14037666_1240551705979227_527266311_o

PALEMBANG,HALUAN SUMATERA -Paham radikal dan terorisme masuk lewat salahnya pemikiran dan pemahaman terhadap nilai ideologi dan keagamaan yang tanpa disadari, merasuk dalam pemahaman keagamaan para remaja, yang sudah menjadi target radikalisme dan terorisme.

Hal itu dikatakan Sekretaris Forum koordinasi pencegahan terorisme (FKPT) Provinsi Sumsel, DR. Periansyah kepada wartawan kemarin, di sela-sela Dialog pelibatan Dai pada program Islam Damai Untuk Pencegahan Paham Radikal dan Terorisme di Provinsi Sumatera Selatan di Gedung Grand Atyasa.

Menurut dia, remaja sebagai target utama paham radikalisme dan terorisme, terlebih mahasiswa yang berada di lingkungan Perguruan Tinggi Negeri atau umum yang secara ideologis labil. “Data kita menunjukkan memang terjadi peningkatan paham radikal ini di 3 Perguruan Tinggi Negeri di Sumsel,” Periansyah.

Menurut Peri, peningkatan ini sebenarnya tidak terlalu mengkhawatirkan, karena di Sumsel hampir sebenarnya hampir tidak terjadi gerakan sporadis yang mengarah pada aksi terorisme. Meski hal tersebut tetap harus diwaspadai, karena terjadi pergeseran pola pemikiran dan pemahaman dalam tindakan beragama dan aplikasinya pada ideologi pemikiran. “Baru sebatas pemikiran saja. Dan alhamdulillah di Sumsel ini aman. Tapi kita tetap melakukan pencegahan karena itulah tugas kami,” paparnya.

Sementara itu, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Brigjen Pol Drs Hamidin mengatakan, Radikalisme dan terorisme selalu menjadi ancaman untuk Indonesia, karena Indonesia menyimpan sejarah kelam pertumbuhan kelompok-kelompok berhaluan keras, seperti DI, NII dan kemudian JI. Khusus untuk JI (Jamaah Islamiyah), kelompok ini memiliki afiliasi dengan Al Qaedah. “Saat ini, ancaman terorisme muncul dalam wajah ISIS, kelompok yang mendaku diri sebagai pemegang Islam yang sesungguhnya itu melakukan berbagai cara –termasuk bujuk rayu dan propaganda– agar masyarakat mau bergabung dan kemudian melakukan aksi kekerasan,”kata dia.