shutterstock_127839554PALEMBANG,HS – Kurangnya Sosialisasi atas Program asuransi pertanian atau perlindungan tanaman yang dilakukan Dinas Pertanian Dan Holtikultura provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) berakibat pada kurangnya minat para petani sumsel untuk mengikuti program tersebut.

“Program asuransi pertanian atau perlindungan tanaman adalah program asuransi pertanian atau perlindungan tanaman yang sudah dijalankan pihaknya sejak 2015 lalu masih kurang peminatnya. Serta tahun ini baru 15 ribu hektar sawah yang diasuransikan padahal jumlahnya 1 juta hektar,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura Provinsi Sumsel, Erwin Noorwibowo saat diwawancarai diruang kerjanya, jumat (18/11)

Dia menjelaskan. Kurangnya peminat dari program tersebut dinilai pihaknya karena kurangnya sosialisasi. Akibat kurangnya sosialisasi ini membuat para petani ragu dengan program asuransi pertanian ini.

Pihaknya juga sangat menyayangkan minimnya peminat para petani, padahal program asuransi pertanian ini sangat bagus karena para petani tidak perlu lagi merasa khawatir jika mengalami gagal panen atau tanaman padinya rusak minimal 70 persen.

“Jika petani yang mengasuransikan sawahnya mengalami gagal panen maka petani itu akan mendapatkan ganti rugi sebesar Rp6 juta per hektar. Untuk kerusakan tanaman itu bisa diakibatkan hama maupun bencana, seperti kekeringan dan banjir,” ujarnya.

Lebih lanjut diungkapkannya, untuk dapat mengikuti program asuransi pertanian ini sendiri, para petani hanya perlu membayar premi sebesar Rp36 ribu perhektar tiap musim tanam.
“Melihat masih banyak lahan sawah yang belum diasuransikan, saya menghimbau seluruh petugas dan penyuluh di kabupaten/kota agar mensosialisasikan program ini. Bahkan, pada 2017 mendatang, program ini kami prioritas,” ungkap Erwin.

Erwin menambahkan, selain program asuransi pertanian pihaknya juga memiliki program benih subsidi. “Program benih subsidi ini juga akan kami prioritaskan pada 2017 nanti,”tegasnya.(MDN)