Inilah suanana pementasan kesenian panggung dulmuluk di kota Palembang

Inilah suanana pementasan kesenian panggung dulmuluk di kota Palembang

PALEMBANG, HS – Pada perkembangannya, kesenian dulmuluk ini berawal dari pengisahan petualangan abdul muluk Jauhari yang di kisahkan oleh Wan Bakar ( seorang saudagar gujarat yang senantiasa berniaga di daerah kota palembang) kepada para pelanggan-pelanggannya setiap habis berniaga saja, namun karena pandainya Wan Bakar dalam berkisah dan bersyair, lambat laun sebagian masyarakat Palembang sangat tertarik untuk mendengarkan sajak-sajak raja abdul muluk, hingga setelah itu Dulmuluk Wan Bakar sering di undang-undang keberbagai acara masyarakat.

“Sosok Wan Bakar ini kemudian sangat popular melisankan cerita dalam bahasa Melayu klasik atau pantun-pantun bertutur. Seni bertutur ini akhirnya berkembang dengan menampilkan sejumlah pemain untuk memerankan tokoh-tokoh tertentu, misalnya Raja, Perdana Menteri, Rakyat dan Khadam (tokoh banyol seperti goro-goro dalam wayang kulit). Pada 1919, tercatat pertama kali pembacaan teks dibawakan dalam bentuk dialog disertai gerak tubuh sesuai peran masing-masing. Dulmuluk akhirnya berkembang pesat sebagai satu-satunya hiburan yang cukup menarik di kalangan masyarakat Sumatera Selatan,” kata Shinta Ayu kepada HALUAN SUMATERA, belum lama ini.
Ia berkata, perkembangan Dul Muluk dari syair yang dituturkan, kemudian pembagian peran berdasarkan tokoh di dalam kitabnya, lalu dibentuk semacam pertunjukan ini menunjukkan sesuatu yang unik. Dalam pengertian, jika seni teater diibaratkan sebuah rumah sementara lakon adalah isinya, Dul Muluk “terbalik” dalam urusan penyediaan rumah itu. Apabila Ketoprak dan Ludruk merupakan rumah dan lakonnya merupakan pengisi rumah (dapat dibentuk dongeng, legenda, mitos, sejarah, atau penghistori) dalam pementasannya, tidak demikian dengan Dul Muluk, lakon Dul Muluk merupakan isi, sedangkan pertunjukan panggungnya adalah rumah. Dengan demikian, Dul Muluk sudah pasti berkisah tentang Abdul Muluk, dan tidak dapat diisi dengan kisah lain.

“Dul Muluk juga telah banyak mengalami perkembangan, terutama dari kata pementasan dan pola panggungnya. Dari awal teater ini telah tersentuh pengaruh dardanela dan stambul. Semula pola panggung Dul Muluk serupa dengan teater arena (bentuk awal teater di Yunani). Para pemain berakting dengan penonton yang duduk di sekelilingnya. Pemain muncul dari jabang (ruang rias) melintasi semacam jalur menuju arena. Saat itu, bedug atau jidor berada didalam jabang sedangkan musik pengiring berupa biola, gendang dan gong sekarang ditambah akordio menempati posisi disisi kiri atau kanan panggung,” terangnya.

Pada 1962, pola panggungnya mengalami perubahan. Mulai saat itu Dul Muluk berpentas layaknya teater modern. Bentuk panggung persegi empat, pemain menempati posisi,pertimbangan keseimbangan pentas dan pemusik pun berkumpul di salah satu panggung (jidor tidak lagi didalam ruangan). Perubahan lain adalah tampilnya perempuan sungguhan pada tahun 1980-an sebelumnya tokoh putri dan permaisuri diperani oleh laki-laki.

Dulmuluk menjadi salah satu kebudayaan yang amat melekat di hati peminatnya bukan saja dari keapikan cerita maupun pemeran dalam pagelaran tersebut melainkan proses-proses penyampaian nilai-nilai luhur dalam cerita yang amat indah menjadi keberadaan Dulmuluk sangat spesial di hati penggemarnya.

Keberadaan dulmuluk pada masanya sebenarnya amat berada pada puncak ketenaran di tengah-tengah masyarakat Palembang, tak terkecuali di tingkat teater nasional, dulmuluk menjadi salah satu teater yang sangat diperhitungkan di masanya, kesohoran dulmuluk ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh penikmatnya di sumatera selatan saja melainkan di kota-kota lain seperti jakarta pun pernah menikmati seni pagelaran ini.

Namun lambat laun, tepatnya setelah masa kedua era kejayaan teater dulmuluk sekitar pertengahan abad ke 19 seni pagelaran dulmuluk ini mulai menemui pasang surut eksistensi pementasannya, mulai dari masuknya hiburan-hiburan baru dalam masyarakat kota palembang seperti keberadaan orgen tunggal, orkes melayu, hingga pertunjukan-pertunjukan semimodern lainnya sangat berpengaruh pada eksistensi teater Dulmuluk pada saat itu, hingga praktis pagelaran teater dulmuluk lambat laun menghadapi situasi krisis, dimana sebagian masyarakat telah banyak bahkan hampir sebagian besarnya beralih pada pagelaran musik yang lebih baru dibanding mengundang seni teatrikal dulmuluk ke acara-acara mereka.

Kesenian panggung dulmuluk

Kesenian panggung dulmuluk

Menurutnya, apalagi dengan generasi-generasi penerusnya yang kian berkurang dari masa ke masa menyebabkan kesenian teater dulmuluk sulit untuk di pertahankan eksistensinya. Budaya kesenian modern yang kini terlihat hampir disetiap acara-acara masyarakat ternyata jauh lebih menarik di mata generasi muda, daripada harus tetap bergelut pada kesenian tradisional asli palembang dulmuluk ini. Maka dari itu, tidak mengherankan jika kondisi kesenian teater dulmuluk saat ini amat sulit ditemukan pagelarannya, dan jikapun ada sangat jarang pementasannya, keberadaan sanggar-sanggar dulmuluk pun saat ini sangat terbatas keberadaannya dan rata-rata diantara mereka mementaskan seni teatrikal ini hanya sebatas keikutsertaannya dalam perlombaan, festival teater nasional, dan sangat minim sekali pagelarannya di tengah-tengah masyarakat.

Padahal amat disayangkan akan redupnya seni teater tradisional yang sempat melambungkan nama kota Palembang dalam kejuaraan festival-festival teatrikal nasional bahkan beberapa kali juga kesenian dulmuluk ini mendapat tempat dimata internasional. Seperti yang dikutip dari pernyataan Dr Nurhayati SPd MPd dan tim yang mengikuti The Ninth International Comperence on Environmental, Culture ada tiga hal mendasar yang menyebabkan mengapa kesenian dulmuluk lambat laun ditinggalkan oleh masyarakatnya sendiri, Pertama, manajemen yang digunakan masih bersifat tradisional, mencakup manajemen organisasi, produksi, dan artistik. Kedua, kurangnya evaluasi setelah pementasan Dul Muluk.

Kurangnya evaluasi dinilai sebagai minimnya pengayaan inovasi pada tokoh-tokohnya sendiri untuk berkreasi supaya dulmuluk tetap diminati khususnya generasi muda sekarang. Kreativitas disini amat penting, selain sebagai faktor pembaharuan, faktor penarik yang utama bagi generasi sekarang haruslah ditumbuhkan dalam perencanaan teater dulmuluk, namun tetap dalam koridor pakemnya (syarat-syarat utamanya) agar warna dulmuluk bisa menyesuaikan minat generasi sekarang yang praktis dan segar.

Sebagai salah satu aset kesenian daerah yang luar biasa pengaruhnya terhadap jejak budaya masyarakatnya, keberadaan dulmuluk sebenarnya senantiasa dipertahankan oleh para penikmat maupun pemainnya dalam berbagai kesempatan, tak luput pula dari campur tangan kebijakan pemerintah pusat dan daerah (dalam hal ini sumatera selatan) yang saat ini gencar-gencarnya melakukan upaya-upaya pelestarian kekayaan budaya daerah salah satunya dulmuluk ini, dengan pengadaan pementasan festival-festival budaya daerah tiap tahunnya.

Sebenarnya antara pemerintah pusat dan daerah saling berkontribusi dalam upaya pelestarian kekayaan budaya daerah, karena ini merupakan tugas bersama dalam departemen yang menaunginya atau pihak yang terkait sebagai badan pengembangan pariwisata dan kesenian dalam KEPPRES Nomor 11 Tahun 2000.

Selain mengupayakan berbagai karnaval budaya daerah, November 2012, pihak Balitbangda Provinsi Sumsel mengusulkan Dulmuluk ke UNESCO sebagai warisan budaya milik Indonesia dalam hal ini milik provinsi Sumsel, tujuannya tidak lain agar kebudayaan tersebut tidak di akui oleh negara lain. Kebijakan penanganan hak paten ini dinilai sebagai angin segar bagi pelestarian Dulmuluk, pasalnya jika hak paten dulmuluk sudah dimiliki maka akan semakin mempermudah gerak para punggawa dulmuluk itu sendiri dalam mengembangkan kreativitas sajian dulmuluknya. Penetapan hak paten ini mengacu pada Hak Kekayaan Intelektual suatu daerah yang berlandaskan pada UU no 14 tahun 2001 tentang Paten (Lembaran Negara RI Tahun 2001 Nomor 109), UU Nomor 13 Tahun 1997 tentang Perubahan UU Nomor 6 Tahun 1989 tentang Paten, dan UU Nomor 6 Tahun 1989 tentang Hak Paten.

Selain kebijakan tersebut, kesenian dulmuluk sebenarnya sudah mulai ditanamkan pada kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler disekolah-sekolah, namun tetap saja intensitas, minat dan penekanan akan pembelajaran mengenai dulmuluk masih rendah dikalangan siswa-siswanya, mereka cenderung lebih menyukai hal-hal yang lebih ringan dalam penyampaiannya seperti teater biasa.

Pada dasarnya, pemerintah pusat dan daerah tidak pernah lepas tangan terhadap berbagai potensi kebudayaan daerah yang hampir punah, namun seperti yang telah dikutip sebelumnya bahwa kurangnya manajemen (baik itu managemen kerja sama antar pemerintah, pihak dulmuluk, dan masyarakat sasaran yang belum terjalin secara selaras) dan kurangnya evaluasi ( evaluasi terhadap kreativitas yang mutlak dimunculkan dalam sebuah pagelaran dulmuluk seiring dengan kondisi remaja saat ini dengan tetap berpegang pada pakemnya) sedangkan yang dirasa saat ini.

“Yang dilakukan oleh pihak pemerintah pusat dan pemerintah daerah terkesan sekedar mengingatkan kembali bahwa teater dulmuluk merupakan teater yang berasal dari Palembang yang notabenenya bergerak statis sebagai upaya pelestarian dulmuluk itu sendiri, dan kurang mengoreksi cara penyampaian dulmuluk yang menjadi masalah utama mengapa dulmuluk perlahan di tinggalkan generasi muda. Kunci evaluasi dan kreativitas pada cara penyampaian pesan-pesan dulmuluk inilah yang seharusnya menjadi sorotan utama dalam upaya revitalisasi kesenian daerah di era kini dengan tetap berpegang teguh dan tidak mencederai pakem-pakem yang ada dalam dulmuluk,” ungkapnya. (IIR)

Revitalisasi Kesenian Dul Muluk
Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa Revitalisasi kesenian Dul Muluk itu memang sangat diperlukan, namun tetap tidak mengubah pakem yang ada dalam Dul Muluk itu sendiri. Untuk mengatasinya maka dapat dilakukan metode dan program sebagai berikut :

1. Stand Up Comedy Show naskah Dul Muluk.
Stand-up comedy, secara harfiah berarti komedi berdiri, adalah salah satu genre profesi melawak yang pelawaknya membawakan lawakannya di atas panggung seorang diri, biasanya di depan pemirsa langsung, dengan cara bermonolog mengenai suatu topik. Orang yang melakukan kegiatan ini disebut pelawak tunggal (bahasa Inggris: stand-up comedian), komik, atau komik berdiri (komik tunggal) dan bila dikaitkan dengan Dul Muluk seperti yang telah disebutkan bahwa pada awalnya kesenian Dul Muluk adalah syair yang dituturkan atau pengisahan petualangan abdul muluk Jauhari dari buku syair Sultan Abdul Muluk oleh seseorang yaitu Wan Bakar baru kemudian berkembang menjadi teater. Jadi dari sini dimaksudkan membawa kembali budaya Dul Muluk yang dulu menggunakan dengan sentuhan gaya modern. Seperti kita ketahui bahwa saat ini Stand Up Comedy sedang sangat popular dikalangan remaja Indonesia, pembawaannya yang ringan dan praktis menjadi salah satu indikator yang diminati remaja. Dengan membawakan topik dalam naskah Dul Muluk diharapkan para remaja yang merupakan generasi penerus yang kurang minatnya dengan adanya Stand Up Comedy yang membawakan konsep Dul Muluk bisa mulai tertarik untuk mengenal dan mempelajari Dul Muluk itu sendiri.

2. Mengintegrasikan Dul Muluk kedalam kurikulum mata pelajaran muatan lokal kesenian di Sekolah Dasar
Ada beberapa sekolah yang menjadikan Dul Muluk sebagai ekstra kulikuler. Hal ini sudah bagus, tapi hanya sebatas dalam ekstra kulikuler dan masih sulit untuk menarik siswa/i. Untuk itu diintegrasikan pemerintah daerah Sumsel untuk menetapkan dan disetujui oleh Dinas Pendidikan Sumsel agar memasukkan Dul Muluk kedalam kurikulum mata pelajaran muatan lokal kesenian di Sekolah Dasar, sehingga sejak dini anak-anak dikenalkan dengan kesenian Dul Muluk dan mewadahi bagi anak-anak yang tertarik pelatihan teater Dul Muluk

3. Menampilkan pertunjukan Dul Muluk disetiap Event yang ada.
Jika sebelumnya Pemda Sumsel hanya menyemarakkan teater Dul Muluk pada saat festival seni dan Budaya saja, maka disini diharapkan pemerintah juga selalu memasukkan unsur teatrikal dulmuluk dalam acara-acara resmi dan semi resmi agenda kegiatan acara pemerintah daerah dan pemerintah pusat selain pementasan tari tanggai yang juga budaya khas sumatera selatan.

4. Regenerasi seniman Dul Muluk melalui pelatihan keterampilan
Saat ini para teater Dul Muluk berangsur-angsur mulai kehilangan sosok tetua dulmuluk, dan sedikit sekali anak muda yang bisa mementaskan Dul Muluk. Jadi diharapkan dengan adanya lembaga yang memfasilitasi pelatihan keterampilan teater Dul Muluk ini, bisa mewariskan kesenian Dul Muluk ini kepada generasi mudanya. Strategi cerdas mutlak bagi lembaga ini untuk mengembangkan atmosfer dulmuluk pada remaja, melalui

Guna melaksanakan program ini, maka perlu peran serta semua pihak baik pemerintah, seniman, maupun masyarakat khususnya generasi muda. Peran pemerintah adalah dengan menyetujui penetapan Masuknya Dul Muluk ke dalam kurikulum muatan lokal kesenian Sekolah Dasar, menampilkan pertunjukan Dul Muluk disetiap Event yang ada. Peran pemerintah juga dapat dilakukan dengan menfasilitasi kelembagaan yang khusus menangani pelatihan keterampilan Dul Muluk agar menarik perhatian para Generasi Muda untuk bergabung didalamnya. Peran seniman Dul Muluk dalam hal ini adalah berkreasi memikirkan ide-ide kreatif terkait usaha pelestarian Dul Muluk melalui berbagai inovasi khususnya dalam hal cipta kreasi dengan sasaran utama generasi muda. Sedangkan peran mayarakat adalah sebagai objek sekaligus pelaku untuk menyukseskan program tersebut. Tanpa peran serta masyarakat maka program dan usaha mengembalikan kejayaan Dul Muluk ini tidak akan pernah sukses.

Output dari program ini nantinya akan melahirkan Pemain Dul Muluk dari kalangan generasi muda, khususnya dalam hal meningkatkan semangat dan gairah pemain sekaligus menghibur penonton dalam usaha pengembangan inovasi Dul Muluk. Langkah strategis yang dapat dilakukan adalah :
1. Menjalin koordinasi pihak dan instansi pemerintah yang terlibat seperti departemen/dinas pendidikan, departemen/dinas pariwisata, departemen/dinas pemuda dan olahraga.
2. Mengumpulkan dan memberdayakan seniman-seniman Dul Muluk yang ada di seluruh daerah di provinsi Sumatera Selatan.
3. Menjalankan program Stand Up Comedy Show naskah Dul Muluk melalui perlombaan dan kerjasama dengan stasiun televisi lokal untuk ditayangkan program tersebut minimal setiap minggunya.
4. Menampilkan pertunjukan Dul Muluk disetiap Event yang ada, terkait pula event agenda kegiatan pemerintah baik resmi maupun non resmi.
Dengan adanya langkah strategis dan peran pihak terkait pada pos nya masing-masing, diharapkan mampu membangkitkan kembali masa kejayaan Dul Muluk, sehingga Dul Muluk dapat terjaga kelestariannya dengan baik sebagai salah satu warisan budaya Asal Palembang yang pernah mendunia. (IIR)