IMG_5852

PALEMBANG, HALUAN SUMATERA – Ketua Dewan Kesenian Palembang (DKP) beserta para seniman di Kota Palembang sangat menyesalkan ketiadaan kompetisi Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) di tingkat Provinsi Sumatera Selatan. Jelas sekali dihapuskannya kegiatan tersebut, membunuh daya kreatifitas dan prestasi pelajar.

“Jujur, kegiatan ini sangat baik, sesuai dengan visi revolusi mental. Secara masif kegiatan ini hampir seluruh sekolah berpartisipasi. Untuk itu, seluruh seniman tidak setuju. Jangan bunuh prestasi dan nilai kreatifitas anak-anak kita,” demikian ungkap Vebri Al Lintani Ketua DKP kepada HALUAN SUMATERA, Jumat (19/8/2016).

Vebri menyampaikan, ia sangat menyayangkan peristiwa kompetisi di tingkat provinsi tidak diselenggarakan lagi.

Sementara itu, para peserta didik dari berbagai sekolah di Palembang khususnya sudah “Berdarah-darah” agar bisa berkompetensi dalam ajang tersebut.

Pada tingkat kota, ujar Vebri, sudah diadakan kompetisi FLS2N. Para peserta dari SD hingga SMA tingkat kota Palembang yang berhasil melaju, seharusnya ikut berkompetisi ditingkat provinsi.

“Dengan alasan ketiadaan dana, maka ditingkat provinsi tidak diadakan. Dan peserta yang nantinya akan diikutkan ditingkat nasional pada akhir Agustus nanti, sistem main tunjuk,” cetus Vebri.

“Jelas alasan itu sebenarnya tidak berdasar. Kasihan anak-anak yang sudah berdarah-darah berlatih hanya untuk ikut seleksi di tingkat provinsi, malah provinsi tidak mengadakan. Bahkan mereka seperti main tunjuk saja untuk peserta yang ikut ditingkat nasional,” tambahnya.

Karena itu, DKP menyatakan sikap atas ketiadaan kompetisi FLS2N di tingkat provinsi.

Pertama, meminta gubernur untuk mengevaluasi jajarannya terkait FLS2N. Kedua, meminta pihak terkait untuk meminta maaf atas kebijakan yang salah ini. Ketiga, menetapkan program FLS2N sebagai program rutin dengan anggaran biaya yang proporsional tiap tahunnya. Keempat, FLS2N tingkat provinsi dikelola pihak yang berkompeten.

“Sekali lagi, kami menilai dengan ditiadakannya FLS2N ini, otomatis kita telah membunuh kreatifitas anak-anak kita.  Cukup banyak para peserta festival dan lomba seni yang menangis. Mereka saya lihat, sangat terpukul,” Vebri menyampaikan. (ERS)