PALEMBANG, HS – Komoditas cabai merah keriting (Capsicum Annum) memengaruhi laju inflasi. Celakanya, di mana-mana berbagai lapisan masyarakat menanggung dampaknya. Bank Indonesia (BI) pun berinisiatif perdagangan si merah keriting, itu konsisten.

Siapa bilang cabai merah tak punya hak hidup di pekarangan rumah? Juga siapa bilang cabai tak bisa ‘membunuh’ sendi-sendi kehidupan rakyat?

Meski kekurangan ilmu dan keterbatasan pengetahuan sepertinya tak menghalangi penghuni Perumahan Griya Cipta Sejahtera, RT 10/ RW 05, Macan Lindungan, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat 1, Kota Palembang untuk  mempelajari budidaya cabai merah.

Sabtu 22 Juli 2017 petang. Inilah kali pertamanya ‘syukuran’ warga perumahan ini menambah wawasan seputar Urban Farming dari BI yang disosialisasikan lewat tim pendamping. Di pertemuan awal, itu selain tim pendamping dari BI, antara lain Desi Arisandi, Rambo, dan rekan-rekan pendamping lainnya tampak dihadiri Ir Cholil Ketua Yayasan Puspa Indonesia yang dipilih BI sebagai konsultan.

Nah, pertanyaannya, kenapa Bank Indonesia serius bicara soal cabai merah?  Anda bisa bayangkan, kalaulah sehari Ibu-ibu beli cabai Rp 2.000. Artinya dalam satu tahun uang yang harus dikeluarkan Rp 720.000. Jika warga perumahan Griya Cipta Sejahtera ini ada 100 ibu yang beli cabai dengan harga Rp 2.000. Itu berarti uang yang wajib dikeluarkan Rp 72 juta setiap tahun.  Parahnya di satu kelurahan ada transaksi uang dari komoditi cabai  Rp 3,6 miliar setiap tahun. Itu baru uang cabai di kelurahan, belum lagi kita hitung-hitungan kota Palembang…!,” papar Cholil, sontak para anggota kelompok tani terperangah sejenak.

Bak tikus mati di lumbung. Itu yang terjadi sejak beberapa periode akhir terhadap komoditi cabai. Pelbagai kendala menghadang komoditi cabai untuk tumbuh serta berkembang. Antara lain aspek permodalan, akses pasar, juga kemampuan manajerial. Begitu dahsyatnya kendali peranan cabai merah, BI bahkan berupaya menjembatani mengurangi beban di kalangan rumahan ulah harga si merah keriting yang tak sepadan.

“Anehnya produksi cabai merah itu kan di pasok dari luar daerah. Lho, kita punya pekarangan di rumah, walaupun tak seberapa. Andai saja kita bertanam lima batang cabai merah saja dengan produksi 0,8 gram per batang. Kita sudah berhemat duit berapa..?,” Cholil balik bertanya.

Ir Cholil sedang memerlihatkan kondisi cabai merah keriting yang terkena serangan virus gemini

Dari nada bicara, agaknya sekali ini Cholil tak hendak mengalihkan pandangannya dari satu titik. Tapi, dia kini sedang coba memanusiakan manusia dari pohon-pohon cabai.

“Alhamdulillah, BI sudah menunjuk Desi Arisandi selaku pendamping sosialisasi di RT 10, RW 05, Perumahan Griya Cipta Sejahtera ini. Kebetulan tim pendamping ini adalah anak-anak berprestasi yang mendapat beasiswa dari BI. Tugasnya membimbing kelompok-kelompok tani yang terbentuk. Khususnya budidaya cabai merah di pekarangan rumah,” tuturnya.

Bukan hanya bertugas penyambung lidah yang terlalu indah, memang. Tapi, Desi dan kawan-kawannya ini sadar betul tentang bagaimana prilaku warga maupun keelokan alam yang begitu menancap di benak mereka.

Agar tak rontok sebelum berbuah. Tim pendamping ini dibekali ‘vitamin’ yang cukup supaya aksi nyata bertanam cabai benar-benar tuntas sampai pasca panen.

“Nantinya kita jadualkan delapan kali pertemuan. Sehingga warga betul-betul paham dan mengerti persis bercocok tanam cabai,” ucap Desi.

Di mata Sugiono—anggota Kelompok Tani RT 10/RW 05 Bukit Baru, sosialiasi bertemakan cocok tanam cabai merah amat dibutuhkan. Sehubungan dengan itu, ia pun sependapat bahwa komoditi cabai masih dipandang sebelah mata sebagian masyarakat.

“Pak Cholil dan tim Urban Farming BI ini, insyaallah pertemuan yang singkat ini akan membawa berkah bagi kelompok tani ini. Sejujurnya kami ingin rangsangan, bimbingan, dan meteode sehingga kami anggota kelompok tani bisa menikmati kado manis dari buah cabai tersebut,” Sugiono menyebutkan.

Tim Pendamping BI di Perum Griya Cipta Sejahtera RT 10 RW 05, Macanlindungan, Kelurahan Bukit Baru, Desi coba memberikan arahan tentang cara pembibitan cabai merah

Pun ketika berbagi ilmu pengetahuan, Desi beserta tenaga pendamping dari BI lainnya yang hadir bertekad untuk tidak menyumbangkan jargon keilmuan di bibir saja.

Kali itu, tak kurang dari 16 anggota yang bersiap tergabung di kelompok tani berhimpun mendengarkan penjelasan awal. Sebagai pendamping Urban Farming BI, Desi lazimnya seorang penyuluh yang gigih ‘berjuang’ mengubah paradigma warga yang berdomisili di komplek perumahan.

“Bapak-bapak dan Ibu-ibu, terimakasih sudah menyambut kami. Jangan lupa, untuk pertemuan kedua kita lanjutkan di pekan depan ya…?,” pinta Desi.

Tak beda dengan pertemuan di kelompok tani lainnya, Cholil bersama-sama rekan tim pendamping dari BI menyaksikan aksi nyata yang sudah dibuktikan beberapa anggota kelompok tani di Perumahan Griya Cipta Sejahtera RT 10 RW 05 di Kelurahan Bukit Baru, Macan Lindungan. (RINALDI SYAHRIL DJAFAR)