????????????????????????????????????

Siswa ABK SDN 30

PALEMBANG,HS – Dinas pendidikan provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) akan segera menunjuk sekolah piloting inklusi tingkat SMA. Pasalnya, hingga saat ini belum ada sekolah negeri yang menampung anak berkebutuhankhusus (ABK) tingkat SMA di Sumsel.

Pasca peralihan kepengurusan Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (SMA dan SMK) ke dinas pendidikan (disdik) provinsi. Disdik Sumsel tengah disibukkan dengan pemetaan sekolah dan membuat program-program dalam peningkatan mutu pendidikan, baik dari segi administrasi, proses pembelajaran dan pelatihan guru.

Kepala Disdik Sumsel, Widodo mengatakan, saat ini untuk piloting sekolah inklusi untuk ABK tingkat SMA belum ada di Sumsel. Dari data tahun ajaran 2015/2016, untuk tingkat sekolah dasar (SD) negeri ada 101 SDN se-Sumsel yang menjadi piloting sekolah inklusi dengan 2039 siswa ABK. Lalu, untuk tingkat sekolah menengah pertama (SMP) negeri ada 15 sekolah se-Sumsel dengan 513 siswa ABK.

“Untuk pelatihan guru pendidikan inklusi sudah sampai tingkatan SMA. Nah, tinggal menunjuk sekolah mana yang sudah memadai untuk menjadi piloting sekolah inklusi,” jelas Widodo di ruang kerjanya di Disdik provinsi Sumsel jalan Kapten A. Rivai Palembang, Selasa (4/10).

Senada, Kepala bidang (Kabid) TK/SD Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispora) kota Palembang, Sutriana, S.Pd melalui Kepala seksi (kasi) kurikulum TK/SD, Haris Basid, M.Si mengutarakan, setelah peralihan SMA dan SMK ke Disdik provinsi, maka pihaknya dapat lebih memprioritaskan peningkatan mutu pendidikan dan sumber daya manusia (SDM) ditingkat pendidikan dasar.

Menurutnya, pihaknya akan menunjuk sekolah rujukan tingkat kota ditiap kecamatan sesuai program dan arahan kepala Dispora (Ahmad Zulinto). “Akan kami tunjuk sekolah rujukan sesuai bidang mereka yang unggul. Jadi tidak menutup kemungkinan ditiap kecamatan mempunyai sekolah rujukan yang berbeda bidangnya sesuai dengan 8 standar nasional pendidikan (SNP). Dan juga kami akan menunjuk sekolah rujukan pendidikan inklusi tingkat kota dari jenjang SD dan SMP,” tambahnya

Sementara itu terpisah, Kepala SDN 30 Nuraini, S.Pd.MM mengatakan, Saat ini jumlah anak ABK yang ada di sekolah Dasar 30 dari kelas 1 sampai kelas 6 mencapai 130 siswa. Seperti dilingkungan sekolah lain, siswa/i yang ABK ini disatukan dengan siswa reguler, supaya anak tersebut dapat berbaur dengan teman sebayanya.

“Ya, kalau di tempatkan khusus menjadi satu tentu proses belajarnya akan menjadi lama, dengan digabungkan (dicampurkan) tentu siswa yang lain bisa mengajaknya untuk belajar dan bermain bersama,” ungkapnya.

Lanjutnya, buat siswa ABK tahun ini ada beberapa macam mulai dari Hyperaktif, Gagu, cacat fisik, serta IQ rendah, tapi tahun ini ajaran ini kebanyakan siswa yang gagu atau susah bicara.

“Proses mengajarkan kepada siswa yang gagu, pastinya membutuhkan proses, seperti siswa gagu tahun kemarin yang sudah bisa membaca beberapa kalimat saja, setelah kenaikan kelas 2 mereka akan mendapatkan penambahan kalimat lagi, jadi siswa ABK ini memiliki beberapa tahapan dalam belajrnya,” paparnya.

“Alhamdulilah, para siswa ABK yang lulusan di SDN 30 Palembang atau Alumni sekolahnya sudah ada yang sampai kuliah. “Hal ini memacu kita agar terus meningkatkan pendidikan inklusi, terlebih lagi tidak semua sekolah sanggup bisa menggelar pendidikan inklusi, karena hanya sekolah tertentu saja yang sanggup mengatasi tingkah laku anak ini,” pungkasnya (Hsn)
.