Gaharu

Di hutan Pasir Hitam, Desa Sungai Jeruju, Kecamatan Cengal, Kabupaten OKI, Sumsel, masih ditemukan banyak pohon gaharu. Foto: Sengguk

Haluansumatera.com – Kayuagung | Pohon gaharu merupakan komoditas andalan Kerajaan Sriwijaya dalam mengendalikan jalur perdagangan antara Tiongkok dan India selama lima abad (7 – 12 Masehi). Kayu gaharu yang dihasilkan di Nusantara bersama komoditas lainnya seperti cengkih, pala, gading gajah, kepulaga, emas dan timah, diperdagangkan hingga ke Tiongkok atau India.

Ternyata, keberadaan kayu gaharu masih ditemukan di hutan rawa gambut di wilayah Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, yang di sekitarnya banyak ditemukan situs permukiman masyarakat semasa Kerajaan Sriwijaya.

Misalnya di hutan rawa gambut Pasir Hitam, Desa Sungai Jeruju, Kecamatan Cengal, OKI, sekitar tiga kilometer lokasi situs pemukiman Kerajaan Sriwijaya. Di hutan yang masih terdapat sejumlah pohon khas rawa gambut ini, ditemukan sejumlah pohon gaharu. Hanya saja, pohon gaharu yang usianya ratusan tahun sudah tidak ada lagi.

“Beberapa pohon gaharu yang ukuran besar sudah banyak ditebang warga,” kata Jumbul, warga Dusun Talang Petai yang pergi bersama beberapa warga ke lokasi hutan rawa gambut tersebut, akhir pekan lalu.

Selain di Desa Sungai Jeruju, pohon gaharu yang disebut warga lokal pohon “mengkaras” juga ditemukan di berbagai lokasi rawa gambut di Desa Sungai Jeruju dan Desa Ulak Kedondong. “Namun sebagian besar sudah habis ditebang, terutama saat ramainya usaha kayu di Cengal dulu,” jelas Jumbul.

Pohon gaharu yang warnanya kehitaman yang mengandung resin khas dari sejumlah spisies pohon dari marga Aquilaria, terutama A. malaccensis, telah menjadi komoditi perdagangan sejak awal era modern sekitar 2000 tahun lalu, karena aromanya wangi. Kayu gaharu banyak digunakan pada masyarakat India, Persia, Afrika Timur, dan jazirah Arab.

Baca Juga
Perbasi OKI Gelar Kejuaraan Bola Basket Bupati Cup 2016
KPU OKI Butuh Rp70 M untuk Gelar Pilkada
Warga Sungai Pinang Minta Disediakan Alat Damkar di Tiap Kecamatan

Dikutip dari Wikipedia, ada dua jenis pohon gaharu yang berkembang. Yakni gaharu dari famili Themeleaceae dengan jenis Aquilaria spp yang biasa disebut “gaharu beringin” dan kualitas sedikit lebih rendah disebut “gaharu buaya”. Pohon gaharu yang masih tersisa di hutan rawa gambut di pesisir timur Sumatera Selatan umumnya pohon gaharu buaya.

Nurhadi Rangkuti, arkeolog dari Balai Arkeolog Sumsel, mengatakan hampir setiap wilayah rawa gambut di pesisir timur Sumatera Selatan, yang berdekatan dengan penemuan situs pemukiman Kerajaan Sriwijaya maupun sebelumnya, memang ditemukan tanaman gaharu.

“Kemungkinan besar gaharu ini ditanam atau dibiarkan tumbuh karena digunakan oleh masyarakat Sriwijaya pada masa lalu, juga dijadikan komoditas yang diperdagangkan ke luar negeri pada masa itu,” kata Nurhadi.

Potensi ekonomi

Pohon gaharu di hutan rawa gambut di pesisir timur Sumatera Selatan, merupakan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. “Kami baru sadar ternyata sejumlah tanaman khas gambut yang dulunya banyak ditemukan di hutan memiliki nilai ekonomi tinggi, seperti bambu, jelutung, dan gaharu. Jadi alangkah baiknya pemerintah mendorong kami untuk membudidayakan tanaman ini,” kata Jumbul.

Bahkan, kata Jumbul, menanam pohon gaharu juga tidak bertentangan dengan karakter lahan rawa gambut termasuk mengubah karakter lahannya seperti kelapa sawit. “Ini tanaman yang turut menjaga lahan gambut atau tidak merusak lahan gambut,” ujarnya.

“Kami menyesal, selama ini menebangi pohon-pohon yang merupakan khas rawa gambut. Selain kehilangan potensi ekonomi juga merusak lahan,” ujarnya.

“Saya pikir skema Taman Sriwijaya yang kita usung dapat dijadikan upaya menghidupkan kemandirian ekonomi masyarakat yang tidak lagi bergantung pada sawit, karet, tapi pada tanaman berkarakter lahan gambut. Gaharu, jelutung, bambu, serta tanaman lain seperti sagu, aren, merupakan tanaman khas yang sudah dibudidayakan sejak masa Sriwijaya. Tanaman ini yang akan menghiasi Taman Sriwijaya. Ini sesuai amanat Raja Sriwijaya dalam Prasasti Talang Tuwo, yang tidak menanam tanaman monokultur serta tata kelola air yang baik,” kata Nurhadi Rangkuti yang juga pegiat Tim Spirit Sriwijaya untuk pelestarian lingkungan hidup.(TW)