PALEMBANG, HS – Wasista Bambang Utoyo (WBU) menggalakkan kembali budaya gotong royong guna mewujudkan Desa Mandiri.

Kamis, 9 Maret 2019, WBU menggelar sosialisasi empat pilar. Kegiatan sosialisasi ini diikuti para wirausaha muda, tokoh masyarakat, pemuda, serta kaum perempuan yang berasal dari wilayah Palembang dan Banyuasin. Sosialisasi yang dipusatkan di kawasan WBU Solution Centre Jalan Bambang Utoyo Nomor 02, 5 Ilir, Kota Palembang itu penuh dengan rasa kekeluargaan.

“Insyaallah lewat sosialisasi empat pilar ini dapat membangun hubungan silaturrahim sesama kita. Dan ini, akan terus kita jaga sampai kapanpun,” ucap WBU.

WBU yang kini masih menjabat anggota DPR/MPR RI dari Daerah Pemilihan Sumatera Selaran I itu melanjutkan, adapun tema sosialisasi yang diangkat adalah “Pemahaman mengenai Sistem Ketatanegaraan Indonesia dan Pelaksanaan Undang Undang Dasar 1945”.

“Ya, barangkali bagi saya yang terpenting bisa terus turun ke lapangan untuk mengimplementasikan pelaksanaan UUD 1945. Sehingga saya lebih paham bagaimana kondisi sosial dan budaya yang dihadapi masyarakat. Kita pun memahami bahwa negara ini sebenarnya memiliki budaya yang luar biasa hebatnya yang saat ini mulai luntur di tengah-tengah masyarakat yaitu budaya gotong royong,” sambung Wasista.

Semangat dan gelora budaya gotong royong tak asing lagi pastinya bagi masyarakat luas. Bersebab itu, WBU juga sepakat budaya gotong royong menjadikan kehidupan masyarakat Indonesia lebih berdaya dan sejahtera.  Dengan budaya gotong royong, berbagai permasalahan kehidupan bersama bisa terpecahkan secara mudah dan murah,

“Nah, demikian pula jika dikaitkan dengan kegiatan pembangunan masyarakat serta rasa persatuan dan kesatuan akan semakin erat,” ia menuturkan.

Berikutnya WBU menyampaikan, era globalisasi adalah suatu keniscayaan dan masyarakat sungguh tidak dapat menghindarinya. Tinggal lagi mampukah kita memfilternya sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila?. Di sisi lain, tak sedikit pula anggaran yang digelontorkan Negara demi kemajuan masyarakat di pedesaan.

“Anggaran desa cukup besar nilainya. Bila itu dikemas sedemikian rupa lewat budaya gotong royong, yakinlah saudara-saudaraku menciptakan Desa yang Mandiri tidaklah berat,” WBU optimistis. (rey)