PALEMBANG,HS – Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Selatan, Lesty Nuraini, mengatakan, terkait Munculnya KLB Difteri dapat dengan adanya immunity gap, yaitu kesenjangan atau kekosongan kekebalan di kalangan penduduk di suatu daerah.

Kekosongan kekebalan ini terjadi akibat adanya akumulasi kelompok yang rentan terhadap Difteri, karena kelompok ini tidak mendapat imunisasi atau tidak lengkap imunisasinya.

“Akhir-akhir ini, di beberapa daerah di Indonesia, muncul penolakan terhadap imunisasi. Penolakan ini merupakan salah satu faktor penyebab rendahnya cakupan imunisasi. Cakupan imunisasi yang tinggi dan kualitas layanan imunisasi yang baik sangat menentukan keberhasilan pencegahan berbagai penyakit menular, termasuk Difteri,” ujar Lesty kamis (14/12/2017).

Menurutnya, Ada 3 jenis kasus Difteri, sambung Lesty yaitu kasus konfirmasi Difteri, kasus carrier Difteri, dan kasus kontak Difteri. Lesty menerangkan Kasus konfirmasi Difteri adalah orang dengan gejala klinis Difteri dan hasil laboratorium apus tenggoroknya menunjukkan hasil positif Corynebacterium diphtheriae. Kasus carrier Difteri adalah kontak kasus yang tidak menunjukkan gejala Difteri, tetapi hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan positif untuk Corynebacterium diphtheriae. Serta Carrier kronis dapat menularkan penyakit sampai 6 bulan. Kasus carrier harus mendapat pengobatan antibiotika sampai hasil laboratoriumnya menunjukkan negatif. Kasus kontak Difteri adalah orang serumah dengan kasus Difteri; tetangga; teman bermain; teman sekolah – termasuk guru; teman kerja yang kontak erat dan kemungkinan terpapar percikan ludah kasus Difteri. Kasus kontak harus diberikan antibiotika untuk mencegah Difteri dan dilakukan pengamatan selama 7 hari.

“Difteri dapat menyerang orang yang tidak mempunyai kekebalan  terutama anak. Akan tetapi dapat juga menyerang orang dewasa yang belum pernah mendapat imunisasi Difteri atau telah mendapat imunisasi Difteri tetapi tidak lengkap,” jelasnya

Ia juga mengatakan, Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sampai dengan bulan November 2017, kasus Difteri dilaporkan dari 95 kabupaten/kota yang terletak di 20 provinsi di Indonesia. Ada 11 provinsi yang melaporkan  terjadinya KLB Difteri di wilayah kabupaten/kota-nya selama bulan Oktober dan November 2017, yaitu Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten,  DKI, Jawa Barat, dan Jawa Timur.

“Untuk vaksin di Sumsel tidak pernah kurang, kita selalu ada. Jika kabupaten/kota kekurangan, langsung lapor ke provinsi dan dikirim kembali,” tegasnya (MDN)