PALEMBANG,HS – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan akan menguyur beberapa wilayah di Sumatera Selatan pada 27 hingga 29 Oktober mendatang. Meskipun diguyur hujan, diprediksi masih belum bisa mengatasi Kebakaran Lahan dan Hutan (Karhutla) di Sumsel.

Kepala BMKG Stasiun Kenten, Nuga Putrantijo mengatakan, hujan yang akan melanda Sumsel di akhir Oktober itu disebabkan melemahnya Badai Tropis Bualoi yang berpotensi munculnya Borneo Vorteks (Sirkulasi Kalimantan) yang menyebabkan masuknya massa udara dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa ke wilayah Sumsel.

Potensi dengan kriteria hujan sedang lebat diprediksi terjadi di Kabupaten Musi Rawas (Mura), Muratara, Lubuk Linggau, Empat Lawang, Pagar Alam, Musi Banyuasin (Muba), Lahat, PALI, Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Selatan, Muara Enim, Prabumulih, Banyuasin, dan Palembang.

Kemudian, potensi dengan kriteria hujan ringan akan terjadi di wilayah Kabupaten OKI, Ogan Ilir, serta OKU Timur. “Potensi hujan akibat faktor lokal awan konvektif dan orografis juga berpotensi turun di wilayah Sumsel bagian barat karena kelembapan udara lapisan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan dan berdataran tinggi. Biasanya hujan yang terjadi berlangsung sebentar, sporadis atau berbeda tiap tempat dan berpotensi petir disertai angin kencang,” jelasnya.

Menurutnya, meskipun hujan akan melanda Sumsel pada akhir Oktober nanti, belum bisa sepenuhnya menghilangkan kabut asap di Palembang karena sumber Karhutla di OKI tidak terlalu banyak terpapar hujan.

“Karhutla diyakini akan benar-benar hilang jika terjadi hujan sistem konvektif berskala Meso dengan indikasi awan hujan cumulonimbus yang memanjang lebih kurang 200 Kilometer karena hujan yang diakibatkanya berlangsung lama dan biasanya terjadi pada malam hingga pagi hari,” ungkapnya.

Sementara itu, Gubernur Sumsel H Herman Deru, melalui kepalaBadan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Iriansyah didampangi kadis Kominfo Sumsel A Rizwan,mengakui pihaknya masih kesulitan untuk memadamkan Karhutla di Sumsel. Faktor yang membuat kesulitan itu karena lokasi lahan yang terbakar itu masih kesulitan air karena sampai sekarang masih musim kemarau

Selain itu, faktor cuaca yang panas dan kencangnya tiupan angin membuat kebakaran lahan cepat meluas.

“Petugas masih terus berusaha untuk memadamkan api. Kami juga telah mensiagakan sembilan helikoper pengebom air, satu pesawat patroli udara, dan satu helikpiter patroli udara dan juga dua pesawat teknik modifikasi cuaca (TMC), tapi saat ini belum bisa dilakukan karena awan pembentuk hujan belum ditemukan,” tutupnya.