LOMBA: Maulidina sedang menampilkan puisi Aku karya penyair Chairil Anwar di kawasan Monpera Palembang

PALEMBANG, HS – Titik bait itu meletik dari satu noktah mungil di Monumen Perjuangan Rakyat—tak jauh dari halaman Dewan Kesenian Palembang. Anak-anak negeri dari tanah Seberang Ulu dan Plaju mengumandangkan puisi Aku karya penyair Chairil Anwar. Pun ada yang bercumbu dengan karangan puisi Ali Hasjmi berjudul Menyesal.

Gadis itu sepertinya sedang berubah bentuk. Berpakaian corak kembang sepadan yang dominan warna pink hitam lengkap hijab hijau-kehijauan, Maulidina nampak geram saat mengekspresikan puisi penyair Chairil Anwar ‘Aku’.

Lantas, Dina pun terlihat menggerutu. Dalam terang di pagi hari, siswi Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Palembang, itu  menyumpah serapah melalui senandung intonasi dalam tiap-tiap bait puisi yang baru saja ia bacakan.

Rabu, 24 Mei 2017, perempuan sedikit tambun ini pun kadang berperasaan halus. Tapi, tidak menggigit. Namun yang lebih penting peserta lomba baca puisi De Kape Ekspresi 2017 itu coba untuk ‘menjinakkan’ puisi Aku di lomba pembacaan bait puisi.

Dan, sesekali pula Maulidina bahkan memendan rasa dalam-dalam lantaran larut ke dalam kata-kata yang terkandung di tubuh puisi. Meski begitu, intonasi yang dikeluarkannya lumayan baik dan bergelombang panjang.

Kalau toh, puisi dimaksudkan untuk sekadar dibacakan, maka berilustrasilah dengan teks. Adalah Serina yang juga sama-sama peserta lomba baca puisi dengan manis bertutur dengan bait-bait di puisi ‘Menyesal’.

Tak terasa Sarina seakan-akan membius peserta lainnya dengan emosi yang naik-turun. Sekira tujuh menit, pagi itu Maulidina dan Serina memang berusaha tampil memesona dengan bait-bait puisi ini. Lantas adakah yang terkuak dari puisi di bawah ini..?

“Pagiku hilang sudah melayang, Hari mudaku sudah pergi, Kini petang datang membayang, Batang usiaku sudah tinggi, Aku lalai di hari pagi, Beta lengah di masa muda, Kini hidup meracun hati, Miskin ilmu, Miskin harta.

Ah…, apa guna kusesalkan, Menyesal tua tiada berguna, Hanya menambah luka sukma, Kepada yang muda kuharapkan…Atur barisan di hari pagi, Menuju arah padang bakti…”

Zul Karnain peserta lomba baca puisi ketika membawakan puisi Menyesal

Masih di pentas baca puisi menuju babak semi final antar kecamatan se-kota Palembang kali ini kembali dihidangkan. Robbieq Firly, peserta asal SMA dari kecamatan Plaju langsung menyentak dengan membawakan puisi Aku. Suaranya pun melengking, ringan bertenaga, tak tergerus ekspresi yang bercadas.

Boleh jadi aksi Firly mengundang decak kagum penonton. Pada bait yang lain, dia berusaha menjadi sosok yang teduh. Sorot matanya menyala, bertekad ingin membacakan puisi supaya berjejak sempurna.

“Aku ingin hidup seribu tahun lagi…,” Firly agaknya menghapus dahaga dengan lega.

Dunia kepenyairan menunjukkan suatu dialektika yang tentu saja bernas tapi sangat melelahkan. Antara benci dan sayang muncul silih berganti.

“Sampai di situ, kita bisa menyaksikan anak-anak generasi penerus di kota ini masih ada yang berkeinginan untuk melestarikan seni baca puisi. Lihatlah, betapa semangatnya mereka yang ingin berlomba di kategori baca puisi. Kita mesti bangga apa yang ditampilkan oleh mereka,” kata Marta Astra, salah seorang juri baca puisi.

Namun kebangkitan dari semua ini, dan akhirnya sampailah di terminal penghabisan. Kita pun harus menerima kenyataan lalu merasakan manisnya kepastian, seraya menawarkan kebebasan bagi setiap manusia dengan membuang jauh-jauh mentalitas hamba yang dikukuhkan oleh garis sebuah tradisi.

“Bahwa kejujuran, pemberontakan, dan megalomania, mencoba menyebarkan cita-cita mereka yang berbakat di dunia kepuisian. Cuma penyair yang tidak menemukan apa-apa dalam perjalanan panjang yang melelahkan itu,” Marta setengah bijak.

Ada yang mengatakan baca puisi adalah catatan harian. Ya, catatan harian yang bukan sekadar bertutur, lebih sebagai seni yang tersampaikan dengan keterampilan di atas panggung.

Yang tak kalah penting, sambung Marta, kenyataan yang ditukik dari sebuah bait puisi itu memang sering menelanjangi hidup yang lebih menampakkan potret buramnya.

“Kalaulah nalar tak pernah tuntas, kiranya bait-bait puisi bisa jadi pembuka ruang pengembaraan seseorang. Termasuk peserta di lomba baca puisi ini,” tutup pria berambut sebahu itu. (RINALDI SYAHRIL DJAFAR)