Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lahat, Ir H Hapit Padli MM

LAHAT, HS,- Mengatasi kondisi gagal panen yang dialami sejumlah petani, khususnya di areal persawahan Desa Manggul, Kecamatan Kota Lahat, akibat serangan hama hingga menyebabkan 75 persen buah tanaman padi setempat tak berisi.

Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Lahat melalui Dinas Pertanian menawarkan sejumlah bantuan. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian, Ir H Hapit Padli MM, setelah berdialog langsung dengan para petani Desa Manggul, Kecamatan Kota Lahat.

Menurutnya, penanggulangan jika dilakukan sekarang sudah terlambat karena areal persawahan tersebut tengah menjelang masa panen. Sehingga, yang harus dilakukan adalah pembenahan ke depannya.

“Pas saya tiba di sawah tadi dan melihat kondisi padinya, saya pikir ini sudah terlambat kalau mau ditanggulangi. Tinggal lagi, penanggulangan untuk masa tanam berikutnya,” kata Hapit, didampingi rombongan dan Babinsa Koramil setempat kepada para petani.

Dilihat dari kondisi padi, hama yang menyerang areal persawahan para petani setempat merupakan jenis penyakit BLB dan Blas, dimana penyakit ini menyebabkan leher malai mengalami busuk atau patah sehingga proses pengisian malai terganggu dan banyak terbentuk bulir padi hampa.

Untuk itu, lanjut H Hapit, diperlukan pengendalian secara dini mengingat penyakit Blas dapat ditularkan melalui benih.

“Diantaranya menggunakan pestisida organik seperti dari daun serai, kunyit, dan buah pinang, yang nanti akan kita ajarkan. Sebab, ini sudah saya kembangkan di Desa Tanjung Aur, Kecamatan Kikim Tengah, dan berhasil. Sekarang mereka tengah siap masa panen,” terangnya.

Selain itu, sambung dia, para petani juga dianjurkan untuk mengganti varietas padi yang digunakan. Sebab memang varietas padi yang digunakan para petani Desa Manggul saat ini, yakni Ciherang, rentan dari serangan hama ataupun penyakit.

“Kedepan akan kita ganti varietasnya dengan jenis Ciliwung, yang memiliki daya tahan baik terhadap hama ataupun penyakit. Nanti akan kita bantu penyediaan benihnya,” ucap H Hapit.

Lebih lanjut, pria berkacamata ini juga menawarkan bantuan bibit jagung sebagai diversifikasi tanaman selang pasca panen kepada para petani setempat, dengan tetap mempertahankan tanaman padi yang ada. Menurutnya, pengembangan tanaman jagung dinilai sangat cocok dan memiliki prospek yang baik bagi para petani.

“Apalagi, kita tahu posisi harga jagung saat ini kan lumayan, berkisar Rp.3.000 hingga Rp.3.500. Sedangkan potensi produksi jagung sendiri diperkirakan bisa mencapai 9 hingga 12 ton per hektar. Dengan demikian, petani dapat menghasilkan keuntungan tambahan sebesar Rp. 27 juta hingga Rp.36 juta per hektarnya dari hasil penjualan jagung ini,” paparnya.

Bantuan berupa bibit jagung ini sendiri, disamping pula benih padi jenis Ciliwung ini, akan diberikan secepatnya bagi para petani Desa Manggul pasca panen, termasuk juga bantuan yang dibutuhkan lainnya. Selain itu, disampaikannya kepada kelompok Tani setempat, bahwa pihaknya siap terjun ke lapangan minimal seminggu sekali, untuk memberikan penyuluhan seputar pertanian.

“Tinggal anda sepakati, di mana mau digelar kegiatannya,” sampai H Hapit.

Diungkapkan H Hapit, jika dilihat secara sekilas, sebetulnya pada petani di Desa Manggul sendiri sudah menerapkan pola tanam yang baik. Tinggal lagi, yang diperlukan adalah penggantian varietas dan pergiliran jenis tanaman.

“Kunci pengembangan pertanian ini ada empat, pertama, mulan. Kedua, pupuk berimbang, ketiga sistem tanam dan keempat, pengendalian hama penyakit,” pungkasnya. (STR)