PALEMBANG,HS – Meski belum pernah mendengar nama “Jeni” petani yang viral di Media Sosial beberapa waktu lalu, Gubernur Sumsel H Alex Noerdin berharap akan ada “Jeni ” lainnya di Sumatera Selatan ini.

Jeni sendiri merupakan lelaki berusia 41 tahun ini yang pekerjaannya sebagai petani pembaharu berasal dari Desa Banyu Biru, Kabupaten Ogan Komering Ilir.

Gubernur Sumsel H Alex Noerdin, saat pembukaan pameran the 1st Asia Bonn Challenge High Level Roundtable Meeting, di Halaman Griya Agung Palembang, Senin (8/5).

Meski terkejut mendengar hal tersebut, orang nomor satu di Sumsel ini bangga dan sangat mendukung atas perilaku lelaki berusia 41 tahun tersebut yang berhasil menggerakkan warga desanya untuk meninggalkan teknik membakar dalam membuka lahan pertanian.

“Memang membuka lahan tanpa membakar ini merupakan tujuan kita. Jadi, kita dukung sikap Jeni yang merupakan petani asal OKI itu,” ungkap Alex Noerdin.

Dikatakannya, untuk bentuk dukungan yang diberikan kepada Jeni tersebut, dirinya masih belum dapat mengetahui, sebab ia juga baru mendengar kabar itu. Namun, dipastikan Gubernur Sumsel, Pemprov Sumsel akan mendukung petani-petani inspiratif.

“Saya baru dengar hal ini, jadi saya belum tahu bentuk dukungan apa yang diperlukan petani Jeni. Tapi, yang jelas kita mendukung ini,” tutur Alex.

Alex juga menambahkan, apa yang dilakukan petani Jeni dapat dijadikan salah satu alternatif membuka lahan tanpa harus membakar. Selain itu, Dinas pertanian Sumsel telah membagikan 2.725 hand traktor dan 729 pompa air kepada petani di 17 kabupaten/kota untuk membuka lahan tanpa membakar.

“Memang membuka lahan dengan membakar ini merupakan metode yang paling murah dan mudah, tapi masih ada banyak cara lain, seperti yang dilakukan Jeni,” tegasnya.

Sebelumnya, dunia maya sempat dihebohkan akan sikap Jeni, seorang petani asal Sumsel. Dimana, perubahan perilaku dalam bercocok tanam yang telah dilakukan secara turun-temurun ini tidaklah mudah. Berbagai ancaman dan intimidasi ia dapatkan di awal perjuangan Jeni karena dianggap menghambat kegiatan pencaharian warga desa.

“Pokoknya kalau kami menanam padi ini gagal, kami akan datangi rumahmu, kami bawakan parang,” ujar Jeni menirukan ancaman salah satu warga.

Tanpa kenal lelah, Jeni mensosialisasikan cara mengolah lahan tanpa menggunakan metode bakar kepada masyarakat desanya. Apa yang dipromosikan Jeni sebetulnya merupakan teknik yang sudah lumrah dipraktikkan dalam dunia pertanian yaitu menggunakan herbisida (bahan penyiang gulma) dan larutan bakteri dekomposer sebagai pengganti metode pembakaran lahan.

Kegigihan Jeni dalam memperjuangkan apa yang diyakininya telah menginspirasi masyarakat sekitarnya. Kini, banyak petani Banyu Biru telah merasakan panen hasil taninya tanpa menggunakan metode bakar lahan. Masa-masa sulit pembukaan lahan telah terlewati, dan satu per satu petani Banyu Biru mulai mengakui bahwa ternyata memungkinkan untuk mengolah lahan tanpa membakar terlebih dahulu.

Saat ini, terdapat 7 kelompok tani di desa Banyu Biru, dengan anggota per kelompok mencapai 30-60an orang. Kelompok tani yang dikepalai Jeni sendiri beranggotakan 64 orang, bernama Barokah Sri Rejeki. Mereka disediakan lahan seluas 127 hektar untuk bercocok tanam. Lahan ini merupakan bagian dari areal tanaman kehidupan salah satu mitra pemasok Asia Pulp & Paper (APP) Sinar Mas.

“Karena masih dalam fase adaptasi, tahap awal hasil panen padi tanpa proses membakar memang masih belum maksimal, tapi saya bertekad untuk terus berjuang agar dapat meningkatkan hasil produksinya,” pungkasnya.(MDN)