img_20160928_123634

PALEMBANG,HS – Sebagai wilayah yang didominasi perairan Kabupaten Banyuasin memiliki nilai jual yang tinggi terhadap pengembangan produktivitas tanaman pangan, khususnya padi dan jagung.

Spesialis Koordinator Manajemen tanah dan Air Universitas Sriwijaya Robiyanto Hendro Susanto menilai kontur tanah ditambah resapan air di Banyusin dinilai mumpuniuntuk pengembangan tanaman pangan tersebut. Keberadaan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Desa Telang merupakan wilayah yang masuk dalam pilot projectbagaimana tata cara pengelolaan irigasi pengairan yang baik.

“Daerah lain di Indonesia, bisa merujuk pada Kabupaten Banyuasin. Meski daerah rawa, tapi daerah ini membagi sistem hidrologi yang baik, mulai dari konservasi, penyesuaian kondisi iklim tanah serta mampu mengubah kondisi yang tergenang menjadi bisa ditanami,” katanya di sela-sela field trip Konsultasi dan Konsolidasi Regional Ops PSDA Wilayah I dan sebagian Wilayah II dan III Indonesia 2016 di KTM Desa Telang, Banyuasin, jumat (30/9).

Ia menilai, Banyuasin mampu membuat saluran tersendiri serta memanfaatkan curah hujan dalam pencetakan lahan pasang surut.

“Dalam konreg inilah, kita berharap sistem yang ada di KTM ini bisa ditranslokasikan ke tempat lain. Intinya, KTM ini bisa menjadi media pembelajaran bagi daerah lain. Tentunya bisa diubah sedikit di masing-masing wilayah di Indonesia,” ujar dia.

Dalam field trip ini sendiri, diikuti 9 provinsi wilayah I yakni Provinsi Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Lampung, Bengkulu dan Bangka Belitung. Untuk Wilayah II ada 7 provinsi yaitu Provinsi Gorontolo, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat dan Bali serta 4 provinsi tamu peninjau wilayah II dan III yaitu Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Maluku dan Papua Barat.

Ia menegaskan, kegiatan Ops PSDA ini dilaksanakan dalam rangka memberikan masukan kepada pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, dan kota. “Bagaimana cara kita mendukung ketahanan air, ketahanan pangan dan ketahanan energi,” tegasnya.

Sementara, Kepala Bidang Pelaksana Pemanfaatan Air Sumatera VII Roy Pardede menegaskan, kawasan Desa Telang ini memiliki 13.800 hektare lahan yang memiliki pengelolaan tata mikro pintu air. “Mereka melakukan pengelolaan agar air tetap berada di saluran irigasi. Padahal agar air tersebut stabil membutuhkan waktu hampir 30 tahun,” tegasnya.

Ia menilai, pembangunan irigasi yang ada dinilai sudah ideal. Ini dibuktikan dengan keberadaan KTM. “Kementerian Pertanian RI terus melakukan pemantauan terhadap pengembangan KTM ini. Kawasan ini perlu dijaga,” tegasnya.

Hal yang sama juga ditegaskan Kepala Bappeda Banyuasin, Zulkifli Idrus. Menurutnya, KTM Desa Telang sudah menjelma menjadi pusat agrobisnis dan pusat perdagangan. Kondisi ini sudah berlangsung hampir tujuh tahun lalu yang disokong dari dana APBN dan APBD kabupaten.

“Kita harap, KTM Desa Telang ini bisa direplikasikan ke kecamatan lain. Kita yakin ada pusat pertumbuhan yang terkondisi seperti ini. Bisa memancing tumbuh daerah baru di Indonesia, khususnya di Sumsel,”tutupnya.(MDN)