MUARAENIM,HS – Setelah sukses menggelar Festival Durian akhir Januari lalu, Kabupaten Muaraenim kembali mencuri perhatian dengan menggelar Festival Melemang dan Ngopi Bareng yang tak kalah menarik, Sabtu (23/3) siang di halaman GOR PT Bukit Asam, Tanjung Enim. Tak pelak, terobosan Kabupaten Muaraenim ini mendapat apresiasi khusus dari Gubernur Sumsel Herman Deru.
“Ini luar biasa. Kabupaten Muaraenim begitu aktif  mengkreasikan dirinya agar dikenal semua orang. Selain berdampak pada perekonomian, ini juga membuat masyarakat Muaraenim bahagia,” ujar mantan Bupati OKU Timur dua periode itu diwawancarai usai acara.
Gubernur Sumsel itu mengatakan sejak awal tahun 2019 lalu hampir 5-6 acara kreatif yang sudah digelar Kabupaten Muaraenim. Kreatifitas itu menurutnya patut didukung agar masyarakat tidak terpaku mengandalkan keindahan alam untuk mendongkrak pariwisata.
“Selama ini kita hanya berkutat pada pemikiran bahwa pariwisata itu hanya suguhan alam. Padahal kreativitas manusia juga bisa seperti Festival Durian, Festival Melemang, termasuk museum batubara yang akan dibangun PTBA,” ujarnya.
Dikatakan Herman Deru sebelum diadakan festival melemang,  penganan ini hanya dianggap makanan biasa oleh masyarakat maupun orang luar. Namun dengan difestivalkan seperti ini, kreatifitas masyarakat langsung muncul menghasilkan lemang yang beragam rasa dan warna sehingga membuatnya menjadi menarik dan memiliki nilai jual.
“Contohnya lemang ini, selama ini orang hanya tau ini hanya sebuah bungkusan daun tidak begitu istimewa. Tapi setelah diadakan festival lemang  bisa dikenal dan disuka. Orang berlomba-lomba membuat lemang yang enak, hasilnya kini lemang jadi terkenal. Nah ini butuh upaya serius dari Pemkab dan masyarakat setempat” tambahnya.
Ia berharap festival semacam ini terus dibuat oleh Kabupaten Muaraenim dan dipublish secara terus menerus sehingga Lemang dan kearifan lokal lainnya semakin dikenal. Dengan demikian ditargetkan akan menarik perhatian masysrakat luar menjadikan Muaraenim sebagai daerah tujuan destinasi wisata.
” Dampaknya pasti ada, geliat ekonomi khususnya UMKM akan hidup. Ini juga yang mendorong sayang datang kesini. Harapan saya ini didukung juga perusahaan-perusahaan tambang yang beroperasi di Muaraenim. Sehingga Muaraenim ini bukan hanya terkenal dengan tambangnya tapi juga pariwisatanya juga. Dengan pemberitaan terus menerus ia yakin Muaraenim tak akan kalah dengan Banyuwangi yang sudah lebih dulu terkenal” jelasnya.
Tak hanya membahas soal Lemang, pada kesempatan itu ia juga membahas soal Kopi sebagai komoditas andalan Sumsel selain katet dan sawit. Menurutnya tak lama lagi Kopi asal Sumsel akan terkenal karena awal Maret lalu ia sudah mengoperasikan Pelabuhan laut Tanjung Api-Api. Dengan pelabuhan ini, Kopi Sumsel yang selama ini diklaim daerah lain akan terkenal dengan namanya sendiri karena keluar dari pelabuhan Sumsel.
Di ujung sambutannya Gubernur yang terkenal dengan Program 1 Desa 1 Rumah Tahfidz itu meminta kepada pemerintah kabupaten untuk memperhatikan masyarakat dengan merangkul UMKM dan melakukan pembinaan secara serius agar Jangan sampai kegiatan ini hanya menjadi seremonial semata.
” Ini penting agar masyarakat Muaraenim bahagia karena ini berpengaruh pada tingkat kebahagiaan masyarakat Sumsel,” jelasnya.
Sementara itu Bupati Muaraenim Ahmad Yani mengatakan, festival ini tidak hanya untuk menarik kunjungan saja melainkan untuk menurunkan angka kemiskinan di Sumsel hingga 1 digit.
“Kami harap ini mendorong pergerakan ekonomi lokal juga meningkatkan daya saing. Kalau ekonomi masyarakat hidup kita bisa ikut menurunkan angka kemiskinan di Sumsel,” jelasnya.
Dalam pelaksanaan festival ini Ahmad Yani mengakui banyak mendapat dukungan dari perusahaan di sekitar salah satunya PTBA dan juga Bank Sumsel Babel (BSB). Dia berharap ini akan diikuti BUMN dan perushaan lainnya sehingga kegiatan bisa digelar dengan kapasistas yang lebih besar.
“Semoga ada dampak positif dalam upaya kami meningkatkan pariwisata dan menumbuhkembangkan potensi lainnya di Muaraenim. Termasuk komoditas kopi yang saat ini masih terkendala keberlangsungan produksinya” jelas Ahmad Yani.
Di tempat yang sama Direktur Produksi PTBA Suryo Eko Saputro menjelaskan kegiatan ini meruoakan rangkaian HUT PTBA ke 38 san 100 tahun kehadiran kegiatan penambangan di Muaraenim.
“ini hanya bagian kecil. Kami ingin mewujudkan Tanjung Enim dan Muaraenim sebagai daerah destinasi terbaik di Sumsel. Program ini sudah dicanangkan beberapa waktu lalu dan didukunh kuat Bupati. Karena kami yakin Wisata adalah salah satu sektor yang tidak terpengaruh gejolak ekonomi,” ujarnya.
Seperti di Bali menurutnya demikian pula masyarakat Muaraenim. Setelah operasional tambang berakhir pihaknya tak ingin ini menjadi kota mati dan ditinggalkan. Dengan. membangkitkan ekonomi wisata diharapkan masyarakat setempat tidak akan selalu bergantung dengan hasil tambang di masa depan.
Festival unik tersebut tampak sangat meriah. Selain diramaikan dengan lomba membuat lemang, para tamu dihibur dengan penampilan fashion show batik khas Serasan Sekundang.
Bahkan tamu undangan juga disajikan lemang dengan kopi sebagai pendampingnya.