PALEMBANG,HS – Hedro Pemilik Usaha Jual Beli dan jasa Servis mesin Tik Thomas Dipasar Cinde Satu – Satunya dikota palembang Yang masih menjual dan menerima servis mesin Tik tersebut

Sekilas gambaran ketika wartawan Haluansumatera.com menemui Bapak 4 orang anak ini di petak atau kios jualan di pasar yang terkenal dengan arsitek cendawannya.

Ya, keseharian Hendro kini, menunggu finalisasi jejak usahanya kedepan bagaimana Mengingat, Cinde kini dalam rencana akan dilakukan revitalisasi, diubah menjadi lebih modern.

Sebagai salah satu pemilik kios disana, ia mengakui memang sudah mendapatkan sosialisasi dari pihak otoritas, utamanya pengelola pasar terkait akan dipindahkannya sementara lokasi jualan pedagang ke badan jalan, di Candi Welan

Terlihat, pantauan Wartawan jalan di Candi Welan, sudah ditutup dengan pagar seng di depan dan di belakang, khusus belakang masih bisa di akses masuk hanya berbentuk pintu.

Tak ada lagi kendaraan baik roda dua maupun roda empat, bisa masuk bahkan melintas di jalanan tersebut. Penutupan ini, tak lepas akan adanya relokasi sementara pedagang selama proses revitalisasi yang sedang dilangsungkan.

Ada sekitar panjang 100 meter di badan jalan yang ditutup. Rencananya, Diakui Hendro, akan dibangun petak sementara untuk pedagang Cinde berjualan, ukurannya Petak sekitar 2 x 1,5 meter, memang lebih kecil dari kios di Cinde.

Untuk sementara, ia mengakui, belum ada informasi lanjutan kapan akan dibangun petak sementara tersebut, karena pihak terkait ini masih rapat.

Sejauh ini, terkait petak sementara, Hendro mengatakan sudah 3 atau 4 kali rapat, antara pihak pasar (pengelola,red) dan Aldiron (pengembang Cinde Modern,red).

Kalau jadi petak sementara, kata pria yang sejak 1970 berusaha di Cinde ini, akan dibangun 800 petak bagi pedagang, sisi kanan dan kiri di badan jalan sekitar Pasar Cinde.

“Dibuat dua baris, masing-masing petak saling berhadapan.”ujarnya saat diwawancarai wartawan rabu (22/2),

Dia juga menambahkan, Sehingga di tengah kan ada ruang, itu nanti untuk pejalan kaki atau bisa juga sepeda motor lewat disana. Atas rencana revitalisasi Cinde, ia mengakui akan mengikuti saja.

“Dak pacak ditolak lagi, pedagang pasrah Ditolak juga percuma, ini tetap akan dibongkar, karena kebijakan pemerintah.” urainya

Dan, memang, berdasarkan penjelasan otoritas setempat, Hendro dan pedagang yang mempunyai kios di Cinde akan diprioritaskan mengisi cinde modern nantinya.

Telah 35 tahun, pria generasi ketiga usaha mesin Tik ini menjalani bisnis turun menurun ini Pengalamannya bercerita, dulu, pertama kali meneruskan bisnis dari sang ayah, adalah masa-masa paling jayanya, ketika itu, Thomas sangat terkenal.

Bukan hanya di Palembang, dibeberapa kabupaten kota di Sumsel mengenalnya, selalu menggunakan jasanya. Kenangngan Hendro, waktu itu tahun 1970-an, ayah menjalankan usaha ini, dari nenek awalnya kehalian kami.

Lalu, ingat dia, mulai umur saya 10 tahun sudah ikut orang tua sambil belajar servis mesin Tik Karena memang keturunan, keahlian mudah diserap ilmunya.

Pria kelaharian Palembang, 30 Maret 1954 ini, menjalankan usaha Thomas sejak 1984.

“Ya, Dulu tahun 1980-an ke bawah, jamannya pak Harto usaha mesin Tik ini sedang jaya-jayanya. Merek Thomas ini terkenal di kantor gubernur, kantor pemerintah lainnya pemkab/pemkot.”jelasnya

Dia juga mengakui, Termasuk, akui kantor-kantor swasta juga menggunakan jasa Thomas, bahkan bukan hanya dipalembang konsumennya dari Linggau dan Lahat, dan dari mana-mana kenalnya dengan kita.

Masa dulu, memang, tak banyak orang yang mempunyai keahlian di mesin Tik.

“Paling ada 3 orang, termasuk Thomas, kalau sekarang lainnya sudah tidak ada lagi, tinggal Thomas yang bertahan dari dulu sampai sekarang,”katanya

Dia juga Sempat menceritakan, Jayanya usaha Thomas kala itu, tak lepas dari kantor-kantor banyak menggunakan mesin Tik Sayangnya, setiap usaha ada masa, dan setiap masa ada trennya tersendiri.

“Sejak tahun 2000, usaha ini mulai turun penggunanya,”ulasnya.

Di zaman komputerisasi ini Hendro, mengakui tetap akan bertahan dengan usaha ini Puluhan mesin Tik, dan puluhan orang yang menggunakan keahliannya dalam servis mesin Tik, kala pria yang tinggal di sekitar Candi Welang ini di masa jayanya.

Kini, paling banyak hanya 1 unit mesin Tik saja yang mampu terjual dalam 1 bulan. Itupun dihargai Rp 500 ribu per unitnya. Begitu juga jasa usaha servisnya, hanya 1 pelanggan saja setiap bulannya, kisaran Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu saja.

Untuk rusak ringan, Rp 150 ribu, sedangkan kalau ada rusak berat, seperti ada bagian yang patah, ada penggantian alat itu dikenakan jasa usaha Rp 300 ribu.

“Kalau rusak ringan, bisa perbaikan pir, atau perbaikan huruf yang loncat, rusak berat ada yang patah, letter-nya hilang dan lainnya,”ulasnya.

Dengan total uang usaha diatas, ia menggunakannya untuk biaya (retribusi,red) bulanan kios di Cinde, sekitar Rp 450 ribuan. Bagaimana dengan makan minum sehari-hari ? Pria yang diusia senjanya terlihat masih gagah ini, mengaku makan minum di rumah anak kito, sulit nian sekarang ini.

Nah, bagaimana usahanya kedepan? Mengingat sepinya peminat, lalu belum lagi dikabarkannya biaya petak atau kios baru nanti yang meningkat. Angkanya Rp 20 juta setiap tahun dibayarkan selama 20 tahun oleh pedagang.

Angka ini, jika dirata-ratakan,l sekitar Rp 54 ribu per harinya, dan terus dibayarkan selama 20 tahun kedepan Jelas, akui Hendro, sangat memberatkan itu Rp 20 juta per tahun harus dibayar kontan kalau saja bisa ada keringanan.

Seperti, saran dia, pedagang lama diberikan kemudahan membayar secara harian saja, kalaupun Rp 50 ribu akan diusahakan.

“Kalau sekaligus Rp 20 juta untuk 1 tahun, dari mana dapat uangnya.” Dan memang, retribusi harian selama ini di Cinde kisaran Rp 14 ribu saja. Kalaupun jadi Rp 20 juta, lemak menambah modal anak aku.

Bisa jadi, para pedagang lama memberatkan biaya sewa tahunan, jikalau usahanya tak berjalan maksimal, secara bisnis, maka dengan pola harian, tak akan rugi banyak pedagang.

“Saya ini sudah tuo dak mungkin buka usaha lain (diluar mesin tik,red). Kalau memang nanti, hitungannya rugi, bisa saja saya tak ambil kios di Cinde.”pungkasnya

Lapak yang selama ini diusahakam anak dari Rozali Thomas, merupakan hak miliknya, dibeli tahun 1994 silam seharga Rp 4,5 juta. Kalau tak ambil kios di Cinde Modern nanti, Hendro akan kehilangan kiosnya, dan dirinya mengaku pasrah.

“Ya, pasti jatah kios saya kembali ke pemerintah, tentunya pemernintah akan mencari pedagang lain yang mau mengisi kios saya, mau bagaimana lagi kalau memang tak menguntungkam bagi bisnis yang di jalani,”keluhnya.

Hendro, generasi ketiga keluarga Thomas, usaha turun temurun di bidang mesin tik, memilih mengikuti kehendak dari pemerintah daerah. Tak memiliki penerus ke empat, karena dua anak laki-lakinya, membuka usaha bengkel di Cinde dan ekspedisi di Solo, mengaku pasrah. (MDN)