PALEMBANG,HS – Curah hujan yang rendah di bulan September membuat sejumlah lahan di Sumsel mulai dilanda kekeringan. Akibatnya kebakaran lahan mulai terjadi di sejumlah wilayah seperti di Kabupaten Ogan Ilir (OI), Ogan Komering Ilir (OKI), Muara Enim dan Banyuasin.
Berdasarkan data curah hujan di Bulan September Dasarian 3 tahun 2018 curah hujan kurang dari 50 mm. Kondisi ini diperparah munculnya kabut asap yang menyelimuti kota Palembang dalam beberapa terakhir.
Terbukti, pada Jumat pagi (5/10) nilai Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Kota Palembang mencapai 151 – 250 mikron/gram, nilai tersebut berada pada level tidak sehat.
Kasi Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Klas I Kenten Palembang, Nandang Pangaribowo mengatakan memang sejak 10 hari terakhir Kota Palembang dan kabupaten di Sumsel belum mendapatkan curah hujan yang cukup akibatnya sangat berpotensi terjadinya kekeringan di hutan dan lahan.
“Dengan meningkatnya kekeringan maka partikel debu juga meningkat akibatnya pada kondisi udara di Palembang,” katanya, Jum’at (5/10/2018).
Dari pantauan Jumat (5/10) jarak pandang berkisar 1 kilomter hingga 2 kilometer. Jika kondisi ini terus terjadi maka kondisi udara pun bisa semakin buruk. “Kami berharap kepedulian masyarakat dan pemerintah untuk menjaga agar Sumsel zero asap,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan BPBD Sumsel, Ansori mengakui karhutla terus terjadi di Sumsel. Bahkan, sejak beberapa hari ada beberapa lahan yang terbakar dan belum sepenuhnya dapat dipadamkan, seperti di OKI, Muara Enim, OI dan beberapa lahan lainnya.
Ini dikarenakan kondisi lahan yang terbakar luas sehingga menyulitkan dalam pemadaman.
“Seluruh tim dan armada telah dikerahkan untuk pemadaman ini,” katanya.
Ia mengakui dampak kebakaran tersebut yakni terjadinya asap di Kota Palembang terlebih lagi kondisi curah hujan yang rendah sehingga kondisi udara pun semakin buruk. Ini terjadi pada Jumat (5/10).
Menurutnya, jika hujan terjadi maka persoalan asap ini tentunya dapat dinetralisir sehingga kondisi udara dapat kembali normal.
“TMC terus dilakukan tapi memang belum dapat menghasilnya hujan. Karena itu, kami harap hujan dapat turun sehingga kondisi udara dapat membaik lagi,” tutupnya