Nanjing, HS – Untuk melindungi klaim dari negara lain, mahasiswa Indonesia di China ingin memberikan perhatian lebih terhadap Seni dan Budaya Bangsa. Sebagai kekayaan yang ternilai, mahasiswa tanah air yang tengah berada di negeri Tirai Bambu merasa bertanggungjawab untuk melestarikan seni dan budaya.

Sebagai upaya pelestarian,Perhimpunan Pelajar Indonesia Tiongkok (PPIT) Nanjing telah menyelenggarakan Pagelaran Seni dan Budaya Nusantara di Wanda Plaza Jiangning dan Wanda Plaza Jiqingmendajie, China. Pagelaran ini diselenggarakan selama dua hari, 30 April-1 Mei 2018.

Pada hari pertama di Wanda Plaza Jiangning, pagelaran mengambil tema Fashion and Art Festival. Sementara di hari kedua, di Wanda Plaza jiqingmendajie, pagelaran seni dan budaya bertemakan Traditional Culture Performance.

“Acara ini bertujuan untuk memperkenalkan keragaman budaya Indonesia kepada masyarakat China, Khususnya di Nanjing. Kegiatan ini telah berjalan sukses dan mendapatkan sambutan yang sangat meriah dari pemerintah dan masyarakat China,” kata Ketua PPIT Nanjing, Aris Munandar.

Acara ini dibuka KONJEN RI, Ketua PPIT Nanjing Aris Munandar dan Ketua pelaksana acara Nusantara Dewangga Tri Wandana. Pagelaran juga dihadiri tamu-tamu terhormat.

Mulai dari Kementrian Pariwisata Indonesia, Konsulat Jenderal Republik Indonesia Tiongkok Shanghai, Direktur Diaspora Tiongkok – Nanjing, Wanda Group, Nacham, Anggara Bridal, dan AT Project.

Acara Pagelaran Seni dan Budaya ini diawali dengan membuka stand-stand bertema “7 Wonders” dengan memperkenalkan keberagaman budaya dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi, Papua, dan Bali.

Di 7 Wonders ini kalangan masyarakat China sangat tertarik berkunjung. Di dalam stand sangat bernuansa layaknya di Indonesia dengan memamerkan foto-foto dan barang-barang dari Indonesia. Selain itu, acara Pagelaran Seni dan Budaya ini juga membuka workshop membatik.

Pada hari pertama, acara dimulai pada jam 13:00 waktu setempat, berlangsung selama hampir 5 jam. Beberapa seni budaya yang ditampilkan antara lain tarian kreasi dan modern dengan tidak lepas dari unsur-unsur kebudayaan Indonesia.

Seperti Tari Ratoe Jaroeh, Skylight Acapella Yangzhou, Beatbox, Akustik Xiaozhuang, Tari kreasi sajojo NIRT, INK Crew NUIST, dan Tari Kecak. Acara ini juga dimeriahkan parade kostum Indonesia dari Anggara Bridal, dan parade kostum dari 7 Wonders.

Dari pagelaran ini, bukan hanya masyarakat China yang sangat terkesan, namun juga anak-anak Indonesia. Agar semakin semarak, panitia penyelenggara turut mengadakan doorprize tiket pesawat Indonesia-Nanjing secara gratis.

“Tiket ini untuk pulang pergi secara gratis dari Xianmen air,” ujar Aris.

Hari pertama ditutup dengan sangat seru dan meriah yaitu menari Gemufamire  dan dangdutan bersama seluruh para perfomance. Sementara di hari ke-2 acara dimulai pada sore hari.

Berbeda dengan hari pertama, di hari ke-2 ini seluruh penampilan bertema secara Tradisional. Dibuka dengan Tarian dari Sumatera, Ratoe Jaroeh, Cewang dan Badindin, dan dilanjutkan dengan penampilan dari Jawa, yaitu Anggulung omyak ing kahanan dan penampilan angklung.

Dari Kalimantan ada tarian Japen dan Dayak, Nusa Tenggara menyajikan penampilan Tarian Gemufamire dan Vocal Group, Sulawesi menampilkan Tarian Mappadendang, dari Papua menampilkan nyanyian Yamko Rambe Yamko dan Tari kreasi Papua, dan terakhir ada penampilan dari BALI yaitu Tari Kecak.

Hari kedua ini juga tidak kalah ramai dan meriah. Penonton sangat menikmati tampilan-tampilan yang ada di acara Nusantara ini. Hari kedua ditutup tidak kalah seru dengan hari pertama yaitu dangdutan bersama seluruh Perfomance dan Panitia.

“Meskipun raga kami di China tetapi hati kami tetap satu yaitu Indonesia. Inti dari acara ini selain memperkenalkan seni dan budaya Indonesia, kami para pelajar Indonesia juga bisa mempererat rasa kesatuan, walaupun kami berbeda suku, ras dan agama, tapi kami tunjukkan, kami tetap satu, kami Indonesia,” ujarnya.