Edy Fahyuni, pelukis asal Sumsel

Edy Fahyuni, pelukis asal Sumsel

 PALEMBANG, HS –  Edy Fahyuni boleh dikata sang perupa flamboyan di kota ini. Sempat ditentang oleh orangtuanya, namun Edi Fahyuni sedikitpun tak gentar. Ia begitu menikmati karya lukisan. Kini, Edy pun layak disebut sang perupa flamboyan. Dia bahkan turut serta menyeka ‘luka’nya seni rupa di kota ini.

Insprirasi seni rupa yang dilakoni Edy Fahyuni atau akrab disapa Mang Edy ini berawal saat ia duduk di bangku sekolah dasar. Terbatasnya ekonomi tak mematahkan Edy untuk terus memilih seni rupa pilihan hidupnya.

“Keluarga aku tidak pernah sudi aku jadi pelukis. Kehendak mereka aku ingin jadi pegawai negeri. Dan, aku tak pernah menyesal hidup dari seni rupa ini,” Edy berkata.

Edy Fahyuni tak pernah menyerah untuk menjadi seorang pelukis yang jujur

Edy Fahyuni tak pernah menyerah untuk menjadi seorang pelukis yang jujur

Jauh sebelum jatuh cinta pada seni rupa, Edy menyukai ungkapan pelukis dunia Pablo Picasso. Di matanya, kejujuran sangat penting dalam dunia berkesenian.

“Hingga kini aku lebih suka kalimat yang disampaikan Pablo Picasso itu. Kejujuran saat berekspresi bahwa anak-anak justru mainkan imajinasi yang tiada mati.

Bergelut dengan kanvas dan cat merupakan pandangan yang bukan asing lagi bagi Edy. Ia pun begitu menikmati perannya sebagai pelukis di Kota Palembang ini.

Inilah salah satu karya yang dihasilkan oleh Edy Fahyuni

Inilah salah satu karya yang dihasilkan oleh Edy Fahyuni

“Itu berlaku pada senirupa saja, namun berlaku diprofesi lain. Aku sungguh menikmati apa yang kujalani sekarang ini. Jujur, Bapak aku dulunya tidak setuju aku bergelut dengan  kancas atau cat ini. Ya, aku menikmati profesi ini,” cerita Edy.

Hidup Edy Fayuni seperti air mengalir. Prinsip ini pula yang dipegang oleh Edy saat ia menuangkan cat ke kanvas. Sehingga ia lebih leluasa memindahkan ide pikirannya.

“Jangan tanya aku apa pernah gagal atau tidak. Jujur, pengalaman selama melakoni senirupa ini sama baiknya. Aku tak melihat karya bagus atau yang jelek. Mungkin ada orang yang membatasinya. Coba kalau kita tidak membatasinya. Aku masih ingat waktu itu ada karya lomba sebanyak 20 karya yang dijejer. Satu satu karya itu memiliki keunikan masing-masing. Setelah melihat karya itu, badan terasa enteng dan nyaman. Beda sekali jika aku tidak ngerti, keluar ruangan pun butek,” Edy menyampaikan.

Ucap Edy dalam mendalami ilmu seni rupa tidak ada istilah intervensi. Kadang kala, tanpa disadari banyak orang tua yang intervensi kepada anak-anaknya.

“Aku berpesan jangan sampai ada interventasi saat  anak-anak menyalurkan bakat seninya. Idealnya bimbinglah mereka. Jangan ada kata-kata ini salah yang itu salah. Seadanya aku katakan senirupa ini pilihan sendiri. Agak bingung ya aku menjelaskannya. Sama halnya Anda, kenapa mau pilih profesi jurnalis? Aku juga begitu,” ungkap Edy balik bertanya.

Ketertarikan Edy pada karya-karya seni bermula saat ia duduk di bangku sekolah dasar. Ia pun bahkan sering membantu kawannya soal menggambar. Selanjutnya, keterampilannya terasah ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama. Di SMP ini, Edy sering minggat dari ruangan saat belajar menggambar.

“Dulu kan ado yang namonyo NIM. Nah, aku idak bisa ngisinyo. Ayah aku marah nian..ha..ha..hah,” kata Edy sambil tertawa.

Tutur Edy, dari sisi finansial profesi berkayar dari seni rupa belum dapat memberi jaminan. Namun begitu, seni tidak mensengsarakan. Untuk dijadikan ladang uang barangkali tak bisa.

“Palembang ini bukan Jogya, Bandung, atau Jakarta. Tapi kita ini Kota Palembang, Bung,” sebut Edy mantap.

Di mata Edy Fahyuni, perhatian atau kepedulian pemerintah terhadap seni rupa di Kota Palembang masih sebatas life servis saja. Pendeknya dihibur-hibur sajalah. Apabila ada pameran di luar daerah, logikanya saat dikirim untuk pameran di luar Sumatera Selatan. Apakah tinggal nama saja.

“Terus kalau karya lukisan dibalikkan lagi, siapa yang tanggungjawab? Pemerintah sama sekali tidak peduli. Lalu, mari kita lihat infrstrusktur berkesenian belum memadai. Kalau ada yang mendukung, itu ya sekedar saja. Anda silakan lihat di Padang sejak 1971 ada taman budayanya. Sedang kita, apa?” Edy menegaskan sambil bertutur kondisi taman budaya di kota ini sekarang berubah menjadi mall.

Apa obsesi untuk ke depannya? Edy yang juga pemilik nama email Ladeng Tajem ini dengan setengah bangga menuturkan dia satu-satu peseni rupa yang terpilih mewakili  Sumatera Selatan di ajang Pameran Seni Lukis Ragam Nusantara di Solo, Oktober 2016.

“Barusan saya mengirimkan beberapa karya lukisan ke pameran itu. Kemungkinan saya tak kan berangkat ke sana. Biayanya dari mana…? Ya, inilah barangkali fenomena seniman di negeri ini,” tutup Edy dengan wajah sedikit merendah.  (ERS)