PALEMBANG,HS – Kondisi kemarau yang terjadi di Sumsel berakibat terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Bahkan, tercatat sejak Januari hingga Agustus jumlah lahan terbakar yakni sebanyak 880,35 hektar.

Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Karhutla Wilayah Sumsel, Denny Martin mengatakan sebagian besar lahan terbakar ini akibat ulah masyarakat yang ingin membuka lahan, ditambah lagi kondisi kemarau sehingga sangat mudah terjadinya Karhutla. Jumlah lahan yang terbakar terus meningkat sejak Bulan Juni dimana tercata hanya 35,92 hektar, kemudian Bulan Juli seluas 181,32 hektar, lalu di Bulan Agustus mencapai 642,11 hektar.

“Dua daerah yang paling dominasi yakni Ogan Ilir dan juga Ogan Komering Ilir,” katanya Jumat (15/9/2017),

Untuk Bulan September ini, resiko Karhutla cukup tinggi meskipun sebagian besar sudah diguyur hujan, namun tidak akan mengurangi terjadinya Karhutla di Sumsel. Karena itu, ia berharap agar peran serta masyarakat dalam mencegah dan memadamkan Karhutlah. Selain itu, pihaknya juga menyiapkan 50 posko didaerah rawan karhutla agar dapat menanggulangi terjadinya kebakaran.

“Kami juga selalu melakukan sosialisasi agar masyarakat mengerti bahayanya dampak dari Karhutla ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, Berdasarkan data dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN) hotspot atau titik panas terpantau di Sumsel pada Kamis, 14 September mencapai 42 titik. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan Rabu, 13 September 2017 dimana hanya terpantau 15 titik. 42 titik ini berada di Kabupaten Empat Lawang satu titik, Kabupaten Musi Banyuasin satu titik, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) satu titik, Kabupaten Lahat dua titik, Kabupaten Musi Rawas Utara empat titik, Kabupaten Banyuasin lima titik, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan enam titik, Kabupaten Muara Enim tujuh titik, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) tujuh titik, Kabupaten Ogan Ilir (OI) delapan titik. (MDN)