (30/9), di Istana Presiden, Menteri Kesehatan, Nila Djuwita F Moeloek, mengungkap ditemukannya virus Zika di Indonesia. Korbannya adalah seorang warga Suku Anak Dalam Jambi.

Hal ini pun dibantah Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, Andi Pada. Andi mengaku, pada 2015 memang ada satu kasus virus zika yang menyerang seorang warga Jambi berdasar hasil laboratorium Eijkman.

Namun, pada waktu itu, hasil laboratorium tersebut justru tak diakui oleh kementerian kesehatan. Eijkman sendiri merupakan lembaga riset yang tidak memiliki kaitan dengan pemerintah.

Bantahan juga muncul dari Direktur Kelompok Konservasi Warsi, Rudi Syaf. Diterangkan Rudi, pada akhir 2015 Warsi bersama Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dari Rumah Sakit Cipto meneliti Prevalensi Hepatitis B dan Malaria pada orang Rimba.

Dalam penelitian tersebut diambil sampel darah orang rimba. Dalam sampel darah tersebut juga dilihat jika ada penyakit lain walaupun riset mengkhususkan Hepatitis B dan Malaria.

Hingga akhir penelitian pada Februari 2016 juga tak ada ditemukan virus Zika. Diakui Rudi saat itu juga ada tim lain yang melakukan penelitian dan menemukan satu orang terdampak virus Zika namun bukan orang rimba.

Hari ini, Kamis (1/9), mengkoreksi pernyataannya mengenai adanya warga Suku Anak Dalam, Jambi yang terinfeksi virus zika. Menurut Menkes, saat ini belum ditemukan kasus positif zika di Indonesia.

Satu kasus virus zika di Jambi yang disebut dalam laporan Lembaga Eijkman, adalah hasil penelitian yang dilakukan ketika kejadian luar biasa demam berdarah dengue pada 2014.

“Penularan virus zika melalui nyamuk aedes aegypti. Itu adalah nyamuk yang sama dalam penularan demam berdarah dengue,” jelasnya.

Nila memperingatkan agar seluruh masyarakat lebih waspada, dan berhati-hati saat bepergian ke luar negeri. Apalagi, ibu hamil yang berisiko melahirkan anak dengan microchephaly jika terinfeksi virus zika. (MIM)