PALEMBANG,HS – Puluhan mahasiswa Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam, Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang yang tergabung di dalam Gerakan Aksi Solidaritas Mahasiswa (Gasma) menggelar aksi damai di depan Fakultas Ushuludin, Kamis (16/8/2018).
Dalam aksi ini massa menuduh pihak fakultas melakukan Pungutan Liar (Pungli) kepada mahasiswa baru dengan meminta uang sebesar 300 ribu dalam Ikatan Wali Mahasiswa (Iwama)
Selain itu, mahasiswa menuntut pihak rektorat harus menghentikan oknum-oknum yang melakukan intervensi dari
pihak pimpinan universitas, fakultas, beserta dosen terkait adanya larangan
mahasiswa baru untuk ikut organisasi dari semester 1 sampai 3. Adapun juga, pihak fakultas untuk segera Memperbaiki fasilitas yang memadai agar tidak berakibatkan terganggu proses perkuliahan yang ada.
Koordinator aksi Gasma, Muhammad Rusdianto mengatakan, mahasiswa menuntut kepada pihak fakultas Ushuludin untuk menghapuskan pungutan uang dari Iwama karena itu sama saja dengan Pungli yang sangat memberatkan bagi mahasiswa baru.
“Di fakultas lain sudah tidak ada lagi pungutan Iwama sudah dihapuskan tetapi disini dari tahun 2015 sampai sekarang masih dilakukan pungutan. Itu kan sudah ada Uang Kuliah Tunggal (UKT) jadi seharusnya tidak ada lagi pungutan seperti ini,” kata Rusdianto.
Menurutnya, pungutan Iwama ini juga tidak sesuai dengan fasilitas belajar mengajar yang ada di fakultas Ushuludin seperti proyektor rusak, AC tidak berfungsi, tidak ada air di WC, lahan parkir yang kurang, Gedung/Kelas kurang, pelayanan administrasi yg lambat proses, dan pelayanan perpustakaan yg masih minim seperti buku dan waktu kunjungan.
“Uang dari Iwama itu laporannya juga tidak ada dan tidak jelas, fasilitas di kampus juga tidak ada hanya pajangan. Bayangkan saja Mahasiswa Baru ada di fakultas Ushuludin itu ada 326 orang dikali 300 ribu per mahasiswa itu semuanya 97,8 jt. Tetapi fasilitas disini tidak ada,” jelasnya.
Rusdianto menambahkan, pihaknya berharap kepada pihak fakultas untuk segera memperbaiki fasilitas fakultas yang memadai agar tidak berakibatkan terganggu proses perkuliahan.
“Saya berharap fasilitasnya itu segera diperbaiki. Masa kami belajar badan kami basah semua karena kepanasan karena AC, kipas angin dan proyektor dalam kondisi mati hanya pajangan,” harapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ushuludin dan Pemikiran Islam, Alfi Julizun Azwar mengatakan, pihaknya menuduh mahasiswa yang melakukan aksi tersebut itu sudah ditunggangi oleh oknum yang berawal dari permasalahan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang sehingga ditarik ke persoalan Iwama.
Menurutnya, Iwama itu merupakan organisasi indepedent yang merupakan kesepakatan bersama baik itu dalam sisi strukturnya. Mengenai pungutan yang dilakukan, sumbangan Itu sudah kesepakatan bersama tanpa ada paksaan dari manapun.
“Itu tidak adak paksaan dan sudah kesepakatan bersama tanpa intervensi manapun. Kami tidak makan sama sekali uang itu dan mereka ini semua tidak tahu mekanismenya. Kalau mereka mau membubarkan Iwama ini juga silahkan, kami fakultas hanya memfasiltasi dengan arahan kegunaan saja,” kata Alfi.
Mengenai fasilitas yang dipersoalkan, lanjut Alfi, itu semua wewenang dari pihak rektorat. Pihak fakultas hanya mengajukan saja kepada pihak rektorat mengenai fasilitas.
“Fakultas tidak berdaya karena masalah fasilitas itu semua oleh rektorat kalau kami dari fasilitas hanya mengajukan daka ke rektorat dan selanjutnya itu urusan dari rektorat,” pungkasnya.
Area lampiran