PALEMBANG, HS – Mengapa kita harus malu belajar dengan kehidupan anak-anak panti asuh?. Sedang beragam peninggalan nilai-nilai budaya kian terasa bergeser di tengah generasi muda.

Rabu, pukul 12.25 WIB, seperti biasa, belasan penghuni Rumah Tahfidz Rahmat—Pusat Pendidikan Kader Guru Tahfidz di Jalan Seruni RT 01 Nomor 123, Kelurahan Bukit Lama, Palembang shalat Zhuhur berjemaah.

Konon, ‘istana’ yang didirikan oleh Yayasan Kiay Marogan, itu memiliki rutinitas mendidik, mencetak, serta melahirkan generasi nan Quraini.

Halaman Rumah Tahfidz Rahmat cukup luas. Sebatang pohon jambu air bahkan tumbuh subur tepat di sebelah kanan teras. Sisi kirinya terlihat pagar berbatas dengan lahan kosong. Puluhan anak-anak yang usianya berkisar 6 sampai 13 tahun masih nampak sedang menikmati permainan seadanya. Mereka pun terkesiap, ketika sang ustadz memberi aba-aba.

Jalan menuju aktivitas rutin pun segera dimulai. Satu per satu mereka berzikir dan membaca Alquran bersama di atas sajadah. Dibimbing beberapa ustad dan ustadzah, anak-anak tahfidz diajarkan mengaji, dituntun jiwanya, serta diajak mengenal lebih dekat dengan sang Khalik.

“Anak-anakku sekalian duduklah dengan tenang. Hari ini kita kedatangan tamu, ada Kak Vebri Al Lintani dan Ibunda Yanti. Beliau ke sini ingin melihat langsung bagaimana kehidupan kalian. Dan, ada sedikit uluran bantuan dari hamba Allah untuk kalian,” demikian kata Ustad Imron Supriadi, yang kini dipercaya mengasuh anak panti asuhan.

Maaf, lanjut Imron, orang tua mana yang tak inginkan anak kandungnya hafal Alquran..? Dalam soal adu otak sekalipun, murid-murid yang belajar di Rumah Tahfidz pun justru berbanding lurus dengan yang bersekolah di luar sana.

“Hanya saja nasib dan kehendak Allah SWT yang mengantarkan mereka untuk singgah di rumah ini. Sebagian ada yang Ibunya wafat, ada juga yang ditinggal pergi oleh ayah dan ibunya. Di sinilah mereka kita ajarkan mengenal lebih dekat akan Tuhan dan menanamkan ajaran ilmu agama,” katanya.

Luapan dan tekanan besar agar berprestasi di sisi spritual bisa jadi beban, bisa pula jadi pelecut semangat.

“Aku ada di sini supaya bisa berada di depan yang lain. Mereka semua ingin berada di atas yang lain, demikian pula penguhi Rumah Tahfidz Rahmat ini.

“Jika belajar sendiri, mungkin akan baik-baik saja, tetapi kami ingin ada di depan mereka Maka itulah yang bisa kami lakukan,” ucap Imron.

Ada sebagian anak yang punya dorongan berkompetisi dalam hal menggali ajaran spritual yang begitu tinggi seperti ada pula anak yang memanggul harapan orang tua.

“Orang tuaku tak terlalu kaku, tapi mereka punya harapan tinggi kepadaku…. Aku harus berhasil, sukses di rumah ini. Itulah yang mereka harapkan,” Imron menambahkan.

“Mari kita bantu anak-anak kita ini guna mengeksplorasi minat mereka dan mengejar apa jadi keinginan dalam hidup mereka,” tutur Ibunda Isnayanti, yang sengaja berkunjung ke Rumah Tahfidz binaan Imron Supriadi.

Anak-anak penghuni Rumah Tahfidz Rahmat menyempatkan diri foto bersama dengan Bunda Yanti

Kehadiran Bunda Yanti kali itu selain berupaya menjalin tali sitarahmi juga berkeinginan menyalurkan sedikit ‘buah tangan’ pada anak-anak panti asuhan di Rumah Tahfidz Rahmat.

Yanti pun turut berbangga hati ketika bergabung dengan anak-anak penghuni Rumah Tahfidz tersebut. Rona wajahnya sejenak tertunduk. Dia seketika takjub begitu menyaksikan karung yang berisikan botol air kemasan yang dihimpun oleh anak-anak tersebut.

“Hati kami teramat senang. Ustad Imron, Insyaallah kami akan arahkan lagi bila nantinya ada yang menitipkan bantuan ke sini,” katanya.

Sementara itu Vebri Al Lintani, Ketua Dewan Kesenian Palembang menyampaikan, jangan pernah malu berguru kepada anak-anak panti asuhan. Meski saat ini terjadi pergeseran budaya di tengah-tengah masyarakat.

“Faktor lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan nilai spritual. Jadi, wajar anak yang shaleh atau hafal 30 juz Alquran adalah idaman banyak para orang tua,” ungkapnya.

Vebri menguraikan, dari kisi-kisi keagamaan erat kaitannya dengan sistim kebudayaan yang bertumbuh di kalangan anak-anak. Misalnya, keberadaan langgar bukanlah semata tempat beribadah semata, namun langgar ataupun semacam rumah bersinggah idealnya difungsikan sebagai wadah penyambung nilai-nilai budaya itu sendiri.

“Dalam praktiknya ada yang rela dibayar mengasuh anak-anak asuhan. Sebaliknya ada juga yang tanpa pamrih mendidik serta mengajar nilai agama. Namun begitu, ada pepatah lama yang menyebutkan ‘sering-seringlah’ usap kepala anak yatim piatu, maka akan ada keberkahan yang kita dapatkan,” disampaikannya.

Pada orang dewasa, lanjut Vebri, mengasihi anak-anak asuh yang hidupnya tak seindah yang dibayangkan adalah kewajiban. Tapi, persoalan akan lain jika menyangkut pengaruh anak-anak. Menyelamatkan jiwa-jiwa muda ini atau mereka bebas dari pengaruh budaya.

“Inilah sebabnya anak-anak harus kita lindungi,” Ya sebuah harapan yang tidak terlalu muluk. Walau tak ada diskusi yang panjang soal itu. (RINALDI SYAHRIL DJAFAR)