kasi-kurikulum-tksd-haris-basid_20160812_190317

Kasi Kurikulum TK/SD Disdikpora Kota Palembang, Drs. Haris Basid, M.Si

PALEMBANG,HS –Dinas Pendidikan pemuda dan Olahraga (Diadikpora) Kota Palembang pastikan tidak ada sekolah negeri yang memakai buku lembar kerja siswa (LKS).

Hal ini diungkapkan oleh Kasi Kurikulum TK/SD Disdikpora Kota Palembang, Drs. Haris Basid, M.Si saat ini peredaran buku LKS di tingkat SD sudah dilarang dan tidak diperbolehkan lagi diperjual-belikan kepada siswa.

“Pihak Disdikpora sudah mengeluarkan peraturan jika penjualan buku LKS pada tingkat SD tidak diperbolehkan lagi. Jadi kita pastikan temuan isi buku yang menyatakan jika kokaian dan ganja masuk dalam golongan jamu bisa dipastikan tidak beredar di SD Kota Palembang,” katanya, Rabu (26/10).

Dijelaskan Haris, pelarangan penjualan buku LKS tersebut sudah diberlakukan sejak tahun lalu. Namun, untuk LKS yang dibuat oleh guru sendiri diperbolehkan dengan syarat harus melaporkan terlebih dan diperiksa oleh pihak Disdikpora sebelum diperjual-belikan kepada siswa.

“Yang diperbolehkan menjual LKS yang dibuat oleh guru sendiri, kalau LKS yang diterbitkan oleh pihak lain tidak diperbolehkan. Tapi hingga saat ini guru SD di kawasan Kota Palembang belum ada yang melaporkan dan meminta izin membuat buku LKS,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SDN 30 Palembang, Nuraini, S.Pd.MM mengatakan sekolahnya tidak memakai buku LKS. Bahkan diakuinya, sekolah yang ia pimpin tersebut tidak pernah memakai LKS dalam bentuk apapun termasuk buatan dari guru.

“Kita tidak memakai LKS sebagai buku pembelajaran kepada siswa. Jadi materi tentang kokain dan ganja yang termasuk dalam kategori jamu tersebut dipastikan tidak diberikan kepada siswa,” ujarnya.

Menurut Nuraini, meskipun pihak Disdikpora Kota Palembang membolehkan guru menjual LKS buatan sendiri namun pihaknya mengajukan kepada guru yang mengajar untuk menjual buku LKS. Sebab, pihaknya hanya memakai bujur paket sebagai sumber pembelajaran yang diberikan kepada siswa.

“Kita dari dulu sudah memakai buku paket saja untuk proses pembelajarannya. Kita hanya memaksimalkan buku yang ada yang dikemas dengan baik agar diterima oleh siswa dengan baik. Jadi tidak ada istilah jual buku ataupun memakai buku LKS,” ucapnya. (Hsn)