Inilah kondisi salah satu pasar tradisional di Soka Bato, Kota Palembang

Inilah kondisi salah satu pasar tradisional di Soka Bato, Kota Palembang

PALEMBANG, HS – Walikota Palembang Harnojoyo mengatakan, pemerintah kota terus berupaya merevitalisasi pasar tradisional. “Kita akan ubah konsep pasar tradisional menjadi pasar tradisional yang modern, bersih dan rapi,” janji Harnojoyo.

Harnojoyo menyebutkan, di tahun ini saja ada beberapa pasar yang direvitalisasi. Antara lain, Pasar Gandus dan Pasar Soak Bato atau Pasar 26 Ilir. Kesan pasar tradisional adalah tempat yang pengap, becek dan bau serta rawan tindak kejahatan, masih melekat di benak masyarakat. Inilah, kata Harnojoyo, yang bakal diupayakan diubah oleh Pemkot Palembang.

Meski begitu, ujar Harnojoyo, tidak cukup hanya imbauan dari pemerintah. Para pedagang di pasar-pasar tradisional juga harus sadar akan kebersihan dan keindahan. Para penjual juga diharapkan menjaga estetika di tempat mereka berjualan kesan kumuh akan hilang, sembari pemerintah secara bertahap merevitalisasi pasar.
“Seperti di Pasar Cinde itu, jualan pempek terbuka tidak ditutup lagi pakai plastik. Nantinya tak boleh lagi,” ujar Harnojoyo.

Kata Harnojoyo, diperlukan pembinaan yang konsisten dan menyeluruh kepada pasar-pasar tradisional di Palembang agar mampu bersaing dengan pasar ritel modern.

“Ini agar masyarakat kembali menjadikan pasar tradisonal sebagai primadona,” ujar Wali Kota Palembang Harnojoyo, dalam sambutannya yang dibacakan Kepala Bagian Perekonomian Setda Kota Palembang, M Sadruddin Hadjar.

Sadruddin mengatakan, pemerintah kota melalui Perusahaan Daerah Pasar Palembang Jaya, secara bertahap akan membenahi pasar-pasar tradisional yang mereka kelola. Pengelolaan di segala aspek.

“Mulai dari kebersihan pasar, toilet, keamanan dan parkir,” ujar Sadruddin.

Sejatinya, pasar tradisional di Palembang tetap tak kehilangan peminat. Setiap hari, nyaris seluruh pasar di kota ini dipadati pembeli. Misalnya Pasar Perumnas, Pasar Lemabang, Pasar Cinde, Pasar Km 5, Pasar Kuto, Pasar 26 Ilir, dan tentu saja Pasar 16 Ilir sebagai pasar teramai pengunjung di Palembang. Belum lagi Pasar Induk Jakabaring.

Karena itu, pasar-pasar tradisonal di kota ini harus dibina dan dikelola dengan baik. Arti penting pasar tradisional kian terasa karena salah satu poin penilaian dalam Adipura adalah pasar.

“Penilaian itu mulai dari kebersihan toilet, tempat pengolahan sampah, keamanan dan kenyamanan juga dinilai,” Sadruddin menyebutkan.

Apalagi, pasar tradisional itu dinamis. Maksudnya, ada sistem tawar menawar harga barang atau jasa. Tidak seperti pasar ritel modern yang punya harga pas.

“Di poin inilah sebetulnya alasan kenapa warga masih suka datang ke pasar tradisional. Jika pasar tradisional dibenahi lebih baik lagi, tentu pasar tradisional makin diminati,” ujar Sadruddin.

Lanjutnya, penataan pasar tradisional akan mengubah imej negatif terhadap pasar rakyat ini. Masyarakat akan kembali berbelanja di pasar tradisional.

“Itu semua bisa terwujud kalau pedagang dan pengelola pasar mau bekerja sama menatanya,” kata Sadruddin.

Sebelumnya, Direktur Operasional PD Pasar Palembang Jaya, Febrianto, mengatakan, pihaknya secara bertahap akan membenahi 19 pasar tradisional yang dikelola perusahaan milik Pemkot Palembang ini.

“Fasilitas secara bertahap kita perbaiki, sarana dan prasarananya. Termasuk keamanan pasar dan parkir, kita akan menggandeng kepolisian,” ujar Febrianto.

“Di setiap pasar tradisional juga akan disiapkan ATM terpadu,” dia menambahkan. (UDI)