Seniman Iir Stoned tampil di acara Sosialiasasi Empat Pilar Kebangsaan di Sekretariat DKP

PALEMBANG, HS – Dia dikenal sebagai  anak dari tokoh kenamaan di Sumatera Selatan, Jenderal Bambang Utoyo. Pergaulannya di dunia seni budaya adalah sepanjang musim. Betapun gamangnya seniman di kota Palembang, Mas Toni—begitu Ir Wasista Bambang Utoyo akrab disapa adalah sang juru damai saudara seniman.

Jumat, 28 Juli 2017 di siang menjelang petang. Tanpa membuang-buang waktu, Mas Toni mendadak datang ke ‘markas’ Dewan Kesenian Palembang (DKP). Di kalangan seniman era 80-an, Mas Toni dikenal orang yang  amat memerhatikan urusan berkesenian. Toni bahkan kerap bercanda ria dengan saudara-saudara seniman di kota ini. Lantaran setiap bicara, suaranya terdengar keras.

“Alhamdulillah saya bertemu kembali dengan sahabat-sahabat lama. Ada FJ Adjong, Anto Narasoma, dan beberapa seniman era 80-an. Dan, yang membuat hati saya bangga, ternyata masih ado yang mau jadi ketua Dewan Kesenian, seperti Vebri Al Lintani. Terimakasih saya diundang ke tempat ini,” kata Mas Toni di depan para pelaku seni di kantor DKP.

Mengenakan kemeja putih sambil duduk di teras sekretariat DKP. Mas Toni tampak menikmati betul suasana sekitar. Kedatangan sosok anggota MPR/DPR RI ke panggung DKP itu bukanlah tanpa alasan. Mas Toni merasa tertantang lebih jauh bagaimana jejak seni dan budaya terkini yang terjadi di Bumi Sriwijaya. Banyak hal yang ia ingin perjuangkan di lini berkesenian.

“Berkesenian itu ada. Tapi, dianggap tiada. Padahal kita mengetahui penyebaran agama dimulai dari sentuhan budaya. Makanya, saya berkeinginan kuat agar seni budaya kita ini lahir serta tumbuh kembang menjadi besar. Masing-masing kita kan punya peranan yang memiliki berbagai kekuatan. Kenapa nama Rendra bisa menjadi besak..?,” tuturnya.

Mas Toni tampak menikmati puisi yang dibacakan oleh seniman Palembang

Di acara dialogis bersama para seniman yang dikemas dalam ‘Sosialiasi Empat Pilar Kebangsaan dan Dialog Seni Budaya 2017’, Mas Toni juga tak lupa mengingatkan bahwa tidak ada orang yang bisa memengaruhi bagaimana keyakinan dari seniman.

“Jadi, seniman itu tidak akan pernah ketemu dengan yang namanya warna partai politik. Dio akan ketemu dewek,” kelakar Mas Toni dengan khas Palembang.

Kendati didera oleh kesibukan sebagai wakil rakyat, namun semangat Mas Toni untuk merawat dan menjaga kelestarian seni budaya tak berkurang. Itu pula sebabnya Mas Toni mempunyai optimisme merekatkan seni budaya dalam sebuah kebhinekaan.

“Boleh ada Undang-undang tentang seni dan budaya, tetapi harusnya disosialisasikan. Saya bersyukur, kami dengan Cholil (staf ahli WBU-red) sekarang sudah masuk ke ranah hortikultura. Tujuannya sejak kecil kita mengenalkan ke anak-anak cucu kita dengan beranekaragam tanaman,” Toni menjelaskan sembari menyantap hidangan jagung rebus, ubi jalar, kacang tanah, dan kuliner yang berbahan baku dari hasil pangan.

Mardiono menyerahkan lukisan untuk Mas Toni

Kagum, berani, dan tangguh. Jalur itu rupanya cukup melekat di nama Wasista Bambang Utoyo. Pun sejarah mencatat perjuangan Mas Toni di dunia berkesenian rupanya cukup membekas bagi kalangan generasi para seniman.

“Dulu era 90-an, kami pernah berlatih tari kolosal bertemakan anak pejuang di kediaman Mas Toni. Kami juga pernah belajar bagaimana memerankan ‘Perang 5 Hari 5 Malam’. Barangkali perjuangan itu tidak akan pernah lupa, Mas…!,” ungkap Vebri Al Lintani, Ketua DKP.

Tak sampai di situ, kala itu Vebri pun bersama rekan-rekan seniman lainnya bahkan coba bersicepat mengibarkan ‘bendera’ seni budaya di kota ini.

“Kita sungguh beruntung ada sosok yang bisa diajak untuk peduli dengan seni seperti Mas Toni. Yang gemar mengarungi luasnya persoalan berkesenian. Menerjang ombak tiada takut. Menempuh badai sudah biasa,” ujar Vebri.

Lanjut Vebri, satu sisi di dunia nyata persoalan hidup seniman sedang megap-megap. “Semoga tatanan berkesenian di kota Palembang tidak tenggelam dalam nostalgia dan lupa akan pentingnya arti sesungguhnya sebuah perjuangan untuk seni dan budaya,” ia berkisah.

Dalam diskusi terbatas bersama Mas Toni, ada banyak persoalan klasik yang tersimpan di ‘sangkar emas’ saudara seniman. Bahkan, ada yang mempertanyakan keberadaan Benteng Kuto Besak, percepatan Perda seni dan budaya, minimnya anggaran untuk pelaku seni, hingga soal karya seniman yang tak pernah habis-habisnya.

“Mas Toni, saya ini anak perantau dari negeri Kota Batam, Kepulauan Riau. Bila saya bandingkan dengan tanah kelahiran saya, sangat menyedihkan nasib kantor DKP ini. Sampai-sampai saya berpikir ini kantor atau tempat umum..? Jauh sekali dengan apa yang terjadi di negeri kami, Mas Toni,” ucap Ami peserta dialog, yang pernah mewakili Sumatera Selatan di acara Dendang Melayu tahun 2015.

Peserta dialog pun sempat terdiam sejenak usai mendengarkan perbincangan Ami. “Jawabannya hanya satu, tolong libatkan saya di organisasi seniman ini. Karena saya sudah terlanjur cinta dengan seni dan budaya,” cetus Mas Toni yang disambut tepuk tangan meriah dari hadirin.

Memang, bercerita soal perjalanan dari saudara seniman di kota Palembang seperti keris yang tak pernah bertemu tutupnya. Perumpaman ini akan klop. Bila mana saudara-suadara seniman terus bersatu, berdaya, dan berkarya. (RINALDI SYAHRIL DJAFAR)