Foto (Ist)

PALEMBANG,HS – Rencana offbid atau mogok massal yang rencananya akan dilakukan oleh mitra Go-car menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat. Salah satunya adalah Andreas Simamora. Sebagai pegawai swasta yang aktif menggunakan layanan Go-car ia mengungkapkan bahwa rencana mogok dan demo malah akan menambah kemacetan.

“Jalanan jadi macet dan masyarakat jadi beralih ke aplikasi lain. Sebab, disaat mitra Go-car melakukan mogok, masyarakat beralih ke aplikasi lain yang menawarkan diskon,” katanya, Rabu (9/10).
Padahal, sambung Andreas, keberadaan Go-car sangat penting karena memudahkan masyarakat bepergian ke mana pun. “Kalau angkutan umum ribet mau jalan dulu ke pinggir jalan, banyak copet, dan supirnya sering ugal-ugalan serta kadang sambil minum-minuman keras. Sedangkan, kalau Go-Car lebih aman dan nyaman,” paparnya.

Meski pilihan transportasi massal terbilang cukup banyak di Palembang, Hendri, salah satu pengemudi Go-Car menyatakan warga palembang masih memilih menggunakan Go-Car daripada angkutan lain. Ia beralasan bahwa jika menggunakan transportasi lain akan menambah ongkos yang akan di keluarkan.
“Kalau angkutan umum lain kan kita mesti jalan dulu ke pangkalan. Atau naik transportasi lainnya beberapa kali. Ongkos jadi lebih mahal,” tandasnya.

Sedangkan, lanjut Hendri, jika menggunakan Go-Car, konsumen serba dimudahkan. ”Mereka tinggal tunggu dijemput saja di rumah atau di kantor,” ujar Hendri. “Bukan cuma itu, pelayanannya dan fasilitasnya juga bagus seperti mobil milik sendiri,” lanjutnya.

Terkait harga Go-Car yang naik dan kemudian mengurangi jumlah insentif, Hendri tak mau ambil pusing. “Insentif atau bonus kan sesuai dengan kemampuan perusahaan dan kinerja kita,” imbuh Hendri yang sudah dua tahun menjadi pengemudi Go-Car. Di Go-Car ini kan, sambungnya, kita sendiri yang menentukan kapan kita bekerja, jadi agak kurang etis kalau banyak menuntut insentif.

Tak hanya itu, Hendri melanjutkan, justru jika mendapat bonus penuh tapi tarif untuk konsumen dinaikkan lagi, maka akan mengancam kelangsungan bisnis. “Nanti kita bisa-bisa ditinggal konsumen. Ini bahayanya kan bukan buat perusahaan, tapi buat kita juga sebagai mitra,” tutupnya.