PALEMBANG – Festival Sriwijaya XXV digelar dari 18-24 Juli 2016 di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) menuai kritik dari para pelaku seni dan budaya di Sumsel belum karena di nilai belum menemukan konsep yang matang, hampir setiap tahun selama 25 kali penyelenggaraan festival terasa tidak ada perubahan signifikan terhadap kemajuan seni dan budaya.

13177148_10206086776031480_2033698622134097850_n

Hal ini menuai komentar dari berbagai pihak, termasuk salah satunya Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP), Vebri Al Lintani yang mengkritisi kegiatan Festival Sriwijiya

“Kukira hingga hari ini, sudah 25 tahun, Festival Sriwijaya belum menemui konsep yang matang” tulis Vebri ujarnya kepada media.

“Jika cuma ingin meriah dan ramainya saja maka beberapa kali, termasuk tahun ini sudah Baik, Tapi aku kira harusnya Festival Sriwijaya lebih kepada mengeksplor kesejarahan dan budaya Sriwijaya melayu festival seni” tambah Vebri

Selain itu, Vebri Al Lintani menginginkan soal format kegiatan bagaimana yang ada di setiap Festival Sriwijaya harus menghadirkan kesriwijayaan dalam satu instalasi dan pertunjukan, Mulai dari Prasasti Kedukan Bukit, Talang Baru, Talang Tuo dan beberapa pertemuan artefak Sriwijaya dan tempat pertunjukan seharusnya tetap di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS)

“Bukan di BKB atau di tempat lain  Mengapa? Karena ini TPKS adalah situs Sriwijaya. Di tempat ini juga ada museum yang diminta Artefak kesriwijayaan” cetusnya.

Pada kesimpulanya Vebri Al Lintani memberikan penilaian  Festival Sriwijaya selama ini masih  jalan di tempat, tidak ada perubahan, kedua sebagai Project Oriented, asal terlaksana tanpa memikirkan kualitas, yang ketiga belum profesional.

Sementara itu, Kepala  Disbupdar Sumsel,  Irene Camelyn Sinaga saat di konfirmasi di palembang (23/7) mengenai komentar yang mengkritisi pelaksanaan festival Sriwijaya mengenai Konsep yang tidak jelas, irene menjelaskan bahwa konsep festival hanya satu yaitu Busaya, seni dan Tradisi

“Namanya orang berkomentar wajar-wajar saja, namanya Festival Sriwijaya konsep  budaya, seni tradisi,  ngak ada yang lain kan, tinggal industri jual atau nggak,” jawab Irene

Kemudian Ia menjelaskan untuk tahun ini Festival Sriwijaya sudah mengesplore kegiatan budaya, pelaku seni di Sumsel
“Pengelola seperti apa, kalo dilihat tahun ini coba, ada festival kuliner, kuliner itu budaya jugakan, disitu ada interaksi budaya, ada pergelaran Seni dan budaya,” cetus Irene

Kalau masalah memang terkait seni budaya, yang banyak di kritisi itu masalah kedatangan Keith Martin yang tidak ada hubungan dengan Sumatera Selatan

“Keith martin itu undangan kenapa harus dikritisi, udah dari dulu Cheng Ho bukan dari Palembang,  itu dari dinasty ming dari China datang kesini , kenapa harus di kritisi,  saya kira wajar-wajar saja di undang oleh pak Gubernur datang, kemudian dia kita suruh menyanyi, tapi kita juga memperkenalkan lagu Palembang, setelah itu nyanyi juga lagu palembang.” Tutupnya. (SN)