Foto (Ist)

PALEMBANG,HS – Dalam pelaksanaannya Pembangunan Jalan Tol Pematang Panggang-Kayu Agung (PPKA) dan Tol Kayu Agung-Palembang-Kapal Betung (KAPB). pihak Waskita Karya cukup mendapat kendala yang menantang.

Yakni lahan yang belum bebas masih cukup banyak. Dari 77 kilometer, sebanyak 57,9 kilometer sudah bebas atau sekitar 75,2 persen. Sementara masih ada 19,08 kilometer atay 24,78 persen lagi masih proses atau belum bebas.

“Lahan yang belum bebas itu per spot (titik). Kondisinya menyebar. Ada sebagian yang sudah masuk tahap pengadilan dan sebagian lagi masih dimediasi pemda setempat,” ujar Kepala Divisi 6 PT Waskita Karya, Gunadi Soekardjo Selasa (15/11/2017).

Untuk bisa mengejar target selesai Agustus 2018, tentunya syarat yang harus dipenuhi yakni lahan sudah bebas semua per 31 Agustus 2017 lalu. Namun karena kondisi seperti ini, maka pihaknya memfokuskan pengerjaan pada lahan yang sudah tidak terkendala masalah pembebasan lahan.

Ia menyebutkan, lahan di sepanjang PPKA ini 30 persennya merupakan milik perkebunan dan sisanya milik masyarakat. Namun di sepanjang ruas jalan ini juga ada lahan milik hutan produksi, yakni sekitar 3 kilometer. Meski sudah mendapat izin pinjam pakai lahan, namun pihaknya terbentur dengan masyarakat yang mengklaim bahwa lahan itu merupakan lahan adat dan ada 20 bidang yang diklaim milik warga.

“Kami sudah mengajukan permohonan penyelesaian masalah dengan pemda setempat. Bahkan ini juga diajukan ke pemerintah pusat, salah satunya Kementerian Kehutanan. Kami harapkan ini dapat selesai,” jelasnya.

Tak hanya masalah lahan, di pembangunan ruas jalan tol PPKA ini juga terdapat kendala berupa lahan yang butuh upaya dan teknis khusus dalam penggarapannya. Sebagian besar lahan di PPKA adalah rawa berair, dan sebagian lagi merupakan rawa gambut. Bahkan ada sekitar 8 persen lahan tol PPKA yang merupakan rawa gambut dengan kedalaman mencapai lebih dari 8 meter.

“Untuk lahan gambut diatas 8 meter, kami bisa lakukan dengan teknik tiang pancang. Namun dibawah itu masih bisa dilakukan dengan vakum. Sayangnya, untuk teknik vakum ini terkendala dengan kondisi cuaca hujan,” ungkap Gunadi.

Untuk tol KAPB, kata dia, juga masih banyak lahan yang belum bebas. Tercatat ada 74,7 persen lahan sudah bebas atau sepanjang 82,9 kilometer. Lalu lahan belum bebas sebanyak 25,23 persen atau 28,78 kilometer.

“Lahan yang belum bebas juga per spot. Namun di area Betung sepanjang 15 kilometer lebih belum bebas sama sekali. Kami harapkan pemda dapat membantu secepatnya dalam upaya pembebasan lahan ini,” katanya

Hingga saat ini, progres pengerjaan tol KAPB sendiri sudah mencapai 20,95 persen. Persentase ini on progres dengan rencana yang ada, dan diyakini target Mei 2019 sudah selesai pengerjaan.

Untuk kondisi lahan, rata-rata sepanjang ruas tol KAPB itu merupakan rawa berair dan tanah lunak. Metode vakum dipakai untuk teknik pengerjaan tol KAPB ini.

“Kalau hujan turun terus, maka vakum akan sulit kering. Karenanya, dalam pengerjaan tol ini sangat ditentukan dengan kondisi cuaca,” ungkapnya

Dalam proyek tol KAPB itu, pihaknya memprioritaskan pengerjaan dari Kayu Agung ke Jakabaring. Artinya, bagian ini harus selesai sebelum Asian Games berlangsung atau pertengahan 2018.

“Bahkan Menteri PU Pera dan Menteri BUMN meminta agar tol ini setidaknya sudah bisa dipakai dan dilalui pada lebaran tahun depan,” terangnya

Diakui Gunadi, pihaknya meyakini target yang diberikan dapat dikejar. Karena itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan pemda setempat dan pihak terkait untuk mencari solusi atas masalah yang ada. Terlebih akibat pembebasan lahan.

“Kita juga menemukan ada beberapa lokasi di ruas tol ini yang bersinggungan dengan sejumlah utilitas seperti pipa gas. Karenanya kami terus bahas ini dan tengah membuat plan dan desain untuk pemecahan masalah ini,” jelasnya (MDN)