PALEMBANG,HS – Pemerintah Provinsi sumsel resmi ditunjuk sebagai provinsi pertama yang dibolehkan mengekspor hasil pangannya, hal ini membuat pemprov sumsel terus mengoptimalkan hasil produksi padinya, salah satu hal yang dilakukan untuk menggenjot produktivitas yakni dengan mengoptimalkan jaringan irigasi yang ada.

“Jaringan irigasi yang berada di bawah kewenangan dinas pengelolaan sumber daya air (PSDA) Sumsel mampu mengaliri lebih dari 90 ribu hektar lahan yang ada, dan kesemua jaringan telah kami optimalkan sepanjang 2019 ini,” kata Kepala Dinas PSDA Sumsel Darma Budi melalui Kasi Desain Sungai dan Danau Meri Miardi

Ia memaparkan kurun 2019 semua proyek irigasi baik perawatan, rehat serta peningkatan kapasitas telah dilakukan hingga pertengahan Desember sudah mencapai 95 persen pekerjaannya.

“Memang ada sebagian paket pekerjaan yang kontraknya habis pada 31 desember, kami yakin semua paket akan tuntas 100 persen semua,”imbuhnya.

Ia merinci dari total 90 ribu lebih lahan yang dialiri jaringan irigasi sumsel tidak semuanya jaringan irigasi permukaan, sebagian merupakan jaringan irigasi rawa,

49.509 ha irigasi permukaan, sementara irigasi permukaan 41.541 Ha irigasi rawa, selain menjaga kualitas jaringan irigasi kami juga memastikan pasokan airnya,”ungkapnya.

Itulah sebabnya, lanjut Meri belum ada rencana penambahan jaringan irigasi baru, pasalnya pihaknya belum menemukan akses air yang bisa dialirkan ke jaringan irigasi,

“Memang masih diperlukan, sebab kalau mau menggenjot hasil pertanian tentu dibutuhkan penambahan jaringan irigasi, persoalanya bukan sekadar jaringannya tapi akses air untuk mengalirinya, itulah sebab kami terus melakukan studi dan survey kemungkinan daerah mana yang bisa ditambah jaringan irigasi baru,”paparnya.

Sementara itu, Gubernur Sumsel, Herman Deru, bahwa penunjukan ini menjadi tantangan tersendiri apalagi Sumsel sudah MoU dengan Mentan, untuk ekslarasi Provinsi pertama yang mengekspor pangan dalam hal ini beras.

“Ini tentu menjadi pancingan sendiri bagi Pemprov, Pemkab, petani, masyarakat untuk meningkatkan produksi dengan kualitas di bawah bimbingan Kementerian. Ya paling tidak ketika program #SERASI berhasil, mungkin ada transformasi teknologi yang akan diberikan untuk menjadi petani modern, saya pikir butuh waktu 1 tahun,” jelasnya.

HD mengatakan ada beberapa alasan mengapa Sumsel dipilih oleh Mentan untuk menjadi daerah pengekspor di Indonesia. Yang pertama adalah semangat dan keberadaan penyuluh dan luas tanam yang memadai. Termasuk distribusi pupuk yang baik dan sangat memungkinkan karena Sumsel dekat dengan semua penjuru negara.

“Soal berapa besarnya itu nanti tergantung permintaan, tapi untuk produksi beras kita saat inj sudah hampir 6 juta ton dan aangat surplus. Tahun 2018 Sumsek rangking 8 nasional, 2019 rangking 5, target kita rangking 3. Kalau ada yang tanya siapa yang hebat, yang hebat adalah petaninya,” tutupnya